Selasa, 10 Februari 2026

Solusi Strategis Jalur Logistik Lebaran Demi Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Solusi Strategis Jalur Logistik Lebaran Demi Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional
Solusi Strategis Jalur Logistik Lebaran Demi Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

JAKARTA - Menjelang momentum libur Lebaran dan Natal-Tahun Baru (Nataru) 2026, tantangan klasik mengenai kemacetan dan kelancaran distribusi barang kembali menjadi sorotan. Selama ini, kebijakan pembatasan operasional truk sumbu tiga ke atas seringkali menjadi pilihan instan pemerintah untuk mengurai kepadatan arus mudik. Namun, pendekatan ini dinilai mulai usang dan justru berpotensi memicu masalah baru di sektor ekonomi, seperti kelangkaan barang hingga lonjakan harga kebutuhan pokok di masyarakat.

Kini, para pakar ekonomi dan praktisi logistik mendorong adanya paradigma baru dalam manajemen arus mudik: alih-alih melarang, pemerintah didesak untuk mengatur. Penyediaan jalur khusus truk logistik melalui manajemen waktu dan pemetaan rute alternatif dipandang sebagai solusi jalan tengah yang lebih cerdas. Strategi ini diharapkan mampu menyelaraskan kenyamanan mobilitas masyarakat dengan kebutuhan vital rantai pasok barang nasional agar tetap berdenyut meski di tengah hiruk-pikuk arus mudik.

Urgensi Manajemen Waktu Dibandingkan Pembatasan Operasional

Baca Juga

Visi Ciamis 2026: Menuju Kabupaten Organik untuk Sejahterakan Petani Lokal

Penyediaan jalur khusus truk logistik melalui manajemen waktu saat libur Lebaran dan Nataru di Indonesia sangat penting dilakukan ketimbang pembatasan truk logistik yang jelas-jelas merugikan perekonomian nasional. Kebijakan larangan beroperasi bagi angkutan barang sumbu 3 ke atas setiap hari besar keagamaan seringkali memutus alur distribusi yang krusial. Padahal, konsumsi masyarakat justru meningkat tajam pada periode tersebut, sehingga kebutuhan akan alur distribusi harus tetap berjalan karena sangat krusial untuk mencegah lonjakan harga dan kelangkaan barang.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, mengkritisi kebijakan pembatasan yang selama ini diterapkan. Menurutnya, industri yang membutuhkan pengiriman rutin paling terdampak oleh kebijakan tersebut. Sebagai solusi agar pemudik tidak terganggu dan logistik tetap jalan, ia mengusulkan skema kombinasi rute alternatif dan manajemen waktu operasional.

“Jadi, menurut saya, pemerintah perlu melakukan pemetaan terhadap jalur-jalur mana yang boleh dilewati truk logistik, katakanlah yang secara volume kepadatannya memang tidak padat. Nah, jalur itu mungkin bisa digunakan untuk jalur logistik,” ujarnya. Dengan pemetaan yang akurat, truk logistik tidak akan "bertabrakan" dengan arus utama kendaraan pribadi para pemudik.

Skema Operasional Malam Hari dan Pengaturan Trafik

Alternatif lain yang ditawarkan adalah pengaturan jam operasional yang lebih fleksibel. Pemerintah dapat memanfaatkan periode waktu di mana volume kendaraan pribadi menurun drastis, misalnya pada saat dini hari. Pengaturan ini akan meminimalkan risiko kemacetan parah di titik-titik krusial namun tetap memberikan ruang bagi barang untuk sampai ke tujuan.

“Jadi jalur jalan itu diatur. Misalnya dikasih waktu, semua bergerak hanya 3-4 jam pada malam hari di mana saat load-nya sudah berkurang. Lihat traffic-nya juga dan tidak semua titik diberlakukan pembatasan,” kata Tauhid Ahmad. Strategi ini menuntut kemampuan pemerintah dalam membaca data arus lalu lintas secara real-time sehingga pembatasan tidak perlu dilakukan secara menyeluruh di semua ruas jalan, melainkan hanya di titik yang benar-benar mengalami kelebihan kapasitas.

Memanfaatkan Jalur Tol Non-Mudik Sebagai Jalur Logistik

Dari sisi teknis kewilayahan, Senior Consultant Supply Chain Indonesia (SCI), Sugi Purnoto, mengidentifikasi adanya potensi besar pada sejumlah ruas jalan tol yang tidak menjadi rute utama para pemudik. Selama ini, kebijakan pembatasan seringkali "disamaratakan" ke seluruh ruas tol, padahal ada beberapa rute yang tetap lowong meski di masa libur panjang.

Sugi mencontohkan seperti Jalan Tol Lingkar Pelabuhan (CTP) dan Cibitung-Cimanggis pergi pulang (PP), Jalan Tol Pelabuhan dan JORR II-Balaraja, serta Jalan Tol Serpong-Cinere-Cimanggis PP yang bukan jalur tol pemudik. Ruas-ruas tersebut tetap bisa difungsikan secara optimal untuk angkutan barang tanpa mengganggu kenyamanan masyarakat yang hendak pulang kampung.

“Nah, jalur-jalur tol seperti ini kan bisa dipetakan pemerintah, sehingga bisa diberikan akses kepada truk logistik. Jadi, tol-tol yang tidak berbenturan dengan pemudik itu jangan dilarang,” cetusnya. Hal ini menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang matang, truk-truk besar tetap bisa bergerak dari pelabuhan menuju pusat industri atau gudang distribusi tanpa masuk ke jalur utama mudik seperti Tol Trans-Jawa.

Keseimbangan Antara Angkutan Penumpang dan Rantai Pasok

Dukungan serupa juga datang dari kalangan legislatif. Anggota Komisi VII DPR, Bambang Haryo Soekarno atau yang akrab disapa BHS, menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh sekadar menghambat laju logistik demi kepentingan satu sisi saja. Ia mengusulkan pemanfaatan Jalur Selatan yang secara historis memiliki beban lalu lintas lebih rendah dibandingkan Jalur Utara.

BHS mencontohkan untuk jalur Selatan yang load factor-nya hanya sekitar lima persen, itu bisa dipakai untuk jalur logistik saat Lebaran dan Nataru. Pemanfaatan jalur ini bisa menjadi solusi efektif mengingat jalurnya yang kini sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, jalur tol yang baru dibangun, jalur tengah dan jalur Utara juga bisa digunakan untuk truk-truk logistik dengan manajemen yang tepat.

“Jadi bukan dihambat, tapi diatur. Tugas dari pemerintah itu harus bisa mengatur agar terjadi keseimbangan antara logistik dengan angkutan penumpang baik yang privat maupun publik,” tukasnya. Penekanan pada kata "mengatur" menjadi esensi penting agar ekonomi tetap tumbuh stabil di masa libur panjang tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan kelancaran lalu lintas.

Menghindari Efek Domino Ekonomi Akibat Kelangkaan Barang

Secara keseluruhan, desakan untuk menyiapkan jalur khusus logistik ini adalah upaya untuk mencegah efek domino yang merugikan. Ketika truk logistik dibatasi secara total, stok barang di pasar akan menipis, biaya pengiriman melonjak karena antrean yang panjang setelah liburan, dan pada akhirnya masyarakat luaslah yang menanggung beban kenaikan harga.

Dengan menerapkan manajemen waktu dan pemetaan jalur yang cermat, pemerintah dapat membuktikan kemampuannya dalam mengelola krisis musiman secara lebih profesional. Keberhasilan mengatur keseimbangan ini akan menjadi indikator kematangan infrastruktur dan birokrasi Indonesia dalam mendukung kelancaran distribusi nasional di segala situasi.

David

David

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

BP Batam Perkuat Konektivitas Logistik dan Diplomasi Maritim di Forum Euromaritime

BP Batam Perkuat Konektivitas Logistik dan Diplomasi Maritim di Forum Euromaritime

Nias Utara Amankan 200 Unit Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

Nias Utara Amankan 200 Unit Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Ceger Dorong Kesejahteraan Pekerja Melalui MLT Perumahan

BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Ceger Dorong Kesejahteraan Pekerja Melalui MLT Perumahan

Sinergi 1665 Petani Milenial Riau Menjadi Garda Terdepan Dalam Penguatan Ketahanan Pangan

Sinergi 1665 Petani Milenial Riau Menjadi Garda Terdepan Dalam Penguatan Ketahanan Pangan

Masa Depan Nikel Indonesia dalam Persaingan Baterai Kendaraan Listrik Global

Masa Depan Nikel Indonesia dalam Persaingan Baterai Kendaraan Listrik Global