Kuartal II-2026, Net Ekspor dan Manufaktur Jadi Hambatan
JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan kehilangan momentum pada kuartal II-2026 setelah mencatat kinerja kuat di kuartal I. Chief Economist Bank Syariah Indonesia, Banjaran Surya Indrastomo, memperkirakan PDB tumbuh 5,0–5,2 persen YoY dengan kecenderungan ke batas bawah.
“Perlambatan terutama mencerminkan normalisasi konsumsi, mobilitas, pembayaran THR, dan stimulus Ramadan–Idulfitri yang telah terkonsentrasi pada triwulan pertama,” ujar Banjaran sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Tekanan utama berasal dari melemahnya konsumsi rumah tangga dan aktivitas produksi. Penjualan eceran terkoreksi, Indeks Keyakinan Konsumen turun dari 120,9 ke 117,8, dan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini melemah dari 112,2 ke 109,2. Rata-rata PMI Manufaktur kuartal II hanya 48,7, masih di bawah ambang ekspansi 50.
Kontribusi eksternal juga belum menopang pertumbuhan. Hingga Mei 2026, ekspor kumulatif naik 3,02 persen YoY, sementara impor melonjak 15,24 persen YoY, sehingga net ekspor menjadi penghambat.
Kenaikan BI-Rate ke 5,75 persen mulai meningkatkan biaya pendanaan bagi dunia usaha dan rumah tangga, membatasi konsumsi berbasis kredit, pembiayaan modal kerja, serta investasi sensitif suku bunga.
“Dengan demikian, pertumbuhan kuartal II tetap berada di sekitar 5 persen, tetapi kehilangan sebagian momentum dibandingkan kuartal I akibat normalisasi konsumsi, kontraksi manufaktur, melemahnya net exports, dan kondisi pembiayaan yang lebih ketat,” pungkas Banjaran.