JISDOR Bukan Kurs Jual-Beli di Bank, Ini Fungsi dan Cara Hitungnya
TEROPONGBISNIS.ID — Bank Indonesia telah menerbitkan JISDOR sejak 20 Mei 2013 sebagai kurs referensi USD/IDR. Data dihimpun dari transaksi valuta asing yang dilaporkan perbankan melalui sistem pemantauan transaksi Bank Indonesia, lalu diolah menjadi satu angka yang merepresentasikan kondisi pasar pada hari tersebut.
Fungsi utamanya adalah memberi standar tunggal untuk membaca pergerakan rupiah. Tanpa referensi ini, sulit menyimpulkan arah nilai tukar karena harga di pasar valuta asing bisa berbeda-beda pada waktu yang sama.
Perbedaan JISDOR dengan Kurs di Bank
JISDOR bukan harga yang otomatis berlaku saat menukar uang di bank atau aplikasi keuangan. Bank dan penyedia layanan keuangan bebas menetapkan kurs jual dan kurs beli masing-masing, yang biasanya lebih lebar dari JISDOR untuk menutup biaya operasional dan margin.
Kurs transaksi tersebut dipengaruhi faktor likuiditas, jumlah penukaran, dan kebijakan internal bank. Karena itu, wajar jika angka di papan kurs berbeda dengan JISDOR pada hari yang sama.
Bagaimana JISDOR Dibentuk?
Prosesnya dimulai dari transaksi spot USD/IDR yang benar-benar terjadi antarbank. Transaksi spot adalah pertukaran mata uang dengan penyelesaian singkat sesuai ketentuan pasar. Data transaksi itu dikumpulkan dan diolah untuk menghasilkan nilai tukar yang dianggap representatif.
Misalnya, jika JISDOR berada di level Rp17.700 per dolar AS, angka itu menunjukkan satu dolar AS bernilai Rp17.700 secara referensi. Angka ini mencerminkan permintaan dan penawaran riil di pasar, bukan harga yang hanya ditawarkan.
Membaca Pergerakan Rupiah
Perubahan JISDOR dari satu hari kerja ke hari berikutnya kerap dipakai pelaku pasar untuk membaca arah pergerakan rupiah. Ketika permintaan dolar AS meningkat, nilai USD/IDR naik dan rupiah melemah. Sebaliknya, saat tekanan dolar berkurang, nilai USD/IDR turun.
JISDOR juga menjadi patokan dalam berbagai aktivitas keuangan yang membutuhkan referensi USD/IDR, seperti penilaian aset, perhitungan impor, atau pelaporan keuangan perusahaan.
Namun, penggunaannya sebagai referensi tidak berarti seluruh transaksi dolar harus mengikuti angka tersebut. Pelaku pasar tetap bisa melakukan transaksi pada kurs yang disepakati kedua belah pihak.
Memahami perbedaan antara kurs referensi dan kurs transaksi menjadi kunci agar tidak keliru membaca kondisi nilai tukar. JISDOR memberi gambaran kondisi pasar secara umum, sementara kurs di bank mencerminkan harga yang berlaku untuk transaksi spesifik.