Breaking

Lonjakan Permintaan AI Dorong Samsung Naikkan Harga Layanan Chip

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 19 Agustus 2026
Lonjakan Permintaan AI Dorong Samsung Naikkan Harga Layanan Chip
Ilustrasi samsung (FOTO : NET)

JAKARTA – Samsung Electronics mengambil langkah menaikkan tarif layanan manufaktur chip kontrak atau foundry sebesar 10% hingga 15% pada pesanan baru. Kebijakan ini diterapkan seiring kian ketatnya kapasitas produksi chip canggih secara global akibat lonjakan kebutuhan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Dua sumber internal menyebutkan bahwa momentum penyesuaian harga ini sangat berharga bagi divisi foundry Samsung untuk bangkit setelah bertahun-tahun tertekan oleh persaingan TSMC. Tingginya permintaan dari pasar China menjadi salah satu pendorong utama, meski Samsung belum sanggup memenuhi seluruh permintaan karena harus membagi kapasitas untuk klien Amerika Serikat (AS) serta kebutuhan internalnya.

Pelanggan dari wilayah China mendapat pemberlakuan kenaikan harga yang paling signifikan. Situasi ini mengindikasikan bahwa pengetatan ekspor mesin pembuat chip dari AS membuat perusahaan asal China kian bergantung pada pabrik semikonduktor di luar negeri.

Penyesuaian tarif Samsung ini mulai berjalan sejak Juli 2026, khususnya bagi produk chip berbasis arsitektur 4 nanometer (SF4). Kenaikan untuk pemesan asal China serta AS berkisar antara 10%-15% dibanding bulan sebelumnya, sementara klien asal Taiwan mengalami penyesuaian harga sebesar 5%-10%.

Selain itu, biaya pemrosesan wafer dengan teknologi SF5 5 nanometer turut melonjak 10%-15%. Sementara untuk arsitektur 8 nanometer yang lebih lama, harga pemesanannya merangkak naik mendekati angka 10%.

Samsung sendiri memilih tidak memberikan tanggapan resmi mengenai perubahan skema harga tersebut. Kebijakan ini menjadi titik balik penting bagi unit bisnis foundry Samsung yang diproyeksikan terus mengalami kerugian sejak tahun 2022.

Langkah ini diambil di tengah upaya Samsung mengejar ketertinggalan pangsa pasar dari TSMC. Meskipun secara keseluruhan Samsung mencetak rekor keuntungan berkat melambungnya penjualan chip memori untuk sistem AI, divisi foundry-nya masih tertinggal jauh.

Berdasarkan data Counterpoint pada kuartal I-2026, Samsung hanya menguasai sekitar 7% pendapatan foundry global, sangat jauh bila dibandingkan dengan TSMC yang memegang lebih dari 70%. Akan tetapi, terserapnya kapasitas produksi TSMC oleh pesanan chip AI memberikan ruang bagi Samsung untuk menaikkan nilai tawar harganya.

Pihak Samsung menargetkan bahwa manufaktur chip canggih akan menyumbang lebih dari separuh pendapatan unit foundry pada 2026. Sementara sektor AI dan komputasi berkinerja tinggi (HPC) diproyeksikan berkontribusi di atas 30%, naik drastis dari angka 15%-20% di akhir 2025.

Lee Min-hee, seorang analis dari BNK Investment & Securities di Seoul, mengungkapkan bahwa terbatasnya kapasitas TSMC membuat para klien mencari opsi pabrikan lain.

"Ketika TSMC menghadapi kapasitas yang ketat dan menaikkan harga, pelanggan beralih ke pesaing seperti Samsung dan Intel, sehingga mendorong Samsung untuk menaikkan harganya juga," kata Lee sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia juga menambahkan bahwa tren kenaikan harga ini berpotensi mempercepat pemulihan finansial unit foundry milik Samsung.

"Jika Samsung menaikkan harga mulai dari sini, bisnis foundry-nya berpotensi menjadi menguntungkan paling cepat tahun depan, lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya," ujar Lee sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut sumber internal, lini manufaktur SF4 di Pyeongtaek, Korea Selatan, telah berjalan dengan kapasitas maksimal sejak akhir tahun lalu. Fasilitas ini memproduksi chip logika untuk klien besar seperti Qualcomm, sekaligus membuat base die yang diperlukan pada chip high-bandwidth memory (HBM) multilapis Samsung.

Pihak Samsung pada Juli lalu menyatakan optimismenya bahwa divisi foundry akan kembali meraup keuntungan dalam waktu dekat. Pemulihan ini didorong oleh naiknya tingkat penggunaan pabrik, peningkatkan keberhasilan produksi (production yield), serta harga jual yang lebih tinggi.

Samsung memperkirakan bahwa peningkatan pemesanan dari klien utama AS dan China, ditambah permintaan base die HBM, dapat mendongkrak pendapatan foundry hingga tumbuh lebih dari dua digit pada paruh kedua tahun 2026 jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Keberhasilan membenahi tingkat hasil produksi juga membuat Samsung kian memikat bagi para raksasa teknologi. Tesla dan Apple tercatat telah menjalin kesepakatan produksi chip dengan Samsung sejak tahun lalu.

Pada Juli 2026, Samsung mengamankan kontrak pembuatan chip AI bersama Broadcom. Di samping itu, CEO Nvidia Jensen Huang pada Maret lalu mengungkapkan bahwa Samsung akan memproduksi prosesor AI generasi terbaru milik Nvidia untuk kebutuhan inference.

Google juga dilaporkan sedang bernegosiasi dengan Samsung untuk memproduksi chip menggunakan node SF4. Dinamika ini memperlihatkan bahwa perebutan pasar foundry global sedang memasuki babak baru, di mana lonjakan kebutuhan AI memberi ruang bagi Samsung untuk memperbaiki kinerja bisnisnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua