Breaking

Harga Gabah Naik, Petani Penajam Paser Utara Bersemangat Tanam Padi

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Senin, 10 Agustus 2026
Harga Gabah Naik, Petani Penajam Paser Utara Bersemangat Tanam Padi
Ilustrasi Gabah (FOTO : NET)

JAKARTA – Kebijakan Perum Bulog menyerap gabah kering panen (GKP) petani seharga Rp 6.500 per kilogram (kg) telah mendorong motivasi petani di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, untuk mengolah kembali lahan persawahan mereka. Langkah tersebut diharapkan mampu mendongkrak perekonomian daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani.

"Sejak kebijakan Bulog menyerap GKP dengan harga Rp 6.500 per kilogram, petani semakin terpacu menggarap lahan persawahan," ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara, Gunawan, di Penajam, Senin (10/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Gunawan, ketetapan harga pembelian tersebut turut memberikan dampak positif terhadap harga gabah di tingkat petani. Pihak tengkulak saat ini membeli GKP dengan harga melebihi patokan Bulog, sehingga para petani memperoleh opsi pasar yang lebih menguntungkan.

"Tengkulak juga membeli GKP di atas harga Bulog. Ini menjadi pemicu petani menanam padi dan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian kabupaten serta kesejahteraan petani," kata Gunawan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Para petani di Penajam Paser Utara saat ini mulai memasuki masa panen padi untuk periode tanam kedua April-September 2026. Kegiatan panen ini berlangsung di tengah kondisi musim kemarau di wilayah tersebut.

Gunawan menjelaskan bahwa realisasi luas tanam padi pada masa tanam kedua sudah menyentuh kisaran 6.500 hektare. Dari total area tersebut, sekitar 700 hektare lahan persawahan telah memasuki tahap awal panen.

"Realisasi tanam padi 6.500 hektare pada masa tanam kedua dan 700 hektare mulai proses panen," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara berharap target produksi padi pada periode tanam kedua 2025/2026 dapat terpenuhi meskipun panen berjalan di musim kemarau.

Puncak masa panen diprediksi terjadi pada akhir Agustus hingga awal September 2026. Pemerintah daerah memperkirakan besaran potensi produksi pada periode ini mencapai kisaran 22 ribu ton GKP.

Tingginya potensi hasil panen membuat kepastian penyerapan menjadi faktor yang sangat krusial bagi petani. Oleh karena itu, pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan pihak Bulog agar gabah petani dapat terserap secara optimal saat panen raya.

"Pemerintah kabupaten telah melakukan koordinasi dengan Bulog untuk penyerapan GKP petani pada masa tanam kedua," kata Gunawan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada musim tanam pertama 2025/2026 atau periode Oktober 2025 hingga Maret 2026, realisasi luas tanam padi di Penajam Paser Utara mencatatkan angka 7.118 hektare. Dari total lahan tersebut, jumlah produksi gabah tercatat sekitar 24.500 ton GKP.

Dari keseluruhan produksi pada musim tanam pertama, Bulog telah menyerap sekitar 9.000 ton GKP. Angka penyerapan ini menegaskan bahwa Bulog merupakan salah satu saluran pasar utama bagi petani di Penajam Paser Utara.

Dengan adanya potensi panen sebesar 22 ribu ton pada musim tanam kedua, kepastian penyerapan gabah secara berkelanjutan dinilai sangat penting demi menjaga kestabilan harga. Kepastian akses pasar ini memberikan dorongan bagi petani untuk mempertahankan serta memperluas area tanam mereka.

Adanya persaingan harga antara Bulog dan para pedagang turut memberi kesempatan bagi petani untuk memperoleh harga jual yang lebih tinggi. Situasi ini mencegah jatuhnya harga gabah yang sering terjadi saat pasokan melimpah namun pilihan pembeli terbatas.

Jika estimasi 22 ribu ton GKP pada musim tanam kedua berhasil dicapai, total akumulasi produksi dari dua musim tanam 2025/2026 diperkirakan menembus angka 46.500 ton GKP. Perhitungan tersebut menggabungkan hasil 24.500 ton pada musim tanam pertama dan potensi 22 ribu ton pada musim tanam kedua.

Pemerintah daerah berharap tingginya antusiasme petani dalam mengolah sawah tidak hanya memicu lonjakan produksi pangan semata. Peningkatan aktivitas pertanian ini juga diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi perdesaan, mulai dari penyerapan tenaga kerja, pengolahan lahan, hingga proses distribusi.

Momentum harga gabah yang menguntungkan ini menjadi peluang besar untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian di Penajam Paser Utara. Jaminan harga dan kepastian pasar menjadi kunci utama agar petani tetap bersemangat menggarap lahan pangan pada masa tanam berikutnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua