Pound Inggris Menguat di Tengah Keraguan Pemulihan Dolar AS
JAKARTA – Pound Inggris (GBP) menguat terhadap mata uang utama pada awal pekan, diperdagangkan di sekitar 1,3500 terhadap dolar AS (USD) dalam sesi Eropa Senin (10/8/2026).
Kinerja ini terjadi di tengah keraguan pasar atas pemulihan dolar AS pasca data tenaga kerja yang lemah. Para pedagang juga menilai Bank of England (BoE) tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, meski harga minyak naik mendorong ekspektasi inflasi global.
Heat Map Valas: Pound Inggris tercatat paling kuat terhadap yen Jepang (+0,43%), sementara terhadap USD naik tipis (+0,03%).
Analis Rabobank menyoroti meningkatnya posisi jual bersih GBP menjelang pertemuan BoE. Meski ada pembagian suara hawkish di MPC, komunikasi Gubernur Bailey dinilai dovish sehingga dukungan kebijakan bagi pound tetap terbatas.
Pekan ini, fokus utama pasar adalah rilis data awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II Inggris pada Kamis. ONS diperkirakan melaporkan pertumbuhan 0,4 persen, melambat dari 0,6 persen sebelumnya. Secara bulanan, PDB Juni diperkirakan turun 0,1 persen setelah naik 0,1 persen di Mei.
Sementara itu, dolar AS diperdagangkan sedikit lebih tinggi di dekat 99,60, namun pasar tetap memprediksi pelemahan lanjutan karena peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun di bawah 50 persen pasca NFP yang lemah.
Dengan latar belakang ini, pergerakan pound akan sangat dipengaruhi oleh rilis data PDB Inggris, sementara dolar AS masih dibayangi ekspektasi dovish terhadap kebijakan The Fed.