Breaking

Saham China Jadi Alternatif Eksposur AI, Minat Derivatif Naik

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 08 September 2026
Saham China Jadi Alternatif Eksposur AI, Minat Derivatif Naik
Ilustrasi Saham berkapitalisasi menengah dan kecil di China menarik minat karena potensi ekosistem AI domestik. (sumber foto: NET)

JAKARTA – Investor mulai mengalihkan perhatian ke saham-saham China sebagai alternatif untuk mendapatkan eksposur terhadap sektor kecerdasan buatan (AI), di tengah padatnya posisi pada saham teknologi Jepang dan Korea Selatan.

Meja perdagangan bank-bank besar mencatat kenaikan minat terhadap call options dan swap yang mengacu pada indeks CSI. Minat terutama terlihat pada saham berkapitalisasi menengah dan kecil karena investor menilai segmen tersebut menawarkan eksposur lebih besar terhadap perkembangan ekosistem AI domestik China.

Sejumlah faktor menopang strategi tersebut, termasuk reformasi pasar modal, upaya China memperkuat kemandirian teknologi, serta prospek perbaikan kinerja keuangan perusahaan perangkat keras teknologi.

Sektor teknologi kini menjadi sektor dengan bobot terbesar dalam CSI 300. Bobot sektor tersebut juga meningkat dalam indeks CSI 500 dan CSI 1000, mencerminkan semakin besarnya peran perusahaan teknologi di pasar saham China.

UBS baru-baru ini menyoroti CSI 500 sebagai salah satu alternatif investasi AI bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi dari pasar teknologi Asia lainnya.

Meja perdagangan UBS mencatat arus derivatif mingguan terbesar di Asia hingga 30 Agustus berasal dari posisi bullish terhadap indeks-indeks China, termasuk posisi long swap dalam jumlah besar pada CSI 300 dan CSI 500.

Barclays juga mencatat peningkatan minat terhadap call spread pada indeks saham China. Investor umumnya mengambil posisi untuk mengantisipasi kenaikan secara bertahap, bukan reli tajam dalam waktu singkat.

Perburuan saham China berlangsung meski kekhawatiran terhadap ekonomi dan dukungan pemerintah masih membayangi pasar. Indeks CSI 1000 masih sekitar 16% di bawah level tertingginya pada Mei, setelah mencatat penurunan bulanan terburuk sejak 2016 pada Juli.

Biaya opsi yang lebih rendah turut meningkatkan daya tarik strategi tersebut. Volatilitas tersirat telah turun mendekati rata-rata satu tahunnya, sehingga biaya untuk mengambil posisi atas potensi kenaikan saham menjadi lebih murah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua