Breaking

Rupiah Loyo ke Rp17.839 per Dolar AS, Hari Ini Diproyeksi Variatif

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 03 Juni 2026
Rupiah Loyo ke Rp17.839 per Dolar AS, Hari Ini Diproyeksi Variatif
Petugas bank menunjukkan uang pecahan rupiah. (Sumber Foto: SUARAKARYA.ID)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih akan bergerak variatif cenderung tidak menentu pada perdagangan hari ini, Rabu (3/6/2026), pasca-berakhir melemah di sesi kemarin.

Pada transaksi Selasa (2/6), mata uang garuda ditutup merosot 0,19% atau terdepresiasi 34 poin ke level Rp17.839 per dolar AS. Pada waktu yang bersamaan, indeks dolar AS terpantau turun tipis 0,06% menuju 99,13.

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memaparkan bahwa sentimen pasar yang memberikan tekanan terhadap rupiah bersumber dari ketidakpastian seputar perkembangan konflik geopolitik dunia.

Presiden AS, Donald Trump menyebutkan jika dialog dengan Iran masih berjalan, namun di sisi lain pihak Teheran menegaskan telah menyetop proses negosiasi tersebut.

Dalam sebuah wawancara publik, Trump mengutarakan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan apabila pembicaraan itu harus selesai.

Namun tidak berselang lama, ia merilis pernyataan lewat media sosial yang menerangkan bahwa diskusi dengan Iran tetap berjalan dan mengharapkan adanya kesepakatan untuk memperpanjang masa gencatan senjata sekaligus memulihkan akses Selat Hormuz dalam pekan depan.

"Lebanon pada hari Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang akan menjadi de-eskalasi terbatas dari konflik yang telah memperparah perang yang lebih luas dengan Iran," jelas Ibrahim.

Sementara dari faktor domestik, pelaku pasar sedang mencermati rilis beberapa data ekonomi terkini. BPS mengumumkan angka inflasi berada di level 3,08% YoY pada Mei 2026.

Di samping itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatatkan peningkatan dari posisi 111,09 pada April 2026 ke level 111,40 pada Mei 2026.

Melihat ke sektor riil, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia diinformasikan merangkak naik ke posisi 50,0 pada Mei 2026, setelah sempat masuk zona kontraksi di level 49,1 pada April 2026.

"Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi," kata dia.

Selaras dengan berbagai sentimen yang memengaruhi pasar tersebut, Ibrahim memproeksikan mata uang rupiah berisiko kembali terkoreksi pada perdagangan esok hari, Rabu (3/6/2026).

"Untuk perdagangan besok [Rabu], mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.840 sampai Rp17.900," tandasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua