Breaking

WIKA Beton Raih Skor ESG 71 dan Masuk Top Quintile Dunia

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 30 Juni 2026
WIKA Beton Raih Skor ESG 71 dan Masuk Top Quintile Dunia
ILUSTRASI, WIKA Beton raih skor ESG 71/100 dalam penilaian S&P Global, masuk Top Quintile industri konstruksi global. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA - PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), atau WIKA Beton, mengumumkan keberhasilan mereka dalam meraih skor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG score) sebesar 71/100 pada penilaian S&P Global Corporate Sustainability Assessment. Pencapaian ini menjadi sebuah lompatan besar bagi anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) tersebut, mengingat pada periode sebelumnya perseroan mencatatkan skor ESG di angka 46/100. Melalui hasil ini, WTON langsung menempatkan diri ke dalam kelompok Top Quintile, yang berarti berada di peringkat 13 persen teratas di antara korporasi global dalam sektor industri material konstruksi.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Direktur Teknik & Produksi WTON, Verly Widiantoro, memberikan penjelasan saat menerima kedatangan rombongan S&P Global di Kantor Pusat WTON pada Rabu (24/6/2026), "Capaian metrik tersebut secara langsung menempatkan profil WIKA Beton ke dalam radar investor institusional tingkat global, di mana rekam jejak keberlanjutan Perseroan kini telah terpublikasi secara utuh dalam platform Capital IQ Pro, yang diakses secara luas oleh para fund manager dan institusi keuangan dunia," ujarnya.

Menurut Verly, kunjungan langsung dari pihak S&P Global ini memang bermaksud untuk merespons dinamika pasar konstruksi terkini yang semakin mementingkan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip ESG.

Di tengah jalannya agenda diskusi, perwakilan S&P Global menjabarkan mengenai krusialnya penyelarasan pelaporan keberlanjutan menuju standar International Sustainability Standards Board (ISSB) untuk kawasan Asia Pasifik, dengan menitikberatkan pada metrik pengukuran emisi.

Melihat situasi yang tengah berkembang di pasar Indonesia, bagi Verly, kunjungan tatap muka dari S&P Global ini memberikan pandangan baru bagi WTON terkait praktik terbaik global dalam mengukur kerentanan fisik aset secara mendalam, sekaligus memitigasi dampak finansial dari transisi iklim terhadap rantai pasok operasional secara kuantitatif.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Verly menambahkan, "Kehadiran S&P Global memvalidasi bahwa standar produksi WTON telah terkalibrasi dengan parameter ketat internasional. Kami menjadikan skor 71 ini bukan sekadar pencapaian seremonial, melainkan landasan strategis untuk melakukan gap assessment, mengukur kerentanan aset, and memastikan daya saing operasional Perseroan tetap relevan secara global," tuturnya.

Melanjutkan rencana penguatan aspek tersebut, Director of Business Development–Sustainable1 S&P Global, Leo Kurniawan, mengungkapkan bahwa penilaian yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat pada dasarnya bertindak sebagai pendorong bagi transformasi internal suatu korporasi.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Leo menyatakan dalam momen yang sama, "Penilaian S&P bukanlah tujuan akhir. Sebaliknya, melalui seluruh proses ini, kami mendorong perusahaan untuk membangun kapasitas internalnya," ucapnya.

Hal tersebut, dijelaskan oleh Leo, memiliki tujuan agar Perseroan dapat mempunyai kerangka kerja yang kuat sekaligus metodologi ilmiah yang andal dalam melaksanakan pengujian data.

Pada akhirnya, kompetensi inilah yang memperkokoh kemampuan Perseroan untuk menyusun strategi yang diformulasikan secara khusus demi memenuhi tuntutan bisnis.

Prinsip transformasi ini, menurut Leo, sejalan dengan poin utama yang diutarakan oleh Head of East Asia, Climate and Sustainability Services, S&P Global, Judy Su, yang menegaskan pentingnya metrik dengan basis angka riil.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Su menegaskan dalam kesempatan yang sama, "Keberlanjutan bukan lagi sekadar narasi, bukan lagi sebatas deskripsi atau semacam analisis kualitatif mengenai apa yang telah kami lakukan. Keberlanjutan harus menjadi sebuah penilaian yang kuantitatif, terukur, dan berdampak, sehingga benar-benar dapat dipahami oleh para investor dan manajemen," terangnya.

Berdasarkan paparan Su, transparansi metrik, kejelasan manajemen risiko iklim berbasis data, serta langkah transformasi bisnis ini nantinya bakal diimplementasikan secara penuh sebagai landasan utama dalam ekspansi bisnis WIKA Beton ke depan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Su menyimpulkan, "Melalui praktik ESG, WTON telah memproyeksikan penciptaan nilai jangka panjang yang menguntungkan seluruh pemegang saham, sekaligus mengukuhkan daya tahan fundamental Perseroan sebagai bagian dari ekosistem Danantara dan BUMN," pungkasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua