Breaking

Rupiah Melemah Pagi Ini Saat Mayoritas Mata Uang Asia Bergerak Hijau

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 23 Juli 2026
Rupiah Melemah Pagi Ini Saat Mayoritas Mata Uang Asia Bergerak Hijau
Ilustrasi rupiah (sumber foto : NET)

JAKARTA – Rupiah tercatat melemah 0,28% ke tingkat Rp17.930/US$ pada pembukaan pasar spot hari Kamis (23/7/2026) akibat lonjakan harga minyak mentah Brent. Tidak lama setelahnya, nilai tukar rupiah menipiskan pelemahannya menjadi 0,21% di posisi Rp17.918/US$.

Sebaliknya, mayoritas mata uang di kawasan Asia justru menguat usai People's Bank of China (PBOC) melancarkan operasi pasar terbuka demi menjaga likuiditas domestik. Bank sentral China tersebut dilaporkan menyerap likuiditas bersih sebesar CNY 422 miliar melalui instrumen reverse repo tenor 7 hari sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Langkah ini dinilai pasar sebagai penanda bahwa otoritas moneter China tetap berkomitmen mempertahankan stabilitas pasar keuangan serta kurs yuan. Karena yuan memiliki pengaruh besar di regional, kestabilannya memberikan sentimen positif bagi mata uang Asia lainnya.

Selain itu, penurunan indeks dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 0,08% ke level 101,04 turut memberikan celah bagi mata uang negara berkembang untuk menguat. Won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,5% hingga kembali ditransaksikan di bawah level KRW1.500/US$ seiring meredanya rebalancing portofolio investor asing di pasar saham.

Penguatan won kemudian diikuti oleh dolar Taiwan, baht Thailand, dolar Singapura, yuan offshore, yen Jepang, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong. Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa ruang apresiasi mata uang Asia masih dapat terhambat oleh konflik geopolitik serta potensi kenaikan suku bunga AS.

Seirama dengan hal tersebut, pergerakan rupiah masih dibayangi risiko global yang belum sepenuhnya surut. Harga minyak mentah kembali membumbung mendekati US$96 per barel menyusul eskalasi konflik di Laut Merah setelah kelompok Houthi mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lonjakan harga energi ini berisiko meningkatkan kebutuhan devisa nasional mengingat 60% konsumsi bensin dalam negeri dipasok melalui impor. Kondisi fiskal kini menjadi perhatian utama para pelaku pasar setelah BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan demi mendorong sektor riil.

Tingginya harga minyak tidak hanya berisiko memperbesar defisit neraca perdagangan, tetapi juga menambah beban fiskal apabila pemerintah wajib menambah anggaran subsidi dan kompensasi energi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua