Tembaga Mendekati Rekor Tertinggi di Tengah Pasokan yang Sangat Ketat
JAKARTA – Tembaga diperdagangkan stabil di atas US$14.000 per ton dan mendekati rekor tertinggi akibat penimbunan stok terkait tarif di AS serta ketatnya pasar fisik regional. Pihak ING menyoroti rendahnya persediaan, terbatasnya pasokan tambang, dan gangguan produksi sebagai penopang utama harga, meski kekecewaan terhadap langkah tarif AS dapat memicu konsolidasi.
"Tembaga diperdagangkan mendekati rekor tertinggi, dengan harga LME diperdagangkan dengan nyaman di atas $US$14.000 per ton di tengah penimbunan terkait tarif ke AS dan kondisi fisik yang semakin ketat di luar negara tersebut. Kenaikan terbaru ini juga didorong oleh laporan bahwa DRC telah bergerak untuk membatasi ekspor konsentrat tembaga. Meskipun berita utama awalnya memunculkan kekhawatiran atas pasokan, dampaknya terhadap pasar olahan kemungkinan akan terbatas mengingat sebagian besar tembaga DRC diekspor sebagai katoda, bukan konsentrat," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Meski begitu, berita tersebut memperkuat latar belakang pasar yang sudah bullish, yang ditandai oleh persediaan yang rendah, ketersediaan konsentrat yang ketat, dan gangguan pasokan yang masih berlangsung," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Fundamental Tembaga tetap mendukung. Pasar fisik yang ketat, persediaan yang rendah, dan pasokan tambang yang terbatas seharusnya terus mendukung harga. Dengan Tembaga diperdagangkan mendekati rekor tertinggi, kekecewaan apa pun atas langkah tarif AS dapat memicu periode konsolidasi," sebagaimana dilansir dari berita sumber.