TEROPONGBISNIS.ID — Basel Action Network memproyeksikan pusat data AI menghasilkan hingga 13 juta ton limbah elektronik per tahun pada 2030. Laporan ini menghitung volume perangkat keras server, switch, dan kabel tembaga yang harus diganti setiap 2-5 tahun. Tanpa pengelolaan serius, gelombang sampah beracun ini berpotensi melampaui krisis limbah elektronik yang sudah berlangsung saat ini.

BAN memperkirakan sekitar 100 gigawatt kapasitas komputasi baru akan beroperasi di seluruh dunia pada 2030. Proyeksi itu menjadi dasar penghitungan volume peralatan yang harus diproduksi, dipakai, lalu dibuang.

Berapa Besar Timbulan Sampah yang Dihasilkan

Dalam 25 tahun ke depan, sampah elektronik yang dihasilkan industri AI dapat memenuhi kontainer yang cukup untuk mengelilingi Bumi hingga enam kali. Limbah ini umumnya mengandung bahan beracun seperti timbal, merkuri, kadmium, dan bahan kimia yang sulit terurai.

Di dalamnya juga terdapat logam berharga yang proses daur ulangnya rumit. Hingga kini, BAN menilai belum ada rencana memadai untuk mengelola aliran limbah tersebut.

"Limbah elektronik sudah menjadi aliran limbah yang pertumbuhannya paling cepat di planet, dan hanya seperlima yang dikelola dengan benar," kata co-founder BAN Jim Puckett, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (17/9/2026).

Dari Mana Angka 13 Juta Ton Berasal

BAN menghitung volume limbah dari server yang dipakai untuk AI, ditambah ribuan ton tembaga, baja, dan beton untuk sistem pendingin, distribusi daya, peralatan jaringan, serta penyimpanan daya. Setiap server berbobot hingga 1.360 kg, sementara switch mencapai 30 kg.

Ratusan kilogram kabel tembaga yang menghubungkan tiap rak turut dihitung. Peralatan itu tidak dirancang untuk diperbaiki dan dipakai kembali, sehingga harus diganti baru setiap 2-5 tahun.

Laporan BAN juga memperkirakan pengembangan AI memaksa pengguna mengganti smartphone dan laptop lebih cepat. Alasannya, kebutuhan komputasi untuk sistem baru terus meningkat.

Tekanan ke Pengguna dan Produsen Perangkat

Pergantian perangkat yang didorong AI menjadi salah satu pemicu utama lonjakan limbah elektronik. Pola ini menambah beban di negara-negara yang sudah kesulitan menangani sampah elektronik domestik.

Di Amerika Serikat, tercatat 4.871 pusat data baru sedang dalam tahap pembangunan. Tidak semuanya ditujukan sebagai pusat data AI, tetapi sebagian akan difungsikan untuk keperluan tersebut.

"AI mungkin terasa ringan, tapi setiap model bergantung pada perangkat keras canggih dan khusus dalam jumlah besar," kata Puckett.

"Jika perusahaan dan pemerintah tidak mulai merencanakan gelombang tsunami limbah baru ini, pembangunan AI dapat menjadi krisis limbah beracun yang jauh lebih dahsyat daripada yang sudah kita alami," imbuhnya.

Implikasi bagi Indonesia

Peringatan BAN relevan bagi Indonesia yang merupakan salah satu tujuan impor limbah elektronik dan memiliki kapasitas daur ulang terbatas. Regulasi pengelolaan limbah B3 dan pengawasan impor menjadi kunci menahan tekanan tambahan dari gelombang perangkat keras AI.

Pelaku bisnis digital yang membangun infrastruktur komputasi di dalam negeri perlu memperhitungkan siklus penggantian perangkat sejak awal. Tanpa itu, biaya lingkungan dari ekspansi AI akan menumpuk di hilir.

Reporter: Redaksi