Breaking

Naik ke 3,19 persen, Tekanan Inflasi Agustus 2026 Dipicu Emas dan Oli

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 01 September 2026
Naik ke 3,19 persen, Tekanan Inflasi Agustus 2026 Dipicu Emas dan Oli
Ilustrasi inflasi indonesia (FOTO : NET)

JAKARTA – Tekanan inflasi Indonesia secara tahunan atau year on year (yoy) bergerak ke level 3,19% pada Agustus 2026. Kondisi ini dipicu oleh seluruh komponen pembentuknya yang mengalami tekanan inflasi.

Inflasi inti bahkan terkerek ke level 2,92% (yoy) pada Agustus 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibanding catatan pada Agustus 2025 yang sebesar 2,17% yoy.

Inflasi inti adalah komponen inflasi yang cenderung stabil atau persisten dalam pergerakannya dan dipengaruhi faktor fundamental seperti permintaan dan penawaran. Selain itu, komponen ini juga dipengaruhi lingkungan eksternal seperti nilai tukar, harga komoditas, hingga perkembangan ekonomi global.

"Inflasi inti secara tahunan 2,92%, dengan komponen ini andilnya terbesar, yakni 1,87%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers, Selasa (1/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ateng menjelaskan, komoditas yang memberikan andil pada komponen inflasi inti di antaranya emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, pelumas atau oli mesin, hingga laptop atau notebook.

Adapun komponen inflasi non inti, seperti inflasi harga pangan bergejolak atau volatile food dan harga yang diatur pemerintah atau administered prices masing-masing mengalami inflasi 4,06% yoy dan 3,32% yoy.

Komponen harga pangan bergejolak menurut Ateng dipicu oleh kenaikan harga komoditas daging ayam ras, beras, cabai rawit, daging sapi, dan cabai merah. Namun, catatan untuk komponen harga pangan bergejolak ini lebih rendah dari Agustus 2025 yang sebesar 4,47%.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi akibat komoditas bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan bahan bakar rumah tangga. Tekanan inflasi pada komponen ini tercatat lebih tinggi dibanding Agustus 2025 yang sebesar 1%.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua