Selasa, 10 Februari 2026

Masa Depan Nikel Indonesia dalam Persaingan Baterai Kendaraan Listrik Global

Masa Depan Nikel Indonesia dalam Persaingan Baterai Kendaraan Listrik Global
Masa Depan Nikel Indonesia dalam Persaingan Baterai Kendaraan Listrik Global

JAKARTA - Industri baterai kendaraan listrik (EV) dunia tengah berada di persimpangan jalan teknologi yang sangat dinamis. Di tengah gempuran popularitas baterai berbasis lithium iron phosphate (LFP) yang menawarkan efisiensi biaya, posisi Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia tetap menjadi sorotan utama. Meski peta kekuatan baterai bergeser, nikel tidak serta-merta kehilangan tajinya. Sebaliknya, komoditas ini tengah memposisikan diri sebagai solusi untuk segmen kendaraan berperforma tinggi yang membutuhkan daya jelajah lebih jauh dan tenaga yang lebih besar.

Pemerintah dan pelaku industri di dalam negeri kini dihadapkan pada tantangan untuk terus memacu hilirisasi di tengah perubahan preferensi pasar. Optimisme terhadap pemanfaatan nikel untuk baterai EV pun masih terjaga seiring dinamika teknologi baterai global yang terus bergerak. Indonesia tidak hanya melihat nikel sebagai komoditas ekspor mentah, melainkan sebagai fondasi utama dalam ekosistem kendaraan listrik masa depan yang lebih berkelanjutan dan kompetitif di pasar internasional.

Pergeseran Dominasi LFP dalam Industri EV Global

Baca Juga

Visi Ciamis 2026: Menuju Kabupaten Organik untuk Sejahterakan Petani Lokal

Lanskap industri baterai kendaraan listrik global memang sedang mengalami perubahan signifikan yang dipicu oleh inovasi dari Timur. Dominasi baterai lithium iron phosphate atau LFP mengubah lanskap industri baterai kendaraan listrik global, termasuk di Indonesia. Fenomena ini didorong oleh kebutuhan produsen otomotif untuk menghadirkan kendaraan listrik yang lebih terjangkau bagi masyarakat luas tanpa mengorbankan standar keselamatan.

Mengutip laporan Reuters, Senin, China masih menjadi penggerak utama pergeseran teknologi global pada 2025 dengan kontribusi 62 persen dari total penjualan kendaraan listrik (EV) global. Keberhasilan China dalam mengadopsi LFP secara masif telah memberikan tekanan pada jenis baterai lainnya. Pasar EV China kini didominasi LFP karena baterai jenis itu disebut lebih aman dan lebih murah dibandingkan baterai nikel, mangan, kobalt (NMC). Kesenjangan performa di antara keduanya pun telah menyempit, membuat LFP menjadi pilihan logis bagi kendaraan listrik kelas menengah ke bawah.

Analisis Komparatif: Keamanan vs Kepadatan Energi

Persaingan antara LFP dan NMC (nikel) pada dasarnya adalah soal menyeimbangkan antara harga, keamanan, dan performa. Hal tersebut juga membuat EV dengan baterai LFP memiliki harga lebih murah ketimbang EV dengan baterai NMC. Bagi konsumen perkotaan dengan jarak tempuh harian yang pendek, efisiensi harga LFP tentu sangat menggiurkan. Namun, bagi segmen kendaraan yang mengutamakan kecepatan dan jarak tempuh antar kota, nikel tetap memegang kendali.

Namun, secara umum, densitas atau kepadatan energi baterai LFP lebih rendah dibandingkan baterai NMC. Karakteristik ini menjadi kartu as bagi baterai berbasis nikel dalam mempertahankan posisinya di pasar strategis. Artinya, untuk jarak tempuh lebih jauh, baterai NMC relatif lebih unggul dari LFP. Perbedaan densitas energi ini memastikan bahwa nikel akan tetap memiliki ceruk pasar yang kuat, terutama untuk kendaraan listrik premium, truk komersial jarak jauh, serta kendaraan berperforma tinggi yang membutuhkan penyimpanan energi yang padat dalam ruang yang terbatas.

Strategi Hilirisasi Nikel Indonesia di Tengah Perubahan

Menanggapi dinamika global ini, Indonesia tidak tinggal diam. Di tengah perubahan itu, pengembangan baterai berbasis nikel tetap dipacu sebagai bagian dari upaya peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Pemerintah terus mendorong pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) hingga pabrik sel baterai untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam rantai pasok global.

Hilirisasi nikel dianggap sebagai langkah krusial untuk menjaga kedaulatan ekonomi. Dengan memiliki ekosistem dari hulu ke hilir, Indonesia memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam menentukan arah industri. Meski saat ini LFP dominan dalam pertumbuhan baterai kendaraan listrik, baterai nikel ke depan juga diyakini tetap memiliki pasar strategis. Kepercayaan diri ini didasarkan pada kenyataan bahwa teknologi baterai terus berevolusi, dan nikel selalu menjadi komponen kunci untuk inovasi baterai dengan densitas tinggi yang lebih mutakhir.

Menjaga Optimisme dalam Lanskap Teknologi yang Bergerak

Dinamika teknologi baterai adalah sebuah maraton, bukan lari cepat. Pengamat industri meyakini bahwa pasar akan terbagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan kebutuhan penggunaan. LFP mungkin akan menguasai segmen kendaraan ekonomis, namun NMC akan tetap menjadi standar untuk teknologi tinggi. Keunggulan nikel dalam hal berat baterai yang lebih ringan untuk kapasitas energi yang sama memberikan fleksibilitas lebih bagi desainer otomotif dalam merancang kendaraan yang aerodinamis dan efisien.

Oleh karena itu, posisi Indonesia tetap sangat relevan. Ketahanan industri nikel nasional bergantung pada kemampuan kita untuk beradaptasi dengan standar lingkungan dan keberlanjutan global (ESG). Jika Indonesia mampu memproduksi nikel dengan jejak karbon yang rendah, maka daya tarik baterai berbasis nikel akan semakin meningkat di pasar Barat, seperti Eropa dan Amerika Serikat, yang memiliki regulasi ketat terhadap asal-usul material baterai.

David

David

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

BP Batam Perkuat Konektivitas Logistik dan Diplomasi Maritim di Forum Euromaritime

BP Batam Perkuat Konektivitas Logistik dan Diplomasi Maritim di Forum Euromaritime

Solusi Strategis Jalur Logistik Lebaran Demi Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Solusi Strategis Jalur Logistik Lebaran Demi Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Nias Utara Amankan 200 Unit Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

Nias Utara Amankan 200 Unit Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Ceger Dorong Kesejahteraan Pekerja Melalui MLT Perumahan

BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Ceger Dorong Kesejahteraan Pekerja Melalui MLT Perumahan

Sinergi 1665 Petani Milenial Riau Menjadi Garda Terdepan Dalam Penguatan Ketahanan Pangan

Sinergi 1665 Petani Milenial Riau Menjadi Garda Terdepan Dalam Penguatan Ketahanan Pangan