JAKARTA - Perubahan kepemimpinan di tubuh Indonesia Battery Corporation (IBC) menjadi sorotan di tengah percepatan pengembangan industri baterai kendaraan listrik nasional.
Penunjukan direktur utama baru ini dinilai krusial, mengingat IBC tengah menggarap sejumlah proyek strategis bernilai miliaran dolar AS.
Di tengah dinamika tersebut, sosok Aditya Farhan Arif resmi dipercaya memimpin IBC, menggantikan Toto Nugroho yang tidak lagi menjabat akibat terseret kasus dugaan korupsi.
Baca JugaFolago IRSX Gelar Konser Brian McKnight Target Omzet Miliaran
Penunjukan Aditya Farhan Arif terungkap setelah Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani menggelar rapat bersama Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dan jajaran pimpinan IBC.
Langkah ini sekaligus menandai babak baru kepemimpinan IBC, di saat perusahaan berupaya menjaga keberlanjutan agenda hilirisasi dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia.
Penunjukan Dirut Baru Di Tengah Transisi
Indonesia Battery Corporation secara resmi menunjuk Aditya Farhan Arif sebagai direktur utama baru. Pergantian pucuk pimpinan ini terjadi setelah posisi dirut sebelumnya ditinggalkan Toto Nugroho, yang tidak lagi menjabat karena terjerat kasus dugaan korupsi.
Meski demikian, manajemen IBC menegaskan bahwa roda bisnis perseroan tetap berjalan dan tidak terganggu oleh kekosongan jabatan yang sempat terjadi.
Sebelumnya, IBC sempat menyampaikan bahwa rencana bisnis perseroan tidak terpengaruh meskipun posisi direktur utama belum terisi secara definitif. Dalam kaitan tersebut, rapat umum pemegang saham (RUPS) pun telah diagendakan untuk memilih pimpinan baru.
Penunjukan Aditya menjadi jawaban atas kebutuhan kepemimpinan yang kuat, khususnya dalam menjaga momentum proyek strategis perusahaan.
Langkah ini juga dinilai sebagai upaya memperkuat tata kelola perusahaan atau good corporate governance, seiring dengan komitmen IBC untuk memastikan seluruh proses administrasi dan pengambilan keputusan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Rekam Jejak Aditya Farhan Arif
Aditya Farhan Arif dikenal memiliki rekam jejak panjang di sektor energi, pertambangan, teknologi, dan riset. Sebelum ditunjuk sebagai Direktur Utama IBC, Aditya berkarier di holding industri pertambangan Indonesia, PT Industri Mineral Indonesia (MIND ID), sejak 2022.
Di holding BUMN tambang tersebut, ia sempat menduduki sejumlah posisi strategis, antara lain sebagai Department Head of Corporate Planning dan Department Head of Technology Development.
Dalam perannya di MIND ID, Aditya terlibat aktif dalam penyusunan rencana jangka panjang holding tambang BUMN. Ia juga berkontribusi dalam perumusan strategi lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG, pengembangan teknologi baterai kendaraan listrik, serta perencanaan pengolahan mineral kritis yang menjadi tulang punggung hilirisasi industri nasional.
Sebelum bergabung dengan MIND ID, Aditya berkarier di PT Rekayasa Industri (Rekind), anak usaha PT Pupuk Indonesia yang bergerak di bidang engineering, procurement, and construction (EPC).
Pada periode 2019–2021, ia menjabat sebagai Manager of New Investment, kemudian dipromosikan menjadi Vice President of Corporate Planning & New Investment pada 2021 hingga 2022.
Bahkan, jauh sebelumnya, pada periode 2009–2014, Aditya telah berkiprah di Rekind sebagai Senior Product Owner pada Strategic Business Unit Migas Onshore.
Latar Akademik Dan Prestasi Riset
Dari sisi akademik, Aditya Farhan Arif memiliki latar pendidikan yang kuat di bidang teknik kimia. Ia merupakan lulusan teknik kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian melanjutkan pendidikan magister di kampus yang sama dengan jurusan serupa. Tidak berhenti di situ, Aditya meraih gelar doctor of engineering dari Hiroshima University, Jepang.
Pengalaman akademiknya juga mencakup peran sebagai Research Professor di Hiroshima University. Selain itu, ia pernah menjalani riset di ETH Zurich, Swiss, serta menjadi dosen tamu di ITB sejak 2019.
Di bidang riset, Aditya mencatatkan sejumlah prestasi, antara lain sebagai penerima Hosokawa Young Promising Researchers Award 2016 dan Society of Powder Technology Japan (SPTJ) Outstanding International Contributor 2019. Ia juga aktif menerbitkan publikasi ilmiah di berbagai jurnal internasional bereputasi.
Kombinasi pengalaman industri dan akademik tersebut dinilai menjadi modal penting bagi Aditya dalam memimpin IBC, khususnya dalam mengawal pengembangan teknologi baterai dan ekosistem kendaraan listrik yang membutuhkan pendekatan multidisiplin.
Proyek Strategis IBC Tetap Berjalan
Di sisi lain, IBC menegaskan bahwa pergantian pimpinan tidak memengaruhi pengerjaan proyek-proyek strategis perseroan. Vice President Investor Relations IBC, Marvin Reinhart, menyatakan bahwa seluruh proses investasi perusahaan masih berjalan normal.
Saat ini, IBC tengah fokus mempersiapkan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi yang digarap bersama konsorsium Huayou, atau dikenal sebagai Proyek Titan.
“Jadi RUPS sendiri sedang dijadwalkan, insyallah segera. Memang untuk proses administrasi dan GCG [good corporate governance], so far sih, balik lagi, kami berusaha untuk mengikuti administrasi yang diletakkan,” kata Marvin.
Ia menegaskan bahwa proses hukum yang menjerat eks Dirut IBC tidak berdampak pada proyek ekosistem baterai senilai hampir US$6 miliar tersebut. “So far sih, on a day to day basis, there's not much variance, atau problem terhadap [proyek] itu,” klaim dia.
Terkait Proyek Titan, Marvin menyampaikan bahwa IBC tengah mempersiapkan studi kelayakan atau feasibility studies untuk rencana pembangunan proyek baterai terintegrasi tersebut.
Ia menargetkan proyek dengan nilai investasi US$9,8 miliar itu mulai terealisasi pada 2026. “Proyek Titan seperti mungkin kalian ketahui juga, partner-nya [Huayou] itu, kita baru berbicara awal tahun ini, setelah yang sebelumnya [LG Energy Solutions Ltd.] mengundurkan diri,” ucapnya.
Sementara itu, Kementerian ESDM juga menargetkan proyek baterai terintegrasi lain, yakni Proyek Dragon yang digarap konsorsium CATL bersama IBC, dapat mulai beroperasi pada semester pertama 2026.
Dengan kepemimpinan baru, IBC diharapkan mampu menjaga kesinambungan proyek strategis tersebut dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.
Sutomo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Terpopuler
1.
Apakah Makan Malam Hanya Dengan Buah Itu Aman?
- 14 Januari 2026
2.
Minuman Herbal Alami Untuk Menjaga Kelenjar Getah Bening
- 14 Januari 2026
3.
Cara Ampuh Menurunkan Gula Darah Setelah Makan Dengan Cepat
- 14 Januari 2026
4.
5 Alasan Mengonsumsi Protein Sangat Penting Bagi Tubuh
- 14 Januari 2026
5.
Kolin Sangat Penting untuk Otak dan Cegah Kecemasan
- 14 Januari 2026













