Kimia Farma Terima Pinjaman Strategis Rp846 Miliar Dari Bio Farma
- Selasa, 06 Januari 2026
JAKARTA - PT Kimia Farma Tbk. (KAEF), emiten farmasi pelat merah, tengah menyiapkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas operasional dan pertumbuhan bisnisnya.
Di tengah tantangan pengelolaan modal kerja, perseroan akan menerima pinjaman senilai Rp846 miliar dari induk usahanya, PT Bio Farma (Persero).
Pinjaman ini menjadi bagian dari upaya restrukturisasi perusahaan untuk memastikan kelangsungan usaha dan kinerja finansial yang sehat.
Baca JugaHonda Rencanakan Penguatan Elektrifikasi Produk Otomotif pada 2026
Langkah KAEF ini menunjukkan bahwa perusahaan farmasi tidak hanya fokus pada produksi dan distribusi obat, tetapi juga memperhatikan pengelolaan keuangan yang strategis agar tetap adaptif di tengah dinamika pasar dan regulasi yang terus berubah.
Strategi Keuangan untuk Modal Kerja
Manajemen Kimia Farma menjelaskan bahwa pinjaman pemegang saham atau shareholder loan (SHL) menjadi alternatif pendanaan penting.
Dana yang diperoleh dari Bio Farma diharapkan dapat memenuhi berbagai kebutuhan modal kerja, termasuk operasional inti yang berpengaruh langsung pada produksi dan penjualan, pembayaran kewajiban terkait regulasi, serta penyelesaian utang dagang.
“Alternatif sumber pendanaan diperoleh melalui pinjaman pemegang saham atau SHL sebesar Rp846 miliar dari PT Bio Farma (Persero),” jelas manajeme.
Pinjaman ini memberikan ruang bernapas bagi perusahaan dalam menjaga likuiditas, sekaligus memastikan bahwa aktivitas bisnis berjalan tanpa hambatan.
Untuk menjamin SHL, KAEF memberikan jaminan aset maksimal Rp775,2 miliar yang mencakup tanah, bangunan, piutang, dan persediaan. Besaran jaminan ini setara dengan 120% dari jumlah pinjaman yang disepakati, mencerminkan komitmen perseroan dalam menjaga keamanan dan keberlanjutan transaksi keuangan.
Transformasi Bisnis Berkelanjutan
Selain pinjaman, KAEF menyiapkan strategi transformasi yang menyeluruh di seluruh lini bisnis. Transformasi ini dibangun atas enam pilar utama, yakni ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan (GCG), dan sinergi antar entitas dalam grup.
Langkah ini menunjukkan bahwa perseroan tidak semata mengandalkan modal finansial, tetapi juga fokus pada penguatan internal agar dapat beradaptasi dengan perubahan industri.
Digitalisasi, misalnya, diharapkan meningkatkan efisiensi proses dan memudahkan manajemen informasi, sementara penguatan SDM bertujuan memastikan karyawan memiliki kapasitas untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Pendekatan transformasi ini sekaligus menjadi jawaban terhadap tantangan eksternal, termasuk persaingan di industri farmasi dan fluktuasi kebutuhan modal kerja.
Dengan strategi terintegrasi, KAEF menempatkan diri pada posisi yang lebih kuat untuk menghadapi tekanan pasar sekaligus mendukung pelayanan kepada masyarakat.
Dampak Pinjaman terhadap Operasional Perusahaan
Dengan adanya pinjaman dari Bio Farma, KAEF dapat memastikan kesinambungan produksi dan distribusi obat-obatan, sekaligus memenuhi kewajiban hukum dan regulasi yang berlaku.
Pinjaman ini memungkinkan perseroan mengelola likuiditas dengan lebih optimal, sehingga tidak terjadi gangguan operasional yang bisa mempengaruhi ketersediaan produk bagi konsumen.
Selain itu, strategi ini memberi fleksibilitas dalam menyelesaikan utang dagang dan pembayaran operasional, sehingga rantai pasok tetap berjalan lancar.
Efisiensi keuangan menjadi kunci dalam menjaga profitabilitas, sekaligus memungkinkan perusahaan melakukan ekspansi atau investasi strategis di masa depan.
Keputusan untuk memanfaatkan SHL menegaskan bahwa perusahaan farmasi milik negara harus tetap adaptif dalam mengelola modal kerja. Modal yang diperoleh dari induk usaha tidak hanya mengatasi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga menjadi pondasi bagi stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang.
Fokus pada Sinergi dan Tata Kelola
Pilar transformasi KAEF yang menekankan sinergi antar entitas grup dan penguatan tata kelola perusahaan (GCG) menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan dan operasional tidak bisa berdiri sendiri.
Kolaborasi antar entitas memungkinkan pertukaran sumber daya, pengetahuan, dan teknologi, sehingga efisiensi meningkat dan risiko dapat diminimalkan.
Sementara itu, penguatan tata kelola menjadi kunci transparansi dan akuntabilitas. Hal ini penting bagi perusahaan yang bergerak di sektor strategis seperti farmasi, yang berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat.
Dengan pengelolaan yang baik, KAEF dapat memastikan bahwa pertumbuhan bisnis selaras dengan kepatuhan regulasi dan praktik bisnis berkelanjutan.
Langkah-langkah ini menggambarkan bahwa penerimaan pinjaman dari Bio Farma bukan sekadar tindakan finansial jangka pendek, tetapi bagian dari strategi menyeluruh untuk menjaga stabilitas, mendukung transformasi, dan membangun fondasi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
KAEF menunjukkan bahwa pengelolaan modal kerja, investasi strategis, dan sinergi antar entitas menjadi kombinasi penting dalam menghadapi tantangan industri farmasi di era modern.
Sutomo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Nora Wahby Dipercaya Memimpin Ericsson Indonesia, Percepat Pengembangan 5G
- Rabu, 07 Januari 2026
Peringkat idAA+ dari Pefindo untuk Jamkrindo Menunjukkan Prospek Stabil di 2026
- Rabu, 07 Januari 2026
Strategi Kemenkes Atasi Krisis Kesehatan Aceh dengan Ribuan Relawan Terjun Lapangan
- Rabu, 07 Januari 2026
Presiden Prabowo Gelar Retret Kabinet Merah Putih Evaluasi Kinerja Satu Tahun
- Rabu, 07 Januari 2026
Berita Lainnya
Peringkat idAAA Pefindo untuk Pupuk Indonesia Tunjukkan Prospek Stabil di 2026
- Rabu, 07 Januari 2026
Peringkat idAA+ dari Pefindo untuk Jamkrindo Menunjukkan Prospek Stabil di 2026
- Rabu, 07 Januari 2026
Techno9 (NINE) Ungkapkan Rencana Akuisisi Aset Tambang Poh Group di Mongolia
- Rabu, 07 Januari 2026



.jpg)






_ungkapkan_rencana_akuisisi_aset_tambang_poh_group_di_mongolia.jpg)

