Lima Langkah Perencanaan Keuangan Agar Finansial Lebih Stabil Tahun 2026
- Senin, 05 Januari 2026
JAKARTA - Memasuki tahun baru 2026, banyak orang mulai menyusun harapan dan target hidup yang ingin dicapai.
Namun di tengah kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya stabil, perencanaan keuangan menjadi salah satu fondasi penting agar tujuan tersebut dapat diwujudkan tanpa mengorbankan kondisi finansial.
Tanpa pengelolaan yang terarah, penghasilan yang diperoleh berisiko habis tanpa jejak, sementara kebutuhan terus bertambah.
Baca JugaApa Arti Akumulasi? Pengertian, Jenis-Jenis, dan Cara Menghitungnya
Situasi ini semakin terasa ketika pengeluaran tak terduga muncul, baik untuk kebutuhan kesehatan, keluarga, maupun keperluan mendesak lainnya.
Jika tidak dipersiapkan sejak awal, kondisi tersebut dapat mengganggu stabilitas keuangan individu maupun rumah tangga. Oleh sebab itu, perencanaan keuangan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.
Perencanaan keuangan yang baik mampu memberikan arah yang jelas dalam mengelola penghasilan, membangun dana darurat, serta mempersiapkan perlindungan keuangan untuk menghadapi berbagai risiko di masa depan.
Perencanaan Keuangan Perlu Jadi Resolusi Tahun Baru
Faculty Head Sequis Quality Empowerment of Sequis Life, Yan Ardhianto Handoyo, menekankan bahwa perencanaan keuangan idealnya dimasukkan dalam daftar resolusi Tahun Baru. Menurutnya, langkah ini penting agar pengelolaan keuangan dilakukan secara sadar dan berkelanjutan.
Yan menyebut perencanaan keuangan sebaiknya dibuat secara terstruktur dan dimulai dari langkah-langkah sederhana agar dapat dijalankan secara konsisten.
“Membuat perencanaan keuangan akan membantu Anda menyiapkan dana untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan menentukan tujuan masa depan beserta strategi pendanaannya,” tuturnya.
Dengan pendekatan yang sistematis, perencanaan keuangan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga memastikan kesiapan finansial dalam jangka panjang.
1. Evaluasi Menyeluruh Kondisi Keuangan
Langkah awal menuju kondisi finansial yang lebih sehat adalah mengevaluasi kondisi keuangan secara menyeluruh. Yan menyarankan untuk mencatat dan menghitung seluruh pemasukan serta pengeluaran, termasuk pengeluaran kecil yang kerap dianggap sepele.
Sebagai contoh, kebiasaan membeli kopi setiap hari mungkin terlihat ringan, tetapi jika dilakukan secara rutin, jumlahnya dapat menjadi pengeluaran signifikan dalam sebulan atau setahun. Kesadaran terhadap pola pengeluaran seperti ini menjadi kunci untuk mengendalikan keuangan.
Selain itu, Yan mengingatkan bahwa kondisi keuangan tidak hanya ditentukan oleh arus kas, tetapi juga dipengaruhi oleh aset dan liabilitas. Oleh karena itu, diperlukan identifikasi menyeluruh untuk mengetahui posisi keuangan saat ini. Dari hasil evaluasi tersebut, seseorang dapat menentukan aspek mana yang perlu diperbaiki atau diperkuat.
2. Menetapkan Tujuan Keuangan yang Jelas dan Terukur
Setelah mengetahui kondisi keuangan, tahap berikutnya adalah menetapkan tujuan keuangan secara jelas dan terukur. Tujuan yang spesifik akan membantu mengukur kemampuan finansial serta memudahkan dalam mengalokasikan dana ke instrumen keuangan yang sesuai.
Yan menjelaskan bahwa setiap individu bisa memiliki lebih dari satu tujuan keuangan, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang. “Jika memiliki lebih dari satu tujuan keuangan maka buat perencanaan secara detail agar dapat menentukan prioritas,” sebut Yan.
Dengan tujuan yang jelas, perencanaan keuangan menjadi lebih terarah dan meminimalkan risiko pengeluaran yang tidak sesuai kebutuhan.
3. Menyusun Anggaran Keuangan Secara Konsisten
Langkah penting berikutnya adalah menyusun anggaran keuangan dan menjalankannya secara konsisten. Anggaran berfungsi sebagai alat pengendali pengeluaran sekaligus panduan agar tetap fokus pada pencapaian tujuan finansial.
Menurut Yan, salah satu metode sederhana yang dapat digunakan adalah metode 50/30/20, yaitu pembagian penghasilan untuk kebutuhan pokok, keinginan, serta tabungan, investasi, dan dana darurat. Metode ini membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan persiapan masa depan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari utang konsumtif. “Utang sebaiknya hanya untuk kebutuhan produktif, seperti KPR atau KPM, dengan total cicilan tidak melebihi 30% dari penghasilan,” tegasnya.
4. Mengembangkan Aset dan Memilih Instrumen Keuangan Tepat
Yan menekankan bahwa mengandalkan pendapatan rutin saja tidak cukup, mengingat kondisi ekonomi dan inflasi yang terus berubah. Oleh sebab itu, aset perlu dikembangkan agar nilainya bertumbuh dan dapat diandalkan untuk mencapai tujuan finansial.
Pengembangan aset dapat dilakukan melalui berbagai instrumen investasi yang disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing individu. Untuk tujuan jangka pendek, seperti pendidikan anak usia dini, aset dapat dikembangkan melalui deposito atau obligasi pemerintah.
“Sementara untuk tujuan jangka panjang, seperti membeli rumah dalam 10 tahun ke depan dengan profil risiko agresif maka dapat mempertimbangkan reksadana saham atau saham karena potensi pertumbuhannya lebih tinggi,” jelasnya.
5. Melindungi Keuangan dengan Asuransi
Dalam setiap tahapan perencanaan keuangan, selalu ada potensi risiko yang tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, proteksi melalui asuransi menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas finansial.
Yan berpendapat bahwa asuransi berfungsi sebagai pelindung kondisi keuangan dari kejadian tak terduga, seperti sakit, kecelakaan, atau risiko lainnya.
“Jika belum memiliki asuransi, akhir tahun menjadi momen yang tepat untuk memasukkan asuransi ke dalam perencanaan keuangan. Alokasikan minimal 10% dari penghasilan untuk proteksi,” ucapnya.
Dengan proteksi yang memadai, rencana keuangan yang telah disusun dapat tetap berjalan meski menghadapi situasi darurat.
Sutomo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
BCA Tingkatkan Layanan Digital Secara Maksimal Setelah Likuidasi Anak Perusahaan
- Senin, 05 Januari 2026
Suku Bunga BI Dorong Efek Domino, Permintaan RDPT Meningkat Tajam 2025
- Senin, 05 Januari 2026













