Di Tengah Tekanan Sektor Perbankan, BBCA dan BRIS Tetap Menarik

Ilustrasi: BBCA dan BRIS tetap menarik di tengah tekanan sektor perbankan Indonesia. (Foto: NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 07 Juli 2026 | 15:58:02 WIB

JAKARTA – Prospek sektor perbankan Indonesia diperkirakan menghadapi tantangan yang lebih berat ke depan. Analis Sucor Sekuritas, Edward Lowis dan Karen Chow, memangkas proyeksi laba, target harga, serta menurunkan rekomendasi sejumlah saham bank karena menilai tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM) akan semakin besar.

Dalam riset bertajuk A Tougher Cycle for Margins and Multiples yang terbit pada 3 Juli 2026, Sucor Sekuritas menilai era suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama telah mengubah prospek industri perbankan. Imbal hasil instrumen bebas risiko yang tetap tinggi mendorong kenaikan biaya pendanaan bank, terutama untuk dana institusi dan deposito bernilai besar.

Pelemahan rupiah dinilai meningkatkan risiko inflasi impor sekaligus membuka peluang kenaikan suku bunga kebijakan. Kondisi tersebut menekan daya beli masyarakat dan berpotensi mengurangi kemampuan debitur dalam membayar pinjaman.

Sucor memperkirakan biaya dana akan terus meningkat sepanjang 2026-2027, sementara penyesuaian bunga kredit berlangsung lebih lambat. Akibatnya, margin bunga bersih diperkirakan menyempit, terutama pada bank dengan porsi dana murah (CASA) yang rendah.

Tekanan terhadap NIM menjadi alasan utama revisi proyeksi kinerja tersebut. Sucor memangkas estimasi laba bank-bank besar dalam cakupannya sebesar 13 persen untuk 2026 dan 20 persen untuk 2027.

Proyeksi NIM juga diturunkan sebesar 21 basis poin untuk 2026 dan 38 basis poin pada 2027. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan kredit direvisi menjadi 5-7 persen pada 2026 dan 6-8 persen pada 2027, lebih rendah dari estimasi sebelumnya.

Revisi tersebut mencerminkan kondisi likuiditas yang lebih ketat serta sikap perbankan yang lebih berhati-hati. Sucor juga menaikkan asumsi biaya kredit karena bank diperkirakan memperkuat pencadangan untuk mengantisipasi potensi memburuknya kualitas aset.

Menurut Sucor, valuasi saham bank memang terlihat murah, namun patokan valuasi yang wajar kini dinilai telah bergeser lebih rendah. Sebelumnya, kenaikan valuasi sektor perbankan didukung oleh suku bunga rendah serta prospek pertumbuhan laba yang jelas.

Kini kondisi tersebut telah berbalik sehingga Sucor memangkas target harga saham perbankan dalam cakupannya rata-rata 26 persen. Perubahan itu didasarkan pada kenaikan asumsi tingkat bebas risiko dalam model valuasi menjadi 7,5-8,0 persen, yang turut meningkatkan biaya ekuitas.

Di tengah tekanan tersebut, Sucor menjadi lebih selektif dalam memilih saham perbankan. “Kami menjadi lebih selektif terhadap sektor perbankan karena prospek pertumbuhan laba dalam jangka pendek dinilai tidak lagi semenarik sebelumnya. Kenaikan biaya pendanaan, perlambatan pertumbuhan kredit, serta meningkatnya risiko kredit diperkirakan akan membatasi pertumbuhan laba sekaligus mengurangi potensi kenaikan valuasi saham,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Analis tetap menjagokan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai pilihan defensif berkat basis dana murah yang kuat serta kualitas aset yang solid. Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) masih menjadi pilihan utama untuk pertumbuhan jangka panjang berkat model bisnis yang menarik.

Sucor menilai posisi BRIS sebagai bank syariah terbesar di Indonesia serta peluang ekspansi bisnis bullion banking memberikan prospek yang menjanjikan. Sebaliknya, Sucor menurunkan rekomendasi BBRI, BMRI, BBNI, BBTN, dan BNGA menjadi hold.

Reporter: Akbar