Harga Minyak Dunia Terus Menguat Dipicu Ketegangan Militer Amerika Serikat Iran

Kamis, 05 Februari 2026 | 09:18:05 WIB
Harga Minyak Dunia Terus Menguat Dipicu Ketegangan Militer Amerika Serikat Iran

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menunjukkan tren positif pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026. 

Kenaikan ini melanjutkan penguatan dari sesi sebelumnya, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi keamanan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan utama pelaku pasar, karena dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global dalam waktu dekat.

Sentimen pasar cenderung berhati-hati namun tetap responsif terhadap setiap perkembangan terbaru. Insiden militer yang terjadi di sekitar jalur pelayaran strategis kembali memunculkan kekhawatiran akan gangguan distribusi minyak. Kondisi tersebut mendorong harga minyak bergerak naik, seiring meningkatnya persepsi risiko di pasar komoditas energi internasional.

Pergerakan Harga Minyak Di Bursa Internasional

Harga minyak dunia tercatat melanjutkan peningkatan pada perdagangan Rabu. Mengutip laporan Reuters, harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Maret 2026 naik 52 sen atau sekitar 0,8 persen. Dengan kenaikan tersebut, harga WTI berada di level US$63,73 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman April 2026 juga mengalami penguatan. Brent tercatat naik 46 sen atau sekitar 0,7 persen, sehingga diperdagangkan pada level US$67,79 per barel di London ICE Futures Exchange. Kenaikan pada kedua acuan utama ini mencerminkan reaksi pasar terhadap meningkatnya risiko geopolitik.

Ketegangan Militer Dorong Sentimen Pasar Energi

Penguatan harga minyak dunia tidak terlepas dari insiden militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak naik setelah militer Amerika Serikat menembak jatuh sebuah drone Shahed-139 milik Iran. Drone tersebut dilaporkan terbang menuju kapal induk USS Abraham Lincoln dengan intensi yang tidak jelas.

Peristiwa ini menambah ketegangan di kawasan yang selama ini menjadi pusat perhatian pasar energi global. Setiap potensi konflik yang melibatkan dua negara tersebut kerap memicu reaksi cepat di pasar minyak, mengingat peran strategis Timur Tengah dalam rantai pasok energi dunia.

Insiden Di Selat Hormuz Jadi Perhatian Investor

Selain penembakan drone, insiden lain juga terjadi di Selat Hormuz. Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa tiga kapal militer Iran sempat mendekati kapal tanker berbendera Amerika Serikat, Stena Imperative. Meski demikian, insiden tersebut tidak berujung pada kontak senjata antara kedua pihak.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia. Setiap aktivitas militer di wilayah ini langsung menjadi perhatian investor, karena berpotensi mengganggu pengiriman minyak dari negara-negara produsen utama ke pasar internasional. Meski tidak terjadi eskalasi lebih lanjut, ketegangan tersebut sudah cukup memengaruhi sentimen pasar.

Respons Pasar Terhadap Risiko Geopolitik

Pelaku pasar cenderung memasukkan faktor risiko geopolitik sebagai salah satu pertimbangan utama dalam menentukan posisi perdagangan. Insiden yang melibatkan aset militer dan kapal tanker meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan gangguan pasokan, meskipun belum ada indikasi nyata terjadinya penghentian distribusi minyak.

Dalam kondisi seperti ini, harga minyak sering kali mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan lindung nilai. Investor memilih mengantisipasi risiko lebih awal, sehingga mendorong kenaikan harga meskipun faktor fundamental lain relatif stabil. Hal ini terlihat dari penguatan harga WTI dan Brent yang terjadi secara bersamaan.

Prospek Harga Minyak Dalam Waktu Dekat

Ke depan, pergerakan harga minyak dunia diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Selama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum mereda, pasar akan tetap sensitif terhadap setiap laporan insiden militer atau pernyataan resmi dari kedua negara.

Di sisi lain, pelaku pasar juga akan terus mencermati faktor lain seperti data persediaan minyak, kebijakan produksi negara-negara penghasil minyak, serta kondisi permintaan global. Kombinasi antara faktor fundamental dan geopolitik ini akan menentukan arah harga minyak dalam beberapa waktu mendatang, dengan volatilitas yang berpotensi tetap tinggi.

Terkini