Sentimen Makro Global Menjadi Penghambat Arus Dana Asing ke Saham RI

Ilustrasi: Saham big caps di BEI diperdagangkan di bawah valuasi historis, namun belum menarik akumulasi investor asing. (Foto: NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 07 Juli 2026 | 17:24:46 WIB

JAKARTA – Sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya. Namun, kondisi tersebut belum mampu menarik investor asing untuk melakukan akumulasi secara agresif.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa keengganan investor asing mengakumulasi saham big caps bukan semata-mata disebabkan oleh faktor valuasi. Investor global tetap mengutamakan berbagai faktor fundamental dan makroekonomi sebelum meningkatkan eksposur di pasar saham domestik.

"Menurut saya, persoalannya bukan semata-mata valuasi. Investor asing lebih mempertimbangkan beberapa aspek," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Menurutnya, investor asing kini lebih mencermati arah kebijakan suku bunga global serta stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang berpengaruh pada keuntungan investasi.

Selain itu, kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia dan prospek pertumbuhan laba emiten menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan investasi. Nafan mencatat bahwa pelemahan harga saham big caps saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dibandingkan fundamental masing-masing emiten.

"Faktor Makro, tekanan pada nilai tukar rupiah, penyesuaian suku bunga global, serta fluktuasi cadangan devisa menjadi penentu utama pergerakan capital outflow dari aset ekuitas emerging markets," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Di sisi lain, fundamental sejumlah emiten besar seperti BBCA, BMRI, dan TLKM dinilai masih relatif solid dengan pertumbuhan profitabilitas yang terjaga.

Hal tersebut mencerminkan bahwa ekonomi domestik masih tumbuh di kisaran 5 persen, sehingga tekanan harga lebih dipicu sentimen makro global. "Faktor fundamental, secara internal, emiten seperti BBCA, BMRI, maupun TLKM sebenarnya masih mencatatkan pertumbuhan profitabilitas dan efisiensi operasional yang terjaga, mencerminkan ekonomi domestik yang masih tumbuh di kisaran 5 persen," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Kondisi saham big caps yang berada di bawah valuasi historisnya lebih mencerminkan peluang investasi jangka panjang dibandingkan value trap. Perusahaan-perusahaan tersebut dinilai punya potensi memperoleh manfaat lebih cepat ketika siklus makroekonomi membaik, didukung peningkatan daya beli masyarakat.

"Big caps Indonesia menguasai pangsa pasar esensial (perbankan, telekomunikasi, infrastruktur konsumen) yang akan langsung menangkap momentum ketika siklus makro berbalik arah dan daya beli domestik kembali berakselerasi," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Senada dengan itu, Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan aliran dana global ke aset berisiko masih dibatasi oleh kondisi likuiditas yang ketat.

Faris menyebut besarnya utang pemerintah di berbagai negara membuat investor global cenderung lebih selektif dalam mengalokasikan dana. "Dari sisi fund global, ada faktor ketatnya likuiditas karena utang pemerintah jatuh tempo, sehingga apresiasi terhadap aset high risk seperti saham masih bersifat selektif di developed market," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Meski demikian, kondisi ini dinilai sebagai peluang bagi investor untuk mengoleksi saham dengan fundamental kuat dan pengelolaan bisnis yang prudent. Sebaliknya, saham berkapitalisasi menengah hingga kecil dipandang lebih rentan terhadap tekanan ketidakpastian ekonomi.

"Untuk emiten dengan bisnis yang sudah dikenal prudent, tentu ini bisa dilihat sebagai opportunity, sedangkan bagi saham dengan middle to small cap, kondisi ekonomi yang kurang menentu sering kali membuat bisnis kurang baik, karena modal kerja yang tinggi," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Reporter: Akbar