Breaking

Tekanan Rupiah Jelang Pengumuman Kebijakan Suku Bunga The Fed AS

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 16 September 2026
Tekanan Rupiah Jelang Pengumuman Kebijakan Suku Bunga The Fed AS
Ilustrasi Tekanan Rupiah (FOTO : NET)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed).

Pada pembukaan perdagangan Rabu (16/9/2026), rupiah berada di level Rp17.731 per dollar AS. Posisi ini melemah dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.694 per dollar AS.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. Penguatan dollar AS, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan lonjakan harga minyak juga membebani rupiah.

"Jadi tekanan rupiah tidak semata-mata berasal dari suku bunga The Fed, tetapi dari paket risiko global yang cukup berat," ujar Josua sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan sempat menembus 5 persen. Sementara itu, harga minyak mentah Brent masih berada di kisaran 108 dollar AS per barel.

Josua menilai kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin kemungkinan tidak menjadi kejutan besar bagi pasar. Ekspektasi kenaikan tersebut sudah tercermin dalam harga aset di pasar keuangan.

"Kenaikan 25 basis poin sendiri sudah sebagian besar tercermin dalam harga pasar," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Karena itu, investor akan lebih mencermati komunikasi The Fed mengenai arah kebijakan moneter setelah pertemuan. Pasar akan melihat apakah kenaikan suku bunga tersebut hanya dilakukan satu kali atau menjadi awal dari rangkaian kenaikan berikutnya.

Isi komunikasi The Fed dinilai lebih menentukan arah rupiah dibandingkan besaran kenaikan suku bunga. Jika The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin tetapi memberikan sinyal bahwa keputusan berikutnya akan bergantung pada data ekonomi AS, rupiah berpeluang mendapat ruang penguatan.

"Karena probabilitasnya di atas 90 persen, keputusan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin tanpa pesan tambahan yang lebih ketat seharusnya tidak otomatis menyebabkan pelemahan rupiah yang besar," ucapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebaliknya, jika The Fed memberi sinyal suku bunga masih berpotensi dinaikkan beberapa kali, tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut.

"Karena investor telah lebih dahulu menjual obligasi dan membeli dolar," ucapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain kebijakan The Fed, Josua menilai harga minyak menjadi salah satu faktor penting bagi pergerakan rupiah. Harga Brent yang masih berada di atas 100 dollar AS per barel berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor energi. Pada saat yang sama, harga energi yang tinggi juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi.

Kondisi tersebut dapat mendorong bank sentral global, termasuk The Fed, mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

"Konflik geopolitik meningkatkan harga energi, mendorong inflasi global, memperkuat dolar dan mengalihkan modal ke aset negara maju," tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dengan kondisi tersebut, arah rupiah akan dipengaruhi kombinasi perkembangan harga minyak, imbal hasil obligasi pemerintah AS, indeks dollar AS, dan arus modal asing.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua