Breaking

Kinerja JPFA Ditekan Harga Ayam Indo Premier Tetap Rekomendasi Beli

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Minggu, 23 Agustus 2026
Kinerja JPFA Ditekan Harga Ayam Indo Premier Tetap Rekomendasi Beli
Ilustrasi ayam broiler (FOTO : NET)

JAKARTA – Pelemahan harga ayam broiler dan day-old chick (DOC) sepanjang kuartal II-2026 sempat menghambat laju kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Kendati demikian, Indo Premier Sekuritas menilai kondisi tersebut cuma berlangsung sementara serta tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk saham JPFA lewat target harga Rp 3.400 per saham.

Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra dalam riset 20 Agustus 2026 berpandangan bahwa prospek JPFA tetap menjanjikan lantaran performa perseroan diproyeksikan bangkit pada semester II-2026. Tren pemulihan ini utamanya bakal didorong oleh penguatan harga DOC dan broiler serta bergulirnya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Langkah optimis tersebut diambil walaupun capaian pada kuartal II-2026 belum sepenuhnya sesuai target. JPFA meraup laba bersih sejumlah Rp 659 miliar pada kuartal II-2026, atau tumbuh 18,6% secara tahunan.

Akan tetapi, pencapaian itu baru menyerap 16% dari target Indo Premier dan 15% dari konsensus, yang mana angka ini lebih rendah dibanding rata-rata tiga tahunan sebesar 21%.

Hambatan pada kuartal II mayoritas bersumber dari divisi DOC dan broiler. Harga jual DOC mengalami penurunan sebesar 24,6% secara kuartalan, sedangkan harga broiler menyusut 16,2%.

Di lini bisnis broiler, tekanan harga bahkan memicu margin EBIT JPFA merosot ke zona negatif di level -6,5% pada kuartal II-2026, berbalik dari posisi positif 10,1% di kuartal sebelumnya. Indo Premier menaksir titik impas (break-even point/BEP) unit broiler JPFA berada pada kisaran Rp 19.100 per kilogram, sementara rata-rata harga broiler sepanjang kuartal II hanya menyentuh Rp 18.900 per kilogram.

Sektor DOC turut tertekan cukup dalam. Margin EBIT menyusut jadi 21,4%, tergerus hingga 779 basis poin secara kuartalan dipicu oleh kemerosotan harga DOC.

Pada waktu bersamaan, margin di divisi pakan ternak terkoreksi tipis menjadi 9,5%, atau susut 15 basis poin secara kuartalan. JPFA dinilai belum sanggup meneruskan lonjakan beban input secara menyeluruh kepada pembeli, salah satunya akibat harga soybean meal (SBM) yang melonjak 9% secara kuartalan.

Di luar hambatan pada kuartal II, raihan kinerja JPFA secara menyeluruh sepanjang semester I-2026 nyatanya masih berada di atas perkiraan.

JPFA berhasil membukukan laba bersih hingga Rp 2,5 triliun pada semester I-2026, melambung 100% YoY. Perolehan tersebut telah menutupi 59% dari estimasi Indo Premier dan 56% dari konsensus, melampaui rata-rata tiga tahunan yang berada di kisaran 49%.

Capaian positif ini utamanya ditopang oleh tingginya perolehan keuntungan pada kuartal I-2026.

Mengenai omzet, JPFA mencatatkan nilai penjualan sebesar Rp 35,4 triliun sepanjang semester I-2026, atau meningkat 28,7% YoY. Hasil ini setara dengan 53% dari proyeksi Indo Premier, di atas rerata tiga tahun sebesar 48%.

Tingkat profitabilitas perseroan juga mencatatkan perbaikan. Gross profit margin (GPM) terangkat menjadi 14%, atau naik 153 basis poin YoY.

Rasio biaya operasional terhadap penjualan membaik di posisi 7,1%, alias turun 31 basis poin. Dengan demikian, margin EBIT merangkak naik ke level 6,9%, bertambah 183 basis poin secara tahunan.

Di tengah lesunya lini bisnis DOC dan broiler, divisi makanan olahan justru menunjukkan tren positif. Margin EBIT pada segmen tersebut naik menjadi 6,1%, terangkat 140 basis poin secara kuartalan.

Langkah perbaikan tersebut ditopang oleh melandainya biaya input, termasuk pelonggaran harga broiler sebesar 16,2% secara kuartalan.

Andrianto berpendapat bahwa tekanan performa pada kuartal II-2026 sebagian besar sudah terefleksi pada pergerakan saham JPFA. Terbukti dalam kurun tiga bulan terakhir, pergerakan saham JPFA telah mengalami koreksi berkisar 15%.

Oleh sebab itu, Indo Premier menaksir ruang pemulihan kinerja pada semester II berpotensi menjadi pendorong bagi pergerakan saham JPFA. Selain proyeksi membaiknya harga DOC dan broiler, berjalannya kembali program MBG dipandang dapat menyuplai dukungan ekstra bagi permintaan pasar.

Berdasarkan pertimbangan itu, Indo Premier memutuskan untuk mempertahankan rekomendasi BUY lewat target harga Rp 3.400 per saham. Target ini dihitung berdasarkan acuan valuasi 9,5 kali PE tahun 2026, yang setara dengan rata-rata PE lima tahunan milik JPFA.

Adapun harga saham JPFA ditutup pada level Rp 2.210 per saham, tergerus 1,78% dari hari sebelumnya pada Jumat (21/8/2026).

Walau demikian, para investor diimbau untuk tetap waspada terhadap sejumlah faktor risiko. Indo Premier menggarisbawahi risiko kenaikan biaya input akibat fenomena El Niño, pelemahan harga DOC dan broiler, hingga fluktuasi nilai tukar USD/IDR sebagai pemicu yang berpotensi menekan kinerja JPFA serta memengaruhi target harga tersebut.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua