Breaking

Sektor Tambang Menciutan 2,14 Persen APBI Sebut Kuartal II Menantang

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 13 Mei 2026
Sektor Tambang Menciutan 2,14 Persen APBI Sebut Kuartal II Menantang
ILUSTRASI, tambang batu bara (Sumber Gambar : finance.detik.com)

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan laporan terkait sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami penyusutan atau kontraksi mencapai 2,14%. 

Kondisi ini terjadi saat hampir semua bidang usaha lain menunjukkan tren positif yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I-2026 hingga menyentuh angka 5,61% secara tahunan atau year on year (yoy). 

Gita Mahyarani selaku Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengungkapkan bahwa data BPS tersebut sesuai dengan kondisi riil di industri.

Ia menjelaskan bahwa saat ini industri pertambangan tidak hanya tertekan oleh perubahan harga, tetapi juga menghadapi beban pada volume, biaya operasional, hingga kepastian dalam menjalankan usaha. 

Khusus komoditas batubara, poin penting yang berpengaruh adalah sinkronisasi produksi, termasuk lewat mekanisme Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Hal ini menyebabkan fleksibilitas produksi serta volume penjualan perusahaan menjadi lebih terbatas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menuju periode kuartal II-2026, Gita berpendapat prospek bisnis tambang batubara masih dalam situasi sulit. Meski demikian, ada sedikit harapan untuk perbaikan kinerja seiring munculnya tanda-tanda pemulihan di pasar global.

"Untuk kuartal II-2026, kami melihat kondisinya masih menantang dalam jangka pendek. Memang ada beberapa sinyal pasar yang mulai membaik, terutama dari pergerakan harga dan permintaan di Asia. Sejumlah analis juga melihat tekanan penurunan harga mulai lebih terbatas," kata Gita sebagaimana dilansir dari berita sumber, Selasa (12/5/2026).

Walau begitu, Gita mengingatkan bahwa bagi pelaku usaha domestik, masalah utama bukan hanya soal harga jual, tetapi juga ketersediaan ruang produksi, kejelasan RKAB, beban operasional, kendala ekspor, serta stabilitas arus kas (cash flow).

"Jadi, peluang perbaikan tetap ada, tetapi belum otomatis tercermin pada kinerja sektor apabila volume produksi dan ekspor masih terbatas. Kuartal kedua kemungkinan masih menjadi periode konsolidasi, sambil menunggu kejelasan kebijakan dan ruang penyesuaian yang lebih fleksibel bagi perusahaan," tambah Gita sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menaruh perhatian pada kontraksi sektor tambang yang melewati angka 2% di awal tahun ini. 

Hendra Sinadia, Ketua Komite Pertambangan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Apindo, menjelaskan bahwa arah pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian memang sudah memperlihatkan gejala kontraksi dalam tiga tahun terakhir.

Oleh karena itu, data BPS pada kuartal I-2026 ini menunjukkan tidak adanya pertumbuhan (yoy) pada bidang tersebut. Menurut Hendra, rencana investasi pengusaha juga terganggu oleh beberapa perubahan regulasi yang berdampak besar, terutama kenaikan tarif royalti dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025.

Dunia usaha juga dihadapkan pada kebijakan pengurangan produksi yang tajam, khususnya pada jenis batubara yang selama ini menjadi penggerak utama sektor tambang. Selain itu, rencana kenaikan tarif royalti dalam perubahan PP No. 39/2025 serta revisi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) diperkirakan akan semakin menekan industri.

"Kemungkinan besar pada kuartal kedua masih berpotensi terjadinya kontraksi pertumbuhan. Dengan berbagai perubahan regulasi kebijakan sulit untuk bisa mengharapkan perbaikan dalam pertumbuhan sektor pertambangan di sisi 2026," ujar Hendra sebagaimana dilansir dari berita sumber, Senin (11/5/2026).

Erwin Aksa, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin, ikut membenarkan bahwa laporan BPS soal kontraksi tersebut mencerminkan kenyataan di lapangan. Ia menyebutkan bahwa pada awal tahun 2026, sektor ini memikul beban yang sangat berat.

Dalam pandangan Erwin, penurunan sektor pertambangan dan penggalian tidak cuma disebabkan oleh berkurangnya angka produksi. Hal ini merupakan akumulasi dari lemahnya permintaan global, fluktuasi harga komoditas, beban biaya operasional, serta dinamika penyesuaian di berbagai subsektor tambang.

"Untuk sisa tahun 2026, khususnya kuartal kedua, Kadin melihat peluang perbaikan tetap terbuka. Meskipun pemulihannya kemungkinan berlangsung bertahap dan belum merata di semua komoditas," kata Erwin sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Erwin memprediksi bahwa serapan pasar dari wilayah Asia masih menjadi tumpuan utama, terutama untuk komoditas yang terkait dengan proyek hilirisasi, sektor energi, dan kebutuhan industri vital. Namun, Erwin mengingatkan bahwa tantangan di depan sektor pertambangan dan penggalian masih sangat besar.

Situasi geopolitik dunia yang tidak menentu, fluktuasi harga minyak dan komoditas, tekanan nilai tukar, hingga risiko perlambatan ekonomi global membuat pelaku usaha harus sangat waspada.

Selain itu, Kadin menekankan bahwa sektor ini memerlukan konsistensi regulasi, percepatan izin, serta dukungan infrastruktur agar arus investasi tambang tetap berjalan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua