Pefindo Proyeksi Obligasi Korporasi Kuartal IV Rp 24 Triliun-Rp 33 Triliun

Ilustrasi Pefindo memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi kuartal IV 2026 mencapai Rp 24 triliun-Rp 33 triliun. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 11 September 2026 | 23:41:56 WIB

JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan penerbitan obligasi korporasi masih cukup solid pada kuartal IV 2026 di tengah biaya pendanaan yang masih tinggi. Kebutuhan refinancing diperkirakan menjadi penopang utama aktivitas penerbitan.

Pefindo memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi pada kuartal IV 2026 berada di kisaran Rp 24 triliun-Rp 33 triliun.

Chief Economist Pefindo Suhindarto mengatakan proyeksi tersebut telah memperhitungkan realisasi penerbitan surat utang korporasi yang mencapai Rp 120,18 triliun hingga Agustus 2026, mandat Pefindo sebesar Rp 45,89 triliun per Agustus, serta profil jatuh tempo hingga penghujung tahun.

Sebelumnya, Pefindo memperkirakan penerbitan baru surat utang korporasi sepanjang 2026 berada di rentang Rp 154 triliun-Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah Rp 175,77 triliun.

Suhindarto menyebut untuk mencapai batas bawah proyeksi penerbitan sepanjang 2026 sebesar Rp 154 triliun, masih diperlukan tambahan penerbitan sekitar Rp 33,82 triliun pada September-Desember.

"Dari sisi refinancing, sekitar Rp 43,56 triliun surat utang akan jatuh tempo pada kuartal IV, atau sekitar 71% dari total jatuh tempo September-Desember yang sebesar Rp 60,96 triliun," jelas Suhindarto kepada Kontan, Kamis (10/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dengan asumsi penerbitan mengikuti kebutuhan refinancing dan sebagian pipeline yang tersedia, Suhindarto menilai aktivitas penerbitan pada kuartal IV masih berpotensi cukup solid. Meski begitu, jumlahnya diperkirakan belum tentu kembali menyamai tingginya penerbitan pada kuartal I 2026.

"Kebutuhan refinancing menjadi penopang utama karena relatif lebih sulit ditunda dibandingkan pendanaan untuk ekspansi. Namun, yield dan biaya dana yang masih tinggi dapat membuat perusahaan lebih selektif dalam menentukan waktu, tenor, dan besaran penerbitan," lanjutnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Karena itu, penerbitan pada penghujung tahun diperkirakan lebih banyak berasal dari perusahaan yang memiliki kebutuhan refinancing jelas serta emiten dengan kualitas kredit yang kuat.

Lebih lanjut, Suhindarto merinci surat utang korporasi yang akan jatuh tempo pada kuartal IV 2026 mencapai sekitar Rp 43,56 triliun. Nilai tersebut terdiri dari Rp 12,86 triliun pada Oktober, Rp 14,61 triliun pada November, dan Rp 16,09 triliun pada Desember.

Jumlah jatuh tempo tersebut memang lebih rendah dibandingkan puncak pada kuartal III 2026 yang mencapai Rp 63,95 triliun. Namun, nilainya masih cukup besar untuk menopang kebutuhan refinancing hingga akhir tahun.

"Secara keseluruhan, jatuh tempo surat utang korporasi pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 162,72 triliun," tandas Suhindarto, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, biaya pendanaan melalui obligasi korporasi masih relatif tinggi pada kuartal IV. Meski demikian, tekanan terhadap yield telah berkurang dibandingkan level tertingginya pada pertengahan tahun.

Suhindarto mencatat yield obligasi korporasi tenor tiga tahun mencapai titik tertinggi pada 11 Juni 2026. Yield untuk peringkat AAA mencapai 7,91%, AA sebesar 8,17%, A sebesar 9,76%, dan BBB sebesar 11,49%.

Namun, hingga 9 September 2026, yield tersebut masing-masing telah turun menjadi 7,43% untuk AAA, 7,67% untuk AA, 8,49% untuk A, dan 10,55% untuk BBB.

"Artinya, pasar sudah mengalami perbaikan, tetapi biaya pendanaan belum kembali ke level akhir 2025," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Jika dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2025, yield obligasi korporasi per 9 September 2026 masih lebih tinggi sekitar 101-177 basis poin, bergantung pada peringkat kredit.

Kondisi tersebut menunjukkan kupon penerbitan obligasi korporasi baru masih berpeluang berada pada level yang relatif tinggi. Sebab, emiten perlu menawarkan imbal hasil kompetitif terhadap yield pasar maupun Surat Berharga Negara (SBN) yang menjadi acuan.

Tekanan biaya pendanaan juga berbeda-beda bagi setiap perusahaan. Emiten dengan peringkat kredit tinggi cenderung lebih resilien karena mampu mendapatkan biaya pendanaan yang lebih rendah. Sebaliknya, penerbit dengan peringkat kredit lebih rendah perlu memberikan premi lebih besar untuk menarik investor.

"Karena itu, biaya pendanaan masih dapat menjadi hambatan pada kuartal IV, terutama bagi issuer dengan kualitas kredit yang lebih rendah, meskipun kebutuhan refinancing tetap dapat menjaga aktivitas penerbitan," pungkasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Ibtihal