Rupiah Stagnan di Rp17.995 per Dolar AS Jelang Rilis Rapat The Fed

ILUSTRASI, Rupiah stagnan di posisi Rp17.995 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa pagi. (Sumber Gambar : Net)
Selasa, 07 Juli 2026 | 18:19:53 WIB

JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau tidak mengalami perubahan pada pembukaan perdagangan Selasa (7/7/2026) pagi. Mata uang rupiah bertengger pada rentang Rp17.995 per dolar AS, tidak bergeser dari angka penutupan di hari sebelumnya.

Walaupun menunjukkan kondisi yang flat saat memulai sesi perdagangan, tekanan eksternal terhadap mata uang garuda ini dinilai masih cukup berat. 

Para pelaku pasar memilih untuk bersikap waspada sembari menantikan kejelasan arah kebijakan ekonomi global, khususnya dari bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed).

Rully Nova, selaku Analis dari Bank Woori Saudara, memproyeksikan bahwa laju rupiah berpotensi mengalami pelemahan di sepanjang hari ini pada kisaran antara Rp17.950 sampai Rp18.020 per dolar AS. 

Faktor utama yang menggerakkan nilai mata uang domestik ini masih didominasi oleh sentimen global.

“Pelaku pasar masih wait and see menjelang rilis notulen rapat The Fed pada 9 Juli waktu AS. Hal ini membuat pergerakan rupiah cenderung tertahan,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Selasa (7/7/2026).

Dia berpendapat, kendati indeks dolar AS memperlihatkan tren penurunan akhir-akhir ini, kondisi pasar investasi global tetap dibayangi kecemasan seputar ketidakpastian arah kebijakan suku bunga di AS.

Pada komitmen di rapat sebelumnya, fokus The Fed masih tertuju pada pencapaian target tingkat inflasi sebesar 2 persen. 

Akan tetapi, laporan terkini mengenai sektor tenaga kerja, terutama angka nonfarm payrolls (NFP) yang melesat di bawah estimasi, memberikan ruang bagi kemungkinan pergeseran strategi kebijakan moneter ke depan.

Situasi tersebut memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar bahwa The Fed yang saat ini dipimpin oleh Kevin Warsh dapat bertindak lebih adaptif dalam memformulasikan tingkat suku bunga, terlebih apabila eskalasi tekanan ekonomi semakin nyata.

Beralih ke faktor domestik, tantangan bagi rupiah juga dipicu oleh beberapa indikator makroekonomi dalam negeri. Salah satunya yakni performa neraca perdagangan yang mencatatkan defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. 

Bukan hanya itu, aksi jual portofolio oleh investor asing (capital outflow) di bursa saham domestik sejak awal bulan Juli ini dilaporkan sudah menyentuh Rp2,73 triliun.

Aspek eksternal lain yang ikut mempengaruhi psikologis pasar adalah publikasi data cadangan devisa nasional yang segera dirilis oleh Bank Indonesia (BI) pada siang hari ini. 

Para pelaku pasar memprediksi jumlah cadangan devisa tersebut akan terkoreksi tipis lantaran adanya langkah intervensi dari BI di pasar valuta asing demi meredam gejolak rupiah.

Kendati demikian, nominal cadangan devisa Indonesia diproyeksikan tetap berada di zona aman, yaitu di atas parameter kecukupan global yang setara dengan pembiayaan impor di atas lima bulan sekaligus penyelesaian utang luar negeri milik pemerintah.

Di tengah gempuran tekanan tersebut, rupiah dinilai masih berkesempatan untuk bergerak konstan sekiranya sentimen dari pasar global menunjukkan perbaikan, terutama yang berkaitan dengan proyeksi suku bunga acuan AS serta dinamika geopolitik internasional.

Bagi para investor dan pelaku pasar, situasi makro ini menjadi peringatan penting agar bertindak lebih berhati-hati dalam menetapkan langkah investasi, khususnya dalam merespons volatilitas nilai tukar mata uang yang diproyeksikan masih cukup fluktuatif.

Reporter: Gemilang Ramadhan