Breaking

Asosiasi Bullion Resmi Berdiri, HRTA dan ANTM Berpotensi Diuntungkan

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Minggu, 23 Agustus 2026
Asosiasi Bullion Resmi Berdiri, HRTA dan ANTM Berpotensi Diuntungkan
Ilustrasi Peluncuran IBMA diharapkan meningkatkan pasokan emas nasional dan memperkuat ekosistem bullion Indonesia. (sumber foto: NET)

JAKARTA – Emiten produsen emas mendapat katalis baru seiring dengan kehadiran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) yang diharapkan dapat meningkatkan pasokan emas nasional.

IBMA diluncurkan pada Kamis (20/8/2026) dan terdiri dari pelaku usaha pertambangan emas dan manufaktur, perdagangan emas batangan, perusahaan pembiayaan, serta lembaga keuangan non-bank.

Sejumlah entitas yang telah bergabung dengan IBMA antara lain PT Pegadaian, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana, PT Sentral Kreasi Kencana, dan PT Laku Emas Indonesia.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan, pembentukan IBMA menjadi sentimen positif bagi emiten emas dalam jangka pendek, meskipun dampaknya terhadap pendapatan masih sangat terbatas.

IBMA tidak secara otomatis membuat masyarakat membeli lebih banyak emas atau meningkatkan produksi tambang emas. Namun, asosiasi tersebut dapat memperbaiki infrastruktur pasar, likuiditas, transparansi, kemampuan penelusuran, standardisasi, serta akses pembiayaan emas.

"Ini penting karena pemerintah juga ingin lebih banyak nilai tambah dari emas tetap berada di dalam negeri," ujar dia, Jumat (21/8/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam jangka menengah dan panjang, potensi IBMA dinilai jauh lebih besar. Jika ekosistem bullion berkembang, masyarakat dan institusi akan memiliki lebih banyak pilihan untuk memiliki atau menggunakan emas, baik berupa emas fisik, deposit emas, pembiayaan emas, trading emas, maupun produk investasi berbasis emas.

Emiten emas dapat memaksimalkan keberadaan IBMA dengan membangun kerja sama erat bersama bullion bank seperti Pegadaian, BSI, atau lembaga keuangan lain yang menjalankan kegiatan di sektor tersebut.

Kerja sama itu dapat membentuk ekosistem yang mencakup produsen emas, pengolahan, manufaktur, bullion bank, serta konsumen atau investor.

"Kegiatan bullion sendiri mencakup deposit emas, pembiayaan emas, perdagangan emas, dan penyimpanan emas," tutur dia, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di luar IBMA, terdapat sejumlah sentimen lain yang akan memengaruhi kinerja emiten emas pada sisa 2026. Faktor tersebut meliputi perkembangan harga emas global, arah suku bunga acuan The Fed, konflik geopolitik, volatilitas nilai tukar, serta tingkat produksi emiten.

"IBMA lebih tepat dilihat sebagai katalis struktural bagi industri emas Indonesia, bukan katalis jangka pendek bagi emiten," terangnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Penerima manfaat terbesar dari kehadiran IBMA adalah emiten yang memiliki posisi kuat di segmen hilir dan distribusi, seperti HRTA dan ANTM.

Sementara itu, produsen emas di segmen hulu seperti AMMN, BRMS, MDKA, EMAS, ARCI, dan PSAB tetap lebih sensitif terhadap harga emas, volume produksi, serta biaya produksi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua