Pengguna Jago Syariah Tumbuh Signifikan Sejalan Prospek Ekonomi Halal
- Kamis, 05 Maret 2026
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi syariah digital di Indonesia menunjukkan tren positif seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan keuangan berbasis syariah.
Salah satu indikatornya adalah pencapaian Jago Syariah, unit usaha syariah PT Bank Jago Tbk, yang mencatatkan jumlah pengguna hampir 2,4 juta nasabah hingga akhir 2025.
Kinerja ini tumbuh 16,5 persen secara tahunan dan menjadi bukti kepercayaan masyarakat terhadap solusi keuangan digital yang praktis, transparan, dan selaras prinsip syariah.
Baca JugaPanduan Lengkap Cara Gadai Emas di Pegadaian Menjelang Lebaran 2026
Head of Sharia Business Bank Jago, Waasi Sumintardja, menekankan bahwa pencapaian ini mencerminkan tingginya adaptasi masyarakat terhadap layanan yang mudah digunakan, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan ekonomi serta ibadah secara bersamaan.
Melalui aplikasi Jago Syariah, nasabah tidak hanya dapat mengatur keuangan harian, tetapi juga merencanakan kebutuhan ibadah seperti haji, umrah, zakat, dan sedekah secara lebih terstruktur.
Perkembangan Pengguna dan Layanan Digital
Hingga Desember 2025, total pengguna Jago Syariah mencapai hampir 2,4 juta nasabah. Angka ini menandakan adanya peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya.
Waasi menjelaskan, tren ini tidak terlepas dari kemudahan akses layanan digital yang memungkinkan nasabah dari berbagai wilayah, termasuk generasi muda, memanfaatkan layanan berbasis syariah.
Layanan digital tersebut mencakup fitur Kantong untuk berbagai tujuan, termasuk Kantong Haji dan Kantong Umrah. Lebih dari 40.000 nasabah telah memulai perencanaan ibadah melalui fitur ini.
Selain itu, Jago Syariah menyediakan fitur Jago Amal, yang memudahkan penyaluran zakat, infak, dan sedekah. Data transaksi menunjukkan lebih dari 68 persen zakat dan sedekah dilakukan pada waktu subuh hingga dhuha, sementara 53 persen penyaluran diarahkan untuk anak yatim piatu.
Ekosistem Ekonomi Halal Mendukung Pertumbuhan
Pertumbuhan pengguna Jago Syariah sejalan dengan penguatan ekosistem ekonomi halal nasional. Direktur Infrastruktur Ekonomi Syariah KNEKS, Sutan Emir Hidayat, menekankan bahwa Indonesia memiliki fundamental yang kuat sebagai salah satu pusat ekonomi syariah global.
Mengacu pada State of the Global Islamic Economy Report 2024/2025, Indonesia berada di peringkat ketiga dunia dalam ekonomi syariah, unggul di sektor modest fashion, farmasi halal, dan kosmetik halal.
Kontribusi sektor halal value chain terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 27,34 persen atau sekitar Rp 4.832 triliun pada kuartal III-2025, meningkat dari periode yang sama 2024 sebesar 26,53 persen atau Rp 4.368 triliun.
Selain itu, jumlah sertifikat halal meningkat menjadi 3,32 juta hingga akhir 2025, dengan total 10,99 juta produk telah tersertifikasi halal.
Data Bank Indonesia menunjukkan indeks ekonomi syariah Indonesia pada 2025 sebesar 50,18 persen, sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat indeks literasi keuangan syariah naik menjadi 43,42 persen dari 39,11 persen tahun sebelumnya.
Tantangan dan Peluang Digitalisasi Keuangan Syariah
Meski literasi keuangan syariah meningkat, inklusi keuangan syariah baru mencapai 13,41 persen. Menurut Sutan Emir Hidayat, gap antara literasi dan inklusi menjadi tantangan sekaligus peluang, terutama bagi bank digital seperti Jago Syariah.
Digitalisasi memungkinkan layanan keuangan syariah lebih mudah diakses, efisien, dan relevan bagi generasi muda, sambil tetap mematuhi prinsip syariah.
Fitur perencanaan berbasis tujuan (goal-based saving) yang diterapkan Jago Syariah menekankan perencanaan matang, kejelasan akad, serta pengelolaan dana yang terpisah dan transparan.
Nasabah dapat mengalokasikan dana untuk kebutuhan ibadah, pendidikan, maupun investasi, dengan tetap menjaga prinsip-prinsip syariah dalam setiap transaksi.
Dampak Sosial dan Pola Transaksi Nasabah
Peningkatan pengguna Jago Syariah juga menampilkan perubahan pola perilaku sosial dan keuangan. Data transaksi Ramadan menunjukkan tingginya semangat berbagi, dengan mayoritas nasabah menunaikan zakat dan sedekah pada waktu-waktu utama ibadah.
Penyaluran sedekah yang difokuskan pada anak yatim piatu melalui Jago Amal mencerminkan komitmen nasabah terhadap nilai sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Waasi Sumintardja menegaskan bahwa tren ini sejalan dengan misi Jago Syariah untuk mempermudah perencanaan ibadah dan finansial secara bersamaan.
Selain mempermudah masyarakat, layanan ini juga mendukung penguatan ekosistem ekonomi halal nasional, memperluas literasi dan inklusi keuangan syariah, serta mengakselerasi transformasi digital di sektor keuangan syariah.
Potensi Pertumbuhan dan Strategi Kedepan
Dengan hampir 2,4 juta pengguna, Jago Syariah terus memanfaatkan momentum untuk memperluas penetrasi pasar. Perusahaan menekankan inovasi layanan, edukasi digital, dan penguatan integrasi dengan ekosistem ekonomi halal, termasuk sektor modest fashion, pangan halal, dan kosmetik halal.
Strategi ini diharapkan dapat menutup kesenjangan literasi–inclusion gap, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi syariah global.
Ke depan, Jago Syariah juga akan menambah fitur perencanaan dan alokasi dana berbasis tujuan, termasuk fasilitas investasi syariah dan tabungan digital untuk berbagai kebutuhan ibadah.
Dengan kombinasi layanan digital, keamanan transaksi, dan kepatuhan prinsip syariah, bank berharap dapat mengoptimalkan potensi pertumbuhan ekonomi digital syariah, sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat luas.
Sutomo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Menag Nasaruddin: Peringatan Nuzulul Quran Tahun Ini Diselenggarakan di Istana
- Kamis, 05 Maret 2026
Kementan Akan Tiru Keberhasilan Sawit Untuk Hilirisasi 7 Komoditas Unggulan
- Kamis, 05 Maret 2026
Kabapanas Pastikan Ekspor Beras Haji RI Dorong Swasembada Nasional Terjaga
- Kamis, 05 Maret 2026
Berita Lainnya
Sambut Lebaran, bank bjb Optimalkan Layanan Kantor Cabang dan Digital Banking
- Kamis, 05 Maret 2026
Aset Perusahaan Penjaminan Indonesia Tumbuh Menjadi Rp 47,51 Triliun Januari
- Kamis, 05 Maret 2026












.jpg)