TEROPONGBISNIS.ID — Kenaikan harga beras medium II ini menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang tahun berjalan. Panel Harga Badan Pangan mencatat, harga tersebut berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah untuk daerah-daerah tertentu.
Adapun untuk beras kualitas medium I dan premium juga mengalami kenaikan, meski lajunya tidak setajam medium II. Beras premium tercatat naik ke level yang juga mendekati batas atas HET di sejumlah wilayah.
Kenaikan harga di tingkat konsumen ini merupakan efek berantai dari melonjaknya harga gabah di tingkat petani selama beberapa pekan terakhir. Musim kemarau basah yang tidak menentu membuat jadwal panen mundur dari perkiraan semula, sehingga stok di penggilingan menipis.
Data Lengkap Harga Beras per 31 Agustus
Berdasarkan data yang dihimpun Panel Harga Badan Pangan, berikut pergerakan harga beras di tingkat konsumen pada akhir Agustus 2026:
- Beras Medium II: Rp 16.800 per kilogram, naik 13,51% dibandingkan akhir Juli
- Beras Medium I: Rp 17.250 per kilogram, naik 6,8% secara bulanan
- Beras Premium: Rp 18.400 per kilogram, naik 4,2% dalam sebulan terakhir
Kenaikan ini terjadi hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Namun, lonjakan tertinggi tercatat di sejumlah provinsi di Sumatera dan Jawa Barat, yang selama ini menjadi daerah penopang konsumsi beras nasional.
Kenapa Harga Medium II Melonjak Paling Tajam?
Tiga faktor utama menjadi pemicu lonjakan harga beras medium II. Pertama, segmen ini paling banyak dikonsumsi masyarakat kelas menengah ke bawah, sehingga permintaannya paling besar. Kedua, stok beras medium di gudang Bulog dan penggilingan mengalami penurunan karena penyaluran bantuan pangan meningkat. Ketiga, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani berada di atas harga pembelian pemerintah (HPP), sehingga penggilingan swasta kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga wajar.
Kondisi itu mendorong para penggilingan untuk menaikkan harga jual ke pedagang besar, yang kemudian diteruskan ke tingkat eceran. Imbasnya, margin pedagang pun ikut terpangkas karena daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Perbedaan laju kenaikan antara beras medium dan premium terjadi karena segmen premium memiliki basis konsumen yang lebih kecil dan stabil. Sebaliknya, beras medium lebih sensitif terhadap perubahan pasokan karena volume transaksinya besar.
Apa Dampaknya Bagi Konsumen dan Pedagang?
Di tingkat pasar tradisional, sejumlah pedagang mengaku mulai mengurangi pembelian beras dalam jumlah besar untuk mengantisipasi risiko fluktuasi harga. Sebagian lain memilih menjual stok lama dengan harga baru, yang berpotensi memicu penimbunan di tingkat distributor.
Bagi konsumen rumah tangga, kenaikan ini berpotensi mengerek pengeluaran bulanan kelompok berpendapatan menengah ke bawah. Mengingat beras merupakan komponen utama inflasi pangan, tekanan harga ini bisa mempengaruhi perhitungan inflasi bulanan Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2026.
Ekonom memperkirakan, apabila pasokan tidak kunjung normal hingga akhir September, tekanan harga beras akan berlanjut. Respons cepat pemerintah dalam menggelontorkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menjadi penentu utama agar harga tidak makin menjauh dari HET.