Saham GOOG Turun, Google Cloud Tetap Tumbuh 82 Persen
JAKARTA – Saham Alphabet/Google (GOOG) ditutup melemah 1,11 persen ke level $335,31 pada akhir sesi reguler Bursa Nasdaq hari Jumat, 4 September 2026 waktu New York.
Bursa saham Amerika Serikat tutup pada Senin, 7 September 2026 WIB karena libur Labor Day, sehingga harga yang tercatat merupakan closing price sesi terakhir, bukan harga real-time.
Dengan harga tersebut, kapitalisasi pasar Alphabet tercatat sekitar $4,1 triliun, menjadikannya perusahaan publik terbesar ketiga di dunia.
Dibandingkan penutupan sebelumnya di kisaran $339,03, harga saham GOOG melemah 1,11 persen atau setara $3,72 pada sesi perdagangan Jumat, 4 September 2026 waktu New York.
Karena bursa AS libur Labor Day pada Senin ini, belum ada sesi perdagangan baru yang terbentuk, sehingga angka tersebut tetap menjadi closing price resmi terakhir menurut data TradingView.
Dengan level harga tersebut, kapitalisasi pasar Alphabet tercatat sekitar $4,1 triliun per 5 September 2026 menurut CompaniesMarketCap.com, menempatkannya di peringkat ketiga perusahaan publik paling bernilai di dunia setelah Nvidia dan Apple. Pelemahan harga ini terjadi meski bisnis Google Cloud terus mencatat pertumbuhan agresif yang menjadi salah satu sorotan utama analis belakangan ini.
Analis Phillip Securities, Serena Lim Yi Qi, menaikkan rating saham Alphabet menjadi Buy dari sebelumnya Accumulate pada 27 Juli 2026, meski menurunkan target harga menjadi $425 dari $450. Kenaikan rating ini didorong oleh ekosistem AI Alphabet yang terintegrasi secara vertikal lewat chip Tensor Processing Unit (TPU) buatan sendiri, pertumbuhan bisnis cloud sebesar 82 persen secara tahunan yang menandakan permintaan pelanggan yang kuat, serta pendapatan iklan yang naik 14 persen berkat integrasi Gemini yang membuat fitur pencarian semakin relevan bagi pengguna.
Analis tersebut menilai arus kas bebas (free cash flow) Alphabet yang negatif saat ini merupakan fase investasi sementara yang justru mendukung pertumbuhan jangka panjang. Saham Alphabet diperdagangkan pada rasio PEG yang sangat rendah di 0,14, mengindikasikan valuasi yang masih menarik dibandingkan potensi pertumbuhannya.
Pada laporan keuangan kuartal kedua 2026 yang dirilis 22 Juli 2026, Alphabet membukukan total pendapatan $119,8 miliar, tumbuh 24 persen secara tahunan dan melampaui estimasi analis $116,93 miliar.
Segmen Google Cloud menjadi motor pertumbuhan utama dengan pendapatan $24,8 miliar atau melonjak 82 persen secara tahunan, sementara laba operasional segmen cloud melesat dari $2,8 miliar menjadi $8,8 miliar, didorong permintaan infrastruktur AI dan solusi AI enterprise yang terus meningkat.
CEO Alphabet, Sundar Pichai, menekankan besarnya investasi perusahaan pada AI dan mengungkapkan bahwa hampir 90 persen perusahaan dalam daftar Fortune 100 kini menggunakan produk Gemini Enterprise milik Alphabet.
Meski hasil kuartalan ini mengalahkan ekspektasi, lonjakan belanja modal (capex) hingga $44,9 miliar turut menjadi perhatian sebagian investor terhadap tekanan arus kas bebas perusahaan dalam jangka pendek.