GBP/USD Sideways, Pasar Waspada Risiko Fiskal Inggris
JAKARTA - Dokumen analisis terbaru menyoroti prospek Pound Inggris (GBP) di pertengahan 2026. Meski performa GBP cukup solid di semester pertama, outlook ke depan masih dibayangi risiko besar.
Konflik di Timur Tengah, khususnya perang di Iran, membuat pasar waspada. Blokade Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb mendorong harga minyak naik, memperkuat posisi Dolar AS sebagai safe haven.
Bank of England masih terlihat ragu dalam kebijakan moneter. Ada desakan menaikkan suku bunga, namun inflasi tinggi dan pertumbuhan lemah menimbulkan dilema stagflasi. Pasar pun terpecah soal kemungkinan kenaikan suku bunga September.
Ekspektasi kenaikan suku bunga AS tetap ada, meski keputusan Juli membuat investor ragu. Divergensi kebijakan ini menambah tekanan terhadap GBP.
Risiko fiskal Inggris juga jadi sorotan. PM Andrew Burnham memicu kekhawatiran pasar dengan rencana belanja besar tanpa detail pendanaan jelas. Investor waspada, mengingat krisis mini-budget 2022 masih segar di ingatan.
Pemilu paruh waktu AS diperkirakan menambah volatilitas USD, meski arah jangka panjang tetap ditentukan kebijakan moneter dan makroekonomi.
Secara teknikal, GBP/USD masih sideways di kisaran 1,3150–1,3650. Resistance kuat berada di 1,3550–1,3650, sementara support di pertengahan 1,3100-an. Rebound lebih disebabkan pelemahan USD, bukan kekuatan GBP.