JAKARTA - Berakhirnya kontrak jasa penambangan batubara menjadi sorotan utama bagi pelaku pasar yang mencermati pergerakan saham PT SMR Utama Tbk (SMRU).
Informasi ini mencuat setelah perseroan menyampaikan keterbukaan informasi kepada publik terkait perubahan signifikan dalam aktivitas usahanya. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai arah keberlanjutan bisnis SMRU, mengingat kontrak tersebut selama ini menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan.
Emiten pertambangan ini mengumumkan adanya permohonan pengakhiran perjanjian jasa penambangan batubara yang melibatkan anak usahanya. Peristiwa tersebut bukan hanya berdampak pada operasional, tetapi juga memengaruhi kinerja keuangan secara konsolidasi. Pasar pun menilai kabar ini sebagai sinyal penting yang patut dicermati, terutama dalam konteks strategi perseroan ke depan.
Baca JugaFolago IRSX Gelar Konser Brian McKnight Target Omzet Miliaran
Pengakhiran perjanjian jasa penambangan
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, pada 9 Januari 2026, SMRU menerima laporan berakhirnya Perjanjian Jasa Penambangan Batubara oleh PT Ricobana Abadi. Entitas tersebut merupakan anak usaha SMRU yang selama ini menjalankan aktivitas penambangan sebagai sumber utama pendapatan. Pengakhiran perjanjian ini menjadi titik krusial bagi kelangsungan usaha perseroan.
Manajemen menyampaikan bahwa pengakhiran perjanjian tersebut merupakan hasil permohonan yang diajukan oleh pihak terkait. Meski tidak dijelaskan secara rinci latar belakang permohonan tersebut, dampaknya dinilai signifikan bagi SMRU. Hal ini karena kontrak jasa penambangan batubara tersebut selama ini menopang pendapatan perusahaan secara konsolidasi.
Dampak langsung terhadap kinerja keuangan
Pengakhiran Perjanjian Jasa Penambangan Batubara berimplikasi langsung pada hilangnya sumber pendapatan utama SMRU. Kondisi ini secara otomatis memengaruhi performa keuangan perusahaan. Tanpa adanya kontribusi pendapatan dari jasa penambangan, SMRU menghadapi tantangan besar dalam menjaga arus kas dan stabilitas usaha.
Manajemen menegaskan bahwa meski peristiwa ini tidak berdampak secara hukum, konsekuensi terhadap kegiatan operasional tidak dapat dihindari. Ketergantungan pada satu sumber pendapatan membuat SMRU berada pada posisi yang cukup rentan. Oleh karena itu, pengakhiran kontrak ini menjadi perhatian serius bagi pemegang saham dan investor.
Pernyataan manajemen dalam keterbukaan informasi
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada BEI, Approver SMRU Arief Novaldi memberikan penjelasan resmi terkait situasi tersebut. Ia menegaskan bahwa peristiwa ini tidak menimbulkan dampak hukum bagi perseroan. Namun, dampak operasional dan kelangsungan usaha tetap menjadi perhatian utama.
"Meski tidak berdampak secara hukum, peristiwa ini akan berdampak pada kegiatan operasional dan kelangsungan usaha mengingat Perjanjian Jasa Penambangan Batubara tersebut adalah satu-satunya sumber pendapatan perusahaan saat ini," tulis Arief Novaldi dalam keterbukaan informasi, Senin malam. Pernyataan ini memperjelas posisi SMRU dalam menghadapi situasi tersebut.
Gambaran kinerja keuangan terbaru SMRU
Mengacu pada laporan keuangan, kondisi SMRU sebelum berakhirnya kontrak sebenarnya telah menunjukkan tekanan. Pendapatan perusahaan tercatat berkurang 2,59 persen secara tahunan menjadi Rp 59,79 miliar hingga kuartal III-2025. Penurunan ini mencerminkan tantangan yang telah dihadapi perseroan bahkan sebelum pengakhiran perjanjian.
Meski demikian, terdapat sisi positif dari upaya efisiensi yang dilakukan perusahaan. Pada periode yang sama, SMRU berhasil memangkas rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 35,01 persen secara tahunan. Rugi bersih tercatat menjadi Rp 39,69 miliar, menunjukkan adanya perbaikan dari sisi pengendalian biaya.
Tantangan dan arah kelangsungan usaha
Dengan berakhirnya kontrak jasa penambangan batubara, SMRU kini berada pada fase krusial dalam menentukan langkah strategis berikutnya. Hilangnya satu-satunya sumber pendapatan menuntut manajemen untuk segera mencari alternatif usaha atau peluang baru. Tanpa diversifikasi bisnis, risiko terhadap kelangsungan usaha akan semakin besar.
Pasar akan mencermati langkah lanjutan yang diambil SMRU, baik melalui pencarian kontrak baru, restrukturisasi usaha, maupun strategi lainnya. Kejelasan arah bisnis menjadi faktor penting untuk memulihkan kepercayaan investor. Dalam jangka pendek, sentimen terhadap saham SMRU berpotensi dipengaruhi oleh ketidakpastian ini.
Ke depan, kemampuan SMRU untuk beradaptasi dan menemukan sumber pendapatan baru akan menjadi kunci utama. Pengakhiran kontrak ini bisa menjadi tekanan, tetapi juga dapat menjadi momentum evaluasi menyeluruh atas model bisnis perseroan. Investor pun menanti langkah konkret manajemen dalam menjaga keberlangsungan usaha di tengah tantangan yang ada.
Enday Prasetyo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Terpopuler
1.
Menteri UMKM Dorong Kelas Usaha Mikro Ojol Berkembang
- 14 Januari 2026
2.
Pemerintah Beri Diskon Besar Transportasi Mudik Tahun 2026
- 14 Januari 2026
3.
Harga Beras SPHP Dipastikan Rp 12.500 Per Kilogram
- 14 Januari 2026
4.
DEN Tegaskan PLTN Tidak Langsung Gantikan PLTU
- 14 Januari 2026
5.
Pelaku Migas Sangsi Pemerintah Wajibkan Bensin Etanol 20%
- 14 Januari 2026












