Breaking

IHSG Berbalik Negatif di Sesi I Rabu, Saham ADMR hingga ADRO Tekan Indeks

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 02 September 2026
IHSG Berbalik Negatif di Sesi I Rabu, Saham ADMR hingga ADRO Tekan Indeks
Ilustrasi IHSG berbalik negatif pada sesi pertama perdagangan Rabu, turun 0,28 persen ke level 6.581,448. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona negatif pada perdagangan sesi pertama Rabu (2/9/2026), mengikuti pelemahan mayoritas bursa saham Asia. Mengutip data RTI pukul 12.00 WIB, IHSG turun 0,28 persen atau 18,495 poin ke level 6.581,448.

Sebanyak 326 saham tercatat turun, 265 saham naik, dan 191 saham stagnan. Total volume perdagangan mencapai 33 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 9,9 triliun. Tekanan IHSG terutama datang dari sektor-sektor saham yang melemah, dengan tujuh indeks sektoral berada di zona merah.

Tiga sektor dengan penurunan terdalam adalah IDX-Basic yang turun 1,79 persen, IDX-Industry melemah 1,21 persen, dan IDX-Infrastructure turun 1,06 persen. Sejumlah saham penghuni indeks LQ45 juga menjadi pemberat IHSG.

Tiga saham dengan penurunan terdalam antara lain PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) turun 5,04 persen ke Rp 1.600. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) turun 4,32 persen ke Rp 2.660. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 3,76 persen ke Rp 4.860.

Namun, sejumlah saham masih mampu menguat dan menahan tekanan IHSG. Tiga saham dengan kenaikan terbesar di LQ45 antara lain PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 3 persen ke Rp 2.750. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 1,83 persen ke Rp 26.475. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) naik 1,44 persen ke Rp 705.

Pelemahan IHSG terjadi di tengah tekanan yang melanda pasar saham negara berkembang Asia. Melansir Reuters, Indeks MSCI untuk saham negara berkembang Asia turun 1,8 persen ke level terendah dalam lebih dari sepekan.

Indeks KOSPI Korea Selatan dan indeks saham acuan Taiwan masing-masing merosot 3,1 persen dan 1,3 persen. Sementara itu, pasar saham Thailand turun 0,4 persen. Bursa Singapura dan Malaysia relatif bergerak datar.

Saham Indonesia sendiri melemah 0,2 persen setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi sejak pertengahan Mei. Tekanan pasar saham Asia turut dipengaruhi meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak di tengah eskalasi konflik AS-Iran.

Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi aset berisiko dan meningkatkan perhatian terhadap prospek inflasi serta suku bunga global. Investor kini menantikan laporan nonfarm payrolls AS yang akan dirilis pada Jumat (4/9).

Data ketenagakerjaan tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi pasar untuk memperkirakan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), termasuk kemungkinan perubahan suku bunga pada akhir September. 

Jika data tenaga kerja AS menunjukkan ekonomi masih kuat, tekanan terhadap aset negara berkembang berpotensi berlanjut karena investor dapat kembali memperhitungkan kebijakan moneter AS yang lebih ketat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua