Breaking

Produksi Rokok Naik 9,76 Persen, GGRM dan HMSP Masih Tertekan

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 11 September 2026
Produksi Rokok Naik 9,76 Persen, GGRM dan HMSP Masih Tertekan
Ilustrasi Produksi rokok nasional mencatat pertumbuhan pada semester I-2026. (sumber foto: NET)

JAKARTA – Produksi rokok nasional mencatat pertumbuhan pada semester I-2026. Namun, peningkatan produksi tersebut belum menunjukkan adanya pemulihan permintaan di pasar.

Volume penjualan industri rokok masih terkoreksi, yang mencerminkan tekanan terhadap daya beli masyarakat sekaligus pergeseran konsumsi menuju produk dengan harga yang lebih murah.

Data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan produksi rokok nasional mencapai 157,4 miliar batang pada semester I-2026.

Angka tersebut meningkat 9,76% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian itu juga menjadi tingkat produksi tertinggi dalam tujuh tahun terakhir sejak 2019.

Analis Panin Sekuritas Sarkia Adelia mengatakan kenaikan produksi belum sepenuhnya menunjukkan peningkatan permintaan maupun volume penjualan rokok secara nasional.

Performa industri juga memperlihatkan perbedaan di antara emiten, khususnya antara pemain tier I dan tier II.

Emiten rokok tier I seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) masih mencatatkan pertumbuhan top line yang cenderung melambat. Sebaliknya, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) sebagai pemain tier II mampu membukukan pertumbuhan yang lebih kuat.

Pada Januari-Juni 2026, penjualan GGRM turun 7,19% secara tahunan menjadi Rp 41,2 triliun.

Sementara itu, penjualan HMSP tumbuh 2,39% yoy menjadi Rp 56,49 triliun. Adapun WIIM membukukan kenaikan penjualan sebesar 12,28% menjadi Rp 3,23 triliun.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai peningkatan produksi rokok tidak serta-merta memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan rokok.

"Tetap bergantung pada volume penjualan, harga jual, product mix, dan margin," ujar Azis kepada KONTAN, Kamis (10/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi tersebut juga tercermin dalam data Nielsen yang memperlihatkan volume penjualan industri rokok masih mengalami penurunan.

Direktur Gudang Garam Heru Budiman menyebut volume penjualan industri turun 6,8% pada semester I-2026.

Meski penurunan tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 7,9%, kondisi ini tetap mengindikasikan bahwa permintaan belum sepenuhnya pulih.

"Sigaret Kretek Mesin (SKM), sebagai segmen terbesar, mencatat penurunan sebesar 8,8%," kata Heru dalam paparan publik, Kamis (10/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Segmen SKM berkontribusi sebesar 62,2% terhadap total volume industri. Sementara itu, Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang memiliki harga lebih rendah karena beban cukai yang lebih kecil justru mencatat kenaikan pangsa pasar.

Pangsa SKT meningkat dari 27,1% pada Desember 2023 menjadi 33,4% pada Juni 2026.

Perubahan pola konsumsi tersebut turut dipengaruhi oleh akumulasi kenaikan tarif cukai yang besar sepanjang 2020-2024. Kondisi tersebut terutama berdampak pada produsen SKM tier I seperti Gudang Garam, di tengah tekanan daya beli masyarakat yang berlangsung cukup panjang.

Menurut Sarkia, kondisi itu memperlihatkan bahwa tantangan downtrading masih menjadi persoalan struktural bagi industri rokok, khususnya bagi pemain tier I.

Pelemahan daya beli serta pergeseran konsumen dari kelompok pendapatan menengah menuju menengah bawah membuat konsumen cenderung memilih rokok dengan harga yang lebih terjangkau.

Selain fenomena downtrading, industri rokok juga masih menghadapi persoalan berupa peredaran rokok ilegal, terbatasnya ruang untuk menaikkan harga rokok, serta tantangan regulasi. Meski demikian, terdapat indikasi stabilitas tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan Harga Jual Eceran (HJE) pada 2027.

Sarkia memperkirakan profitabilitas emiten rokok secara umum masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren positif ke depan. Namun, prospek tersebut bergantung pada tidak adanya kenaikan tarif CHT.

Untuk rekomendasi saham, Sarkia memberikan rekomendasi buy untuk GGRM dan HMSP. Masing-masing memiliki target harga Rp 26.500 dan Rp 1.150.

Sementara itu, Azis memberikan rekomendasi trading buy untuk GGRM dengan target harga Rp 21.050-Rp 21.100.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua