Breaking

Risiko Pasokan Meningkat Minyak WTI Stabil di Sesi Eropa

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 20 Agustus 2026
Risiko Pasokan Meningkat Minyak WTI Stabil di Sesi Eropa
Ilustrasi minyak mentah (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bergerak mengambang setelah mengalami kenaikan selama tiga hari berturut-turut, lalu berada pada kisaran US$84,50 per barel pada perdagangan sesi Eropa hari Rabu. Angka minyak mentah ini tetap terjaga seiring perselisihan geopolitik yang terus berlanjut antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam memicu kekhawatiran pasar terkait pasokan global.

Nilai minyak mentah berpotensi merangkak naik karena pelaku pasar cenderung berhati-hati merespons minimnya sinyal potensi kesepakatan damai demi mengakhiri bentrokan serta membuka kembali Selat Hormuz secara menyeluruh. Presiden AS Donald Trump memastikan blokade angkatan laut AS masih berlaku, seraya menyatakan bahwa saat ini tidak ada proses negosiasi aktif dengan Teheran.

Meskipun laporan resmi mengklaim perairan tersebut sudah dapat dilalui dan ranjau berhasil dibersihkan, tingkat risiko pengiriman tetaplah tinggi hingga jalur perlintasan kawasan itu terpantau amat dibatasi. Militer Iran terus mengintensifkan operasinya sepanjang pekan lalu, yang menambah deretan laporan penyerangan kapal di Selat Hormuz menjadi delapan kali sepanjang bulan ini.

Rentetan kejadian ini menyasar kapal-kapal yang terhubung dengan Arab Saudi serta Uni Emirat Arab, sehingga sangat mengacaukan lalu lintas maritim di wilayah tersebut. Data pada hari Rabu mengindikasikan penurunan drastis pada aktivitas pengiriman di jalur vital tersebut, berdasar pada langkah mayoritas pemilik kapal yang memilih menghindar akibat nihilnya kepastian pencabutan blokade.

Mengantisipasi hal itu, kabinet Irak pada hari Selasa merestui skema ekspor anyar yang memberikan ruang bagi negara tersebut untuk mengalirkan minyak mentahnya via entitas internasional maupun lokal khusus melalui rute ekspor pengganti.

Tim strategi makro Deutsche Bank menegaskan bahwa, "sementara semua itu berlangsung, masih belum ada tanda-tanda negosiasi apa pun untuk membuka kembali Selat Hormuz," sebagaimana dilansir dari berita sumber, sebuah dinamika yang mereka perkirakan bakal memperkokoh tren kenaikan secara perlahan pada kontrak berjangka Brent di sepanjang kurva, sekaligus memicu risiko durasi biaya energi tinggi yang lebih panjang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua