Breaking

Suku Bunga The Fed Naik 25 Bps, Begini Prospek Bitcoin dan Ethereum

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Sabtu, 19 September 2026
Suku Bunga The Fed Naik 25 Bps, Begini Prospek Bitcoin dan Ethereum
Ilustrasi Bitcoin dan Ethereum (FOTO : NET)

JAKARTA – Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) ke level 3,75%–4,00% menjadi perhatian utama pasar aset kripto.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Jumat (18/9/2026) jam 14.00 WIB, Bitcoin (BTC) menguat 1,19% dalam 24 jam terakhir ke level US$77.430,67 dengan kapitalisasi pasar US$1,55 triliun dan volume transaksi US$24,05 miliar, sedangkan Ethereum (ETH) naik 1,72% ke posisi US$2.483,66 dengan kapitalisasi pasar US$303,20 miliar dan volume transaksi US$12,85 miliar.

Kenaikan suku bunga sebesar 25 bps tersebut pada dasarnya telah diantisipasi oleh pelaku pasar, sehingga respons harga aset berisiko pasca pengumuman FOMC relatif terbatas.

Kendati demikian, tekanan terhadap pasar kripto dinilai belum sepenuhnya mereda karena ruang pelonggaran kebijakan moneter AS masih sempit.

Dengan proyeksi inflasi PCE AS 2026 sebesar 3,7% yang masih di atas target 2%, suku bunga acuan berpotensi bertahan di level tinggi lebih lama (higher for longer).

CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menilai, fokus investor saat ini sebaiknya tertuju pada arah kebijakan moneter The Fed ke depan, bukan sekadar keputusan kenaikan suku bunga saat ini.

Jika The Fed tetap mengambil sikap hawkish atau kembali menaikkan suku bunga, likuiditas pasar akan makin mengetat dan memberikan tekanan lanjutan pada aset berisiko tinggi.

"Kenaikan suku bunga The Fed pada dasarnya membuat biaya pendanaan menjadi lebih mahal dan kondisi likuiditas cenderung lebih ketat," ujar Yudhono sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pengetatan likuiditas dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, seperti tenor 2 tahun di kisaran 4,74% dan 10 tahun sekitar 5,01% per 16 September, membuat instrumen pendapatan tetap berbasis dolar AS menjadi lebih menarik.

Hal ini memicu sebagian investor mengurangi porsi investasi pada aset tanpa imbal hasil (non yielding asset) seperti kripto.

Namun, Yudhono mencatat bahwa kondisi likuiditas pasar tidak lantas mengering secara drastis karena The Fed tetap menjaga ample reserves pada sistem perbankan.

Untuk menghadapi situasi makroekonomi ini, Yudhono menyarankan investor jangka panjang menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA) secara bertahap dan menghindari penggunaan leverage berlebihan, serta lebih selektif terhadap Ethereum dan altcoin yang sensitif terhadap pergerakan likuiditas.

Di tengah tingginya volatilitas pasar global hingga akhir tahun, prospek pergerakan aset digital dinilai masih menyimpan peluang penguatan.

"Saya proyeksikan hingga akhir 2026, Bitcoin dan Ethereum masih memiliki peluang untuk bergerak lebih tinggi, meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi seiring pengaruh kebijakan The Fed, inflasi, dan likuiditas global," kata Yudhono sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hingga akhir 2026, Bitcoin diproyeksikan berpotensi bergerak pada kisaran US$80.000–US$100.000 per BTC. Sementara itu, harga Ethereum diperkirakan akan berfluktuasi di rentang US$2.800–US$3.300 per ETH.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua