Breaking

Ekspor Rempah RI ke China Melonjak, Kapulaga Tembus 3.600 Ton

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 07 Juli 2026
Ekspor Rempah RI ke China Melonjak, Kapulaga Tembus 3.600 Ton
ILUSTRASI, Ekspor kapulaga Indonesia ke China mencapai 3.604 ton pada Januari-Mei 2026. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Negeri Tirai Bambu tetap memosisikan diri sebagai tujuan utama bagi pengiriman komoditas rempah asal Indonesia selama tahun 2026. Melonjaknya keperluan atas produk-produk seperti kapulaga dan pala ikut mendongkrak angka penjualan ke luar negeri, yang didorong oleh perkembangan tren kuliner serta sektor industri makanan di negara tersebut.

Berdasarkan pencatatan dari Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang bulan Januari sampai Mei 2026, total kapulaga yang dikapalkan Indonesia ke pasar China menyentuh angka 3.604 ton.

Angka itu merepresentasikan porsi sebesar 98% dari keseluruhan ekspor komoditas kapulaga secara nasional. Nilai perdagangan dari volume ekspor tersebut menyentuh 17,8 juta dolar AS atau berkisar Rp319,7 miliar dengan perhitungan kurs senilai Rp17.960 per dolar AS.

Produk kapulaga menjadi bahan baku yang bernilai strategis lantaran dimanfaatkan secara luas pada hidangan tradisional di China, khususnya menu hotpot yang memerlukan bahan penyedap beraroma tajam serta memberikan efek hangat. 

Masifnya konsumsi terhadap kuliner kaya bumbu ini membuat keperluan terhadap kapulaga berjalan konsisten bahkan memperlihatkan tren penguatan.

Di samping produk kapulaga, komoditas biji pala pun membukukan pencapaian ekspor yang sangat berarti. Sepanjang bulan-bulan awal tahun 2026, Indonesia tercatat telah mengirimkan sebanyak 4.020 ton biji pala ke pasar China, yang menghasilkan nilai perdagangan sebesar 19,9 juta dolar AS atau mendekati Rp357,4 miliyar.

Bukan hanya itu, beberapa jenis rempah-rempah lainnya ikut andil dalam menyumbangkan pendapatan devisa dari pasar negeri tersebut. Angka ekspor untuk komoditas cengkeh berada di posisi 3,2 juta dolar AS, sedangkan untuk lada putih berada di angka 2,2 juta dolar AS dan produk lada hitam menyentuh nominal 5,5 juta dolar AS.

Capaian perdagangan luar negeri ini mengindikasikan bahwa pasar China tetap menyimpan prospek yang sangat besar bagi komoditas rempah asal tanah air. 

Kebutuhan tersebut tidak sekadar bersumber dari pemakaian rumah tangga, melainkan turut mengalir ke sektor industri pengolahan makanan, produk minuman, hingga bisnis farmasi.

Oleh karena itu, otoritas pemerintah Indonesia senantiasa memacu perluasan pasar lewat beraneka ragam program pengenalan produk serta diplomasi komersial. 

Langkah konkret yang diambil di antaranya dengan ikut serta dalam ajang pameran berskala global yakni China Food Trade Fair 2026 yang dilaksanakan di kota Wuhan pada pengujung Maret yang lalu.

Melalui keikutsertaan dalam kegiatan pameran tersebut, para pebisnis asal Indonesia memperoleh peluang emas untuk memperlebar koneksi kemitraan usaha sekaligus mempromosikan keunggulan mutu rempah-rempah khas nusantara ke kancah dunia.

Melihat ke depan, prospek pengapalan rempah dari Indonesia diprediksi masih akan membentang luas, khususnya didorong oleh naiknya preferensi masyarakat global terhadap konsumsi makanan yang menyehatkan serta natural. 

Walakin, para pelaku usaha lokal juga musti bersiap menghadapi sejumlah hambatan berupa pemenuhan regulasi mutu, jaminan kesinambungan stok barang, serta rivalitas dagang dengan negara-negara produsen kompetitor.

Apabila dikelola dengan bauran strategi yang jitu, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengukuhkan statusnya sebagai salah satu negara pengekspor komoditas rempah terbesar di level global, sekaligus memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua