Breaking

Prediksi Harga Emas Pekan Depan Berpotensi Tembus US$4.766 per Troy Ons

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Minggu, 23 Agustus 2026
Prediksi Harga Emas Pekan Depan Berpotensi Tembus US$4.766 per Troy Ons
Ilustrasi emas dunia (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga emas dunia diproyeksikan memiliki peluang untuk menembus level resisten tertinggi pada angka US$4.766/troy ons pada pekan mendatang. Kenaikan tersebut berpotensi mengerek harga logam mulia di dalam negeri hingga mencapai Rp2.864.000 per gram.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rentang pergerakan harga emas pekan depan berada pada level support US$4.437/troy ons sampai titik tertinggi US$4.766/troy ons.

“Dalam pekan depan harga emas dunia kemungkinan besar akan ditransaksikan di US$4.437/troy ons, kemudian resistance-nya itu adalah US$4.766/troy ons,” ungkap Ibrahim, Minggu (23/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ibrahim menerangkan pergerakan ini dipengaruhi oleh perkiraan indeks dolar AS yang bergerak pada kisaran support 98,00 dan resistance 100,20. Pada saat bersamaan, harga minyak mentah jenis WTI diperkirakan ada di level US$83 dengan batas resistance US$89 per barel, atau meningkat sekitar US$6.

Sementara itu, posisi harga emas dunia berada di level US$4.604/troy ons pada penutupan perdagangan Sabtu pagi.

Ibrahim menyampaikan, apabila mengalami koreksi pada Senin (24/8/2026) harga diproyeksikan menyentuh batas support pertama di US$4.520/troy ons, sebelum bergerak menuju support mingguan di level US$4.437/troy ons.

“Kemudian kalau seandainya harga emas dunia mengalami kenaikan, ya, resistance pertama itu di US$4.676. Kemudian dalam sepekan, ya, harga emas dunia itu di US$4.766,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lonjakan harga emas global tersebut turut mendorong kenaikan harga logam mulia di pasar dalam negeri.

Setelah berada di level Rp2.746.000 per gram pada Sabtu (22/8/2026) pagi, harga emas Antam berpotensi terkoreksi ke level support pertama Rp2.726.000 per gram dan support kedua Rp2.600.000 per gram.

Sebaliknya, jika bergerak menguat, harga dapat mencapai resistance pertama Rp2.764.000 per gram hingga menguji target mingguan Rp2.864.000 per gram.

“Jadi kesimpulannya kalau harga logam mulia pekan depan itu ditransaksikan di Rp2.600.000 sampai di Rp2.864.000,” kata dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ibrahim juga memaparkan bahwa tren penguatan harga emas dan logam mulia dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik, kebijakan fiskal AS, serta lonjakan permintaan emas fisik pada kuartal ketiga.

Di sektor geopolitik, ketegangan di Timur Tengah kian memanas seiring rencana AS menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran pada Senin mendatang. Kebijakan ini memicu kekhawatiran karena China—sebagai pengimpor 80 persen minyak mentah Iran—berpotensi terdampak.

Ditambah lagi, potensi penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz oleh Iran serta keterlibatan Turki pascaserangan Israel ke wilayah Suriah makin memperkeruh kondisi pasar. Di Eropa Timur, konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina yang belum mereda terus menambah ketidakpastian global.

Faktor pendorong utama lainnya bersumber dari kebijakan ekonomi domestik AS. Lonjakan utang pemerintah mendorong Kementerian Keuangan AS mengerek volume buyback obligasi jangka panjang (tenor 10 dan 30 tahun) dari US$2 miliar menjadi US$4 miliar, bahkan berpotensi menembus lebih dari US$4 triliun.

Langkah buyback tersebut menekan tingkat yield obligasi AS, sehingga mendorong para investor mengalihkan dana mereka ke instrumen aset aman atau safe haven seperti emas.

“Sehingga ini dimanfaatkan oleh para investor untuk kembali melakukan pembelian terhadap ini, ya, terhadap apa, logam mulia, ya, sebagai safe haven,” pungkas dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua