JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menunjukkan dinamika yang fluktuatif pada awal Februari 2026.
Setelah sempat menguat dalam beberapa sesi perdagangan, harga komoditas energi ini kembali melemah seiring perkembangan geopolitik global, khususnya terkait pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Informasi yang saling bertentangan mengenai kelanjutan dialog kedua negara tersebut menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar minyak internasional.
Di sisi lain, pasar juga mencermati data industri terbaru dari Amerika Serikat yang menunjukkan penyusutan persediaan minyak mentah secara signifikan dan tak terduga. Kondisi cuaca ekstrem yang melanda beberapa wilayah di AS turut berperan dalam mengganggu produksi serta distribusi minyak. Kombinasi faktor geopolitik dan fundamental inilah yang membuat harga minyak bergerak naik turun dalam waktu singkat.
Pergerakan Harga Minyak Terbaru Di Pasar Global
Harga minyak dunia tercatat sedikit menurun pada Rabu, 4 Februari 2026, setelah sebelumnya sempat menguat. Penurunan ini terjadi menyusul laporan yang menyebutkan bahwa pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran kembali dilanjutkan, setelah sebelumnya dikabarkan batal. Perkembangan hubungan kedua negara tersebut masih menjadi pendorong utama pergerakan harga minyak global.
Dikutip dari Investing.com, Kamis, 5 Februari 2026, harga minyak Brent berjangka untuk April naik 1,9 persen menjadi USD68,61 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh level USD69,75. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate berjangka juga menguat 1,7 persen ke level USD64,27 per barel. Meski demikian, kenaikan tersebut tidak bertahan lama akibat perubahan sentimen pasar.
Dinamika Pembicaraan Nuklir Amerika Serikat Dan Iran
Laporan dari Axios menyebutkan bahwa pembicaraan nuklir antara AS dan Iran sempat dinyatakan gagal setelah Amerika Serikat menolak untuk mengubah lokasi serta format pertemuan. Pertemuan tersebut awalnya dijadwalkan berlangsung pada Jumat. Informasi ini sempat menekan pasar dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Namun, Axios kemudian melaporkan bahwa pembicaraan tersebut kembali dilanjutkan. Keputusan ini diambil setelah sejumlah pemimpin Arab dan Muslim mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump untuk tidak menghentikan dialog dengan Teheran. Perubahan arah informasi ini membuat pelaku pasar kembali menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap pasokan minyak global.
Sikap Iran Dan Ketegangan Di Kawasan Timur Tengah
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengonfirmasi melalui platform X bahwa pembicaraan nuklir dijadwalkan akan digelar di Muscat pada Jumat. Meski demikian, para pejabat Iran sebelumnya menuntut agar pembicaraan tersebut dipersempit menjadi negosiasi dua arah yang hanya membahas isu nuklir. Sikap ini sempat memicu keraguan mengenai kelangsungan dialog secara keseluruhan.
Di tengah ketidakpastian diplomatik, ketegangan militer di kawasan juga meningkat. Laporan pada malam sebelumnya menyebutkan bahwa Amerika Serikat menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati kapal induk AS di Laut Arab. Insiden ini menambah kekhawatiran pasar akan potensi konflik terbuka yang dapat mengganggu pasokan energi.
Ancaman Keamanan Dan Risiko Gangguan Pasokan Minyak
Secara terpisah, sekelompok kapal perang Iran dilaporkan terlihat mendekati kapal tanker berbendera Amerika Serikat di Selat Hormuz. Wilayah ini merupakan salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia, sehingga setiap gangguan keamanan berpotensi berdampak besar terhadap pasokan global.
Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan ancamannya untuk melakukan tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran jika negara tersebut tidak memenuhi tuntutan Amerika Serikat untuk mengekang program nuklirnya. Menanggapi hal tersebut, Teheran memperingatkan akan memberikan pembalasan keras terhadap setiap bentuk agresi AS. Peningkatan tensi militer di Timur Tengah ini menjadi salah satu faktor yang sempat menopang harga minyak dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Penyusutan Persediaan Minyak Amerika Serikat
Selain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapat dukungan dari data industri yang menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat secara signifikan. Data yang dirilis American Petroleum Institute mencatat bahwa persediaan minyak AS menyusut sebesar 11,1 juta barel pada pekan hingga 30 Januari. Angka ini jauh berbeda dari ekspektasi pasar yang memperkirakan adanya peningkatan sebesar 0,7 juta barel.
Data dari API kerap menjadi indikator awal bagi data persediaan resmi pemerintah AS yang biasanya dirilis kemudian. Oleh karena itu, laporan ini langsung memengaruhi sentimen pelaku pasar dan mendorong spekulasi mengenai kondisi pasokan minyak dalam jangka pendek.
Dampak Cuaca Ekstrem Terhadap Produksi Energi
Penyusutan persediaan minyak tersebut terjadi di tengah cuaca dingin ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Amerika Serikat. Kondisi cuaca ini mengganggu aktivitas produksi minyak di berbagai ladang, sekaligus menghambat proses distribusi dan ekspor dari kawasan pantai Teluk. Gangguan ini membuat pasokan minyak dari AS menjadi lebih terbatas.
Dalam beberapa pekan terakhir, kendala produksi akibat cuaca telah membantu menopang harga minyak, meskipun pergerakannya masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Ke depan, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan pembicaraan nuklir AS dan Iran, serta data persediaan energi, sebagai acuan utama dalam menentukan arah harga minyak dunia.