Indonesia Dihimbau Hentikan Hilirisasi Nikel Jika Tak Melakukan Eksplorasi Lebih Lanjut
- Jumat, 21 Februari 2025
JAKARTA - Indonesia, salah satu produsen nikel terbesar dunia, menghadapi ancaman serius terkait kelangsungan industri hilirisasi nikel. Menurut Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), STJ Budi Santoso, cadangan nikel yang dimiliki Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan smelter dalam jangka panjang. Situasi ini memerlukan solusi mendesak mengingat pentingnya nikel bagi industri smelter di tanah air.
Cadangan Nikel di Indonesia
Data terbaru hingga tahun 2022 menunjukkan bahwa cadangan nikel saprolite dengan kadar 1,5-3% diperkirakan bertahan hanya delapan tahun. Sementara itu, cadangan nikel limonite dengan kadar 0,8-1,5% memiliki kemungkinan bertahan hingga 10 tahun. Informasi ini mengisyaratkan bahwa ada batasan waktu signifikan yang harus diperhatikan oleh para pemangku kepentingan. “Kondisi ini mengisyaratkan ancaman besar bagi kelangsungan industri nikel jika tidak ada intervensi lebih mendalam,” jelas Budi Santoso.
Tantangan dalam Hilirisasi Nikel
Saat ini, kebijakan hilirisasi nikel di Indonesia menghadapi tantangan besar, di mana fokusnya lebih condong pada meningkatkan nilai tambah dari komoditas ini tanpa mempertimbangkan umur cadangan dengan sungguh-sungguh. Upaya untuk melakukan hilirisasi yang berkelanjutan menuntut perhatian tidak hanya pada jumlah cadangan saat ini, tapi juga strategi jangka panjang yang mampu menjamin pasokan nikel tetap tersedia. “Hilirisasi tak boleh hanya menjadi wacana sesaat tanpa adanya perencanaan matang untuk mempertahankan pasokan bahan baku,” tegas Budi.
Pentingnya Eksplorasi Nikel
Budi Santoso menekankan bahwa untuk memperpanjang usia cadangan nikel, eksplorasi lebih lanjut menjadi solusi utama. Dengan eksplorasi yang intensif dan tepat, usia cadangan nikel bisa diperpanjang lebih dari 10 tahun. Ini menempatkan pemerintah dan industri dalam posisi yang sangat penting untuk menekankan eksplorasi sebagai langkah jangka panjang dalam menghadapi permasalahan cadangan yang ada. “Perhatian pada eksplorasi jangan hanya pada kuantitas tetapi juga kualitas dan ketepatan proses,” tambah Budi.
Kerjasama untuk Solusi Jangka Panjang
Menghadapi tekanan ini, kerjasama antara pemerintah, sektor industri, dan para ahli geologi diperlukan untuk mencari solusi terbaik. Eksplorasi yang dilakukan tidak boleh hanya sebatas menambah cadangan tetapi juga meningkatkan kualitas dan efisiensi dari cadangan yang ada. Melalui kerjasama yang solid, Budi Santoso optimis bahwa ancaman ini bisa diatasi. “Pemerintah dan industri harus berjalan beriringan dalam pencarian solusi agar tidak sekadar mengejar target jangka pendek,” ujarnya.
David
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Dinamika Sembako Kehidupan: Ramalan Zodiak Hari Ini Fokus Evaluasi Rencana
- Kamis, 05 Februari 2026
Dinamika Internal Real Madrid: Isu Konflik Mencuat Akibat Eksperimen Taktik Arbeloa
- Kamis, 05 Februari 2026
IFEX 2026 Jadi Ajang Promosi Daya Saing Industri Mebel Indonesia Global
- Kamis, 05 Februari 2026
Berita Lainnya
INACRAFT 2026 Tampilkan 11 Zona Tematik untuk Pengalaman Belanja yang Efisien
- Kamis, 05 Februari 2026
Pemkot Surabaya Buka Pelatihan untuk Tingkatkan Keahlian Tukang Bangunan
- Kamis, 05 Februari 2026
Terpopuler
1.
Pembukaan Tol Fungsional di Solo-Yogya dan Yogya-Bawen Lebaran 2026
- 05 Februari 2026
2.
3.
Buku Manasik Haji 2026 Kemenhaj Fokuskan Kemudahan untuk Lansia
- 05 Februari 2026
4.
Daftar 20 Kampus Paling Unggul di Asia Edisi TIME-Statista 2026
- 05 Februari 2026
5.
Xiaomi SU7 Geser Dominasi Tesla di Pasar Sedan Listrik China
- 05 Februari 2026












