Breaking

Investor SBN Capai 1,57 Juta, Minat Ritel Tetap Terjaga

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 16 September 2026
Investor SBN Capai 1,57 Juta, Minat Ritel Tetap Terjaga
Ilustrasi Jumlah investor surat berharga negara (SBN) terus meningkat sepanjang tahun ini. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Jumlah investor surat berharga negara (SBN) terus meningkat sepanjang tahun ini. Pertumbuhan tersebut menunjukkan SBN ritel masih memiliki basis investor tersendiri, meski pertambahannya belum secepat jumlah investor di pasar modal.

Head of PR & Corporate Communication Bibit.id William mengatakan jumlah investor SBN bertambah sekitar 150.000 orang dari akhir 2025 hingga akhir Juli 2026. Dengan penambahan tersebut, total investor SBN kini mencapai sekitar 1,57 juta.

“Kalau perkembangan jumlah investor SBN, ini slowly but sure. Tidak sekencang itu tapi konsisten. Sebagai perbandingan, dari akhir 2025 ke akhir Juli 2026, ada penambahan sekitar 150 ribu investor SBN baru. Sekarang total ada di 1,57 juta investor,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut William, SBN memiliki kelompok investor tersendiri sehingga perubahan kondisi ekonomi tidak langsung mengubah pola investasi pada instrumen tersebut. Kemudahan akses juga menjadi salah satu karakteristik yang membuat SBN tetap dapat menjangkau investor ritel.

“Pola yang signifikan berubah untuk investor di Bibit tidak ada. Dalam keadaan perekonomian apapun, SBN tetap sudah punya niche-nya tersendiri. Apalagi barrier to entry-nya Rp 1 juta. Jadi cukup menarik sebagai alternatif investasi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pola tersebut juga terlihat pada penawaran SR025. William menyebut investor cenderung menahan dana dan baru menentukan keputusan ketika masa penawaran mendekati akhir. Perilaku tersebut membuat transaksi SBN ritel berpotensi meningkat menjelang penutupan.

“SR025 memberikan contoh bahwa ketika yield cukup menarik dan fixed rate dapat dikunci, investor ritel dapat meningkatkan alokasi, terutama menjelang penutupan masa penawaran. Mungkin di sini ada faktor psikologis dan perilaku investor yang wait and see, menahan dulu cash mereka sampai menjelang akhir masa penawaran untuk membuat keputusan investasi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

William juga menyampaikan bahwa basis investor SBN masih berpeluang terus bertambah. Menurutnya, pertumbuhan investor yang konsisten menjadi salah satu indikasi bahwa SBN ritel masih memiliki ruang di tengah banyaknya pilihan investasi.

Sementara itu, Chief Economist BCA David Sumual menambahkan bahwa pertumbuhan jumlah investor tidak selalu diikuti peningkatan alokasi dana pada setiap penerbitan SBN ritel.

“Di tengah yield tinggi, investor akan makin selektif. Likuiditas rumah tangga turut terbatas karena kebutuhan menjaga konsumsi di tengah tekanan biaya hidup, ditambah pilihan instrumen lain yang menawarkan yield lebih kompetitif,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut David, investor juga memiliki berbagai pilihan instrumen sehingga keputusan investasi tidak semata-mata ditentukan oleh bertambahnya jumlah investor SBN. Karakteristik produk, jangka waktu, serta fleksibilitas instrumen turut menjadi pertimbangan dalam menentukan alokasi.

Berdasarkan pantauan pada Rabu (16/9/2026) pukul 10.30 WIB, SR025-T3 masih menyisakan 1,33% dari kuota Rp 15 triliun. Sementara itu, SR025-T5 masih menyisakan 20,52% dari kuota Rp 5 triliun.

Meski demikian, angka tersebut belum menggambarkan realisasi penjualan akhir karena masa penawaran baru ditutup dua jam kemudian. Data penjualan final SR025 masih menunggu pengumuman resmi.

Sebagai informasi, setelah penawaran SR025 berakhir, pemerintah dijadwalkan kembali menawarkan SBN ritel melalui SBR015 pada 28 September-22 Oktober 2026. Selanjutnya, ST017 akan memasuki masa penawaran pada 6 November-2 Desember 2026.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua