Intip Prospek Saham Kesehatan di Tengah Masuknya Konglomerat

Ilustrasi Pergerakan Saham. (Foto: bisnis.com)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 07 Juli 2026 | 15:09:54 WIB

JAKARTA — Prospek saham sektor kesehatan diproyeksi tetap menjanjikan yang didukung oleh pertumbuhan struktural pascapandemi, masuknya investor konglomerasi besar, serta rencana IPO empat perusahaan medis baru. 

Hingga penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (3/7/2026), indeks kesehatan atau IDX Healthcare yang menaungi 38 emiten masih parkir di level 1.414,71. 

Posisi ini mencerminkan koreksi 31,47% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD). 

Pelemahan indeks sektoral ini bergerak searah dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga turun sekitar 32% sepanjang periode berjalan 2026.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan bahwa meski mengalami penurunan sejak awal tahun, prospek sektor kesehatan hingga akhir 2026 dan memasuki 2027 masih sangat konstruktif. 

"Penurunan indeks kesehatan ini lebih mencerminkan broad market sell-off di bursa saham domestik daripada terjadinya deteriorasi fundamental bisnis emiten," ujarnya, Minggu (5/7/2026). 

Menurut Wafi, permintaan struktural di sektor kesehatan tidak akan berubah karena tetap ditopang oleh faktor penuaan populasi serta penetrasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang semakin meluas.

Di sisi lain, gairah sektor ini juga ditopang oleh aksi masuknya konglomerasi besar seperti Grup Djarum dan Astra ke PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL), dan Chandra Asri milik Prajogo Pangestu ke PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA). 

"Masuknya konglomerasi sebagai smart money signal yang memvalidasi tesis investasi jangka panjang di sektor kesehatan," kata Wafi.

Katalis lain yang memperkuat prospek sektor ini adalah ekspansi JKN yang mendorong volume pasien, premiumisasi layanan, serta pipeline empat penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). 

Kehadiran empat perusahaan medis baru yang bersiap mencatatkan sahamnya itu diperkirakan bakal menambah kedalaman pilihan investasi bagi para pelaku pasar. 

Sejumlah stimulus sektor ini sekaligus menandai perubahan iklim operasional industri medis yang kini tak lagi bergantung pada lonjakan kasus darurat.

Wafi memaparkan industri kesehatan domestik saat ini mulai memasuki siklus pertumbuhan baru pasca-pandemi, meskipun polanya berjalan lebih gradual. 

Namun, investor diingatkan untuk mencermati titik buta berupa efek basis tinggi (high base effect) dari proses normalisasi operasional pascapandemi. 

Efek basis tinggi dari era pandemi tersebut, lanjut Wafi, dinilai berisiko menyamarkan data pertumbuhan kinerja keuangan organik yang riil di tubuh emiten saat ini. 

"Investor perlu membedakan antara pertumbuhan inti versus normalisasi efek basis tinggi sebelum memutuskan untuk masuk," tuturnya.

Reporter: Ibtihal