Breaking

Harga Batu Bara Menerus Naik 5 Hari Beruntun Capai 135,55 Dolar AS

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 23 Juli 2026
Harga Batu Bara Menerus Naik 5 Hari Beruntun Capai 135,55 Dolar AS
Ilustrasi Batu Bara (sumber foto : NET)

JAKARTA – Tren penguatan harga batu bara dilaporkan masih terus berlanjut.

Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara berakhir di level 135,55 Dolar AS per ton pada sesi perdagangan Rabu (22/7/2026) setelah mengalami penguatan sebesar 0,78 persen.

Penguatan tersebut memperpanjang catatan positif harga batu bara yang mengalamai kenaikan hingga 3,9 persen dalam kurun waktu lima hari terakhir.

Kenaikan harga batu bara ini salah satunya didorong oleh lonjakan harga minyak bumi yang masih bertahan di level tinggi. Pada Rabu kemarin, harga minyak brent mengalami lonjakan ke level tertinggi dalam enam pekan terakhir hingga menyentuh US$ 95 per barel.

Hubungan saling menggantikan antara batu bara dan minyak membuat pergerakan harga kedua komoditas tersebut saling memengaruhi satu sama lain.

Di samping itu, peningkatan permintaan turut menjadi penopang kenaikan harga komoditas ini.

Berdasarkan laporan Kementerian Keuangan Jepang, volume impor batu bara termal negara tersebut pada Juni 2026 melonjak 18,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga mencapai 7,148 juta ton.

Di sisi lain, harga batu bara termal di kawasan pelabuhan utara China mulai kehilangan daya dorong kenaikannya walaupun biaya produksi serta pengiriman mengalami peningkatan. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya ketersediaan stok batu bara di fasilitas pelabuhan dan pembangkit listrik yang membuat para pembeli menunda transaksi.

Stagnasi harga mulai terjadi setelah sempat rebound akibat tingginya tekanan dari melimpahnya pasokan di pelabuhan yang tak mampu diimbangi oleh kenaikan biaya produksi.

Tingkat permintaan dari sektor utilitas maupun pembangkit listrik juga dilaporkan masih belum bergairah. Walaupun sudah memasuki periode puncak musim panas yang lazimnya memicu lonjakan konsumsi listrik, kalangan pengusaha listrik lebih memilih melakukan pembelian sesuai kebutuhan mendesak mengingat stok cadangan mereka masih berlimpah.

Melimpahnya persediaan di area pelabuhan dan pembangkit listrik memberikan posisi tawar yang lebih kuat bagi pembeli untuk menolak kenaikan harga.

Faktor kendala pasokan seperti kegiatan inspeksi keselamatan di area tambang dan penurunan pengiriman via jalur kereta api sejatinya sempat menahan kejatuhan harga, namun dampaknya relatif terbatas lantaran besarnya ketersediaan stok di pelabuhan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua