Breaking

43 Perusahaan AS Ciptakan Nilai Ekonomi Rp 434 Triliun di Indonesia

RE
Kamis, 17 September 2026
43 Perusahaan AS Ciptakan Nilai Ekonomi Rp 434 Triliun di Indonesia

TEROPONGBISNIS.IDUS-ASEAN Business Council mencatat 43 perusahaan Amerika Serikat menciptakan nilai ekonomi Rp 434 triliun di Indonesia lewat 91 inisiatif inovasi sepanjang Januari 2020 hingga Januari 2026. Capaian itu terangkum dalam Laporan BISA 2026 yang diluncurkan di Jakarta. Nilai tersebut menyentuh langsung jutaan penerima manfaat, terutama lewat pelatihan digital dan pengembangan keterampilan.

Angka Rp 434 triliun setara sekitar USD 24,8 miliar. Nilai itu berasal dari 28 inisiatif inovasi yang teridentifikasi lengkap oleh USABC.

Rincian 91 Inovasi dari 43 Perusahaan

Executive VP of Research and Chief Policy Officer US-ASEAN Business Council, Marc Mealy, menyebut laporan ini menjangkau periode Januari 2020 hingga Januari 2026. Dari rentang itu, tercatat 91 contoh inovasi yang dijalankan 43 perusahaan AS.

"Laporan BISA 2026 mengidentifikasi 91 contoh inovasi yang dilakukan oleh 43 perusahaan Amerika Serikat di Indonesia sepanjang Januari 2020 hingga Januari 2026," kata Marc dalam peluncuran laporan di The Westin, Jakarta, Rabu (16/9).

Marc menekankan sisi yang jarang disorot dari investasi asing, yakni transfer keterampilan. Menurutnya, inovasi semacam ini membuka peluang bagi masyarakat Indonesia untuk memperkuat bisnis dan berkontribusi pada pertumbuhan jangka panjang.

Siapa yang Merasakan Manfaatnya

Strategic Communications Lead USABC, Wanda Firmansyah, merinci sebaran dampak inovasi tersebut. Sebanyak 41 persen di antaranya menyasar pembangunan sumber daya manusia.

Angkanya konkret: 10,7 juta penerima manfaat, termasuk 4 juta perempuan. Lebih dari 1 juta orang tercatat mengikuti pelatihan digital.

Wanda menyebut pelatihan digital menyasar pekerja, pelajar, keluarga, penyandang disabilitas, hingga kelompok rentan. Sektor energi dan pertambangan mendominasi, mencakup sekitar 58 persen dari total inovasi bersama perusahaan minyak, gas, serta makanan dan minuman.

Sementara itu, 22 persen inovasi menyentuh ketahanan energi, konservasi, efisiensi sumber daya, dan pengurangan limbah. Sebanyak 37 persen sisanya mendorong daya saing bisnis.

Kesenjangan Inovasi di Perusahaan Lokal

Ketua Apindo, Shinta Kamdani, mengakui inovasi di kalangan pelaku usaha Indonesia masih rendah. Menurutnya, inovasi semestinya masuk prioritas utama, bukan sekadar agenda tambahan.

"Inovasi itu is everything. Jadi menurut saya Indonesia ini memang mungkin fokus prioritas di inovasinya masih kurang tinggi," ujar Shinta.

Survei Apindo awal tahun lalu memperkuat gambaran itu. Sebanyak 97 persen perusahaan di Indonesia menilai riset dan pengembangan (RnD) belum terlalu penting.

Dari jumlah tersebut, 50 persen perusahaan belum punya rencana menjalankan RnD. Sebanyak 28 persen masih mempertimbangkannya, dan hanya 22 persen yang punya rencana jelas.

Shinta menyebut kondisi itu sebagai implementation gap, jarak antara kesadaran akan pentingnya inovasi dan eksekusinya di lapangan.

Laporan BISA 2026 menempatkan investasi AS bukan sekadar soal nilai uang yang masuk, melainkan soal keterampilan yang tertinggal pada masyarakat. Bagi Indonesia, pekerjaan rumahnya ada di sisi lain: mendorong perusahaan lokal mengejar ketertinggalan inovasi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua