Breaking

Melesat 35 persen ke ARA, Ini Profil dan Lini Bisnis Emiten NICE

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 27 Agustus 2026
Melesat 35 persen ke ARA, Ini Profil dan Lini Bisnis Emiten NICE
Ilustrasi Saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) melesat 35 persen hingga menyentuh Auto Rejection Atas (ARA). (sumber gambar: NET)

JAKARTA – Saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) kembali menjadi perhatian investor setelah mencatat penguatan tajam pada perdagangan pekan ini. Pada Rabu (26 Agustus 2026), saham NICE bahkan melesat 35 persen ke level Rp340 per saham dan masuk jajaran saham yang menyentuh Auto Rejection Atas (ARA).

Apabila menggunakan pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir, penguatan NICE memang cukup agresif. Namun, klaim kenaikan 50 persen dalam satu pekan perlu disesuaikan dengan periode perdagangan yang digunakan.

Data BEI menunjukkan NICE mencatat kinerja 5 hari sekitar 50 persen, sementara kenaikan perdagangan sesi 1 hari ini Kamis (27/8) mencapai sekitar 18 persen.

PT Adhi Kartiko Pratama Tbk merupakan perusahaan yang bergerak terutama di sektor pertambangan bijih nikel. Perseroan didirikan pada 2008 dan mulai beroperasi secara komersial pada 2013. Saham NICE resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 9 Januari 2024.

Perseroan berkantor pusat di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dari sisi bisnis, NICE berada dalam rantai industri nikel yang menjadi salah satu komoditas penting dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan industri baterai.

Berdasarkan data perusahaan yang tersedia, NICE memiliki sekitar 877-939 karyawan, dengan Chang Pyo Hong sebagai Direktur Utama.

Bisnis utama NICE adalah pertambangan bijih nikel. Selain aktivitas pertambangan, perseroan juga memiliki kegiatan usaha pendukung yang berkaitan dengan rantai industri dan logistik pertambangan. Beberapa lini usaha yang tercantum antara lain:

  • Pertambangan bijih nikel
  • Jasa pelabuhan dan terminal
  • Pengelolaan fasilitas dermaga dan kegiatan bongkar muat
  • Jasa kawasan industri
  • Jasa pengujian analisis dan teknis
  • Kegiatan pendukung transportasi dan logistik komoditas

Dengan model tersebut, NICE tidak hanya mengandalkan aktivitas penambangan, tetapi juga memiliki sejumlah kegiatan penunjang yang berhubungan dengan ekosistem pertambangan dan pengiriman komoditas.

Melansir data BEI, kinerja NICE hingga semester I 2026 menunjukkan adanya pertumbuhan positif. Perseroan membukukan pendapatan Rp1,01 triliun hingga 30 Juni 2026, melonjak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp478,14 miliar.

Dengan demikian, pendapatan meningkat sekitar 111,7 persen secara tahunan. Pertumbuhan pendapatan tersebut juga diikuti peningkatan laba bruto, yang mencapai Rp274,60 miliar, naik dari Rp132,87 miliar pada semester I 2025.

Berikut ringkasan kinerja keuangan NICE:

  • Pendapatan: Rp1,01 triliun (Semester I 2026) vs Rp478,14 miliar (Semester I 2025), naik +111,7%
  • Beban pokok pendapatan: Rp735,79 miliar (Semester I 2026) vs Rp345,26 miliar (Semester I 2025), naik +113,1%
  • Laba bruto: Rp274,60 miliar (Semester I 2026) vs Rp132,87 miliar (Semester I 2025), naik +106,7%
  • Laba sebelum pajak: Rp223,24 miliar (Semester I 2026) vs Rp123,77 miliar (Semester I 2025), naik +80,4%
  • Laba yang diatribusikan kepada pemilik: Rp170,14 miliar (Semester I 2026) vs Rp94,10 miliar (Semester I 2025), naik +80,8%
  • Angka tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan NICE tidak hanya berasal dari kenaikan penjualan, tetapi juga mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang signifikan. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik sekitar 80,8 persen menjadi Rp170,14 miliar.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua