Breaking

Bank Besar Melemah, Prospek Saham Perbankan Pekan Depan Fluktuatif

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Sabtu, 25 Juli 2026
Bank Besar Melemah, Prospek Saham Perbankan Pekan Depan Fluktuatif
Ilustrasi Saham bank besar mengalami koreksi pada penutupan perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. (sumber gambar: NET)

JAKARTA - Saham-saham sektor perbankan yang sempat menjadi motor penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan berbalik tertekan pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026). Aksi ambil untung (profit taking) serta derasnya arus jual investor asing membuat saham bank berkapitalisasi besar kembali berada di zona merah.

Pada penutupan perdagangan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berada di Rp6.275 per saham. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 1 persen ke Rp2.960, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 5,71 persen ke Rp4.130, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 2,22 persen ke Rp3.520, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turun 4,37 persen ke Rp1.205 per saham.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pergerakan saham perbankan pekan ini cukup fluktuatif. Pada awal pekan, sektor perbankan menjadi penopang IHSG setelah pasar menyambut positif keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. 

“Investor merespons positif keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Keputusan tersebut memberikan kepastian terhadap prospek stabilitas suku bunga dan kualitas aset perbankan,” ujar Nafan.

Namun setelah mencatat kenaikan dalam beberapa sesi, saham bank besar mulai terkoreksi akibat profit taking. Tekanan juga datang dari investor asing yang masih mencatatkan net sell. Nafan menilai pelemahan lebih dipengaruhi faktor teknikal dan rotasi sektor ketimbang perubahan fundamental. Sektor perbankan masih solid dengan dukungan pertumbuhan kredit positif, kualitas aset terjaga, serta ekspektasi laba yang baik.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai reli saham bank sebelumnya didorong valuasi murah, ekspektasi kinerja semester I-2026, serta stabilnya rupiah di bawah Rp18.000 per dolar AS. “Namun, kenaikan saham bank sebelumnya memang masih lebih banyak bersifat technical rebound. Jadi, setelah mengalami kenaikan cukup signifikan dari area terendah, wajar apabila terjadi aksi realisasi keuntungan,” jelas Ekky.

Memasuki pekan depan, Ekky memperkirakan saham perbankan masih fluktuatif. Prospek fundamental tetap positif seiring musim laporan keuangan semester I-2026. PT Bank Mandiri Tbk membukukan laba bersih konsolidasi Rp30,4 triliun pada semester I-2026, tumbuh 24,4 persen yoy. Penyaluran kredit bank only naik 19,9 persen menjadi Rp1.592 triliun, meski penurunan net interest margin (NIM) masih perlu dicermati.

Selain kinerja emiten, pasar juga menunggu rapat kebijakan moneter The Federal Reserve pada 28–29 Juli 2026. Harga minyak Brent yang kembali menembus 100 US dolar per barel turut menjadi perhatian karena berpotensi mendorong inflasi global, yield obligasi, serta tekanan terhadap rupiah. 

“Selama rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.000, harga minyak tidak terus meningkat, dan investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih, saham perbankan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan. Sebaliknya, apabila harga minyak terus naik dan rupiah kembali melemah, investor berpotensi rotasi ke sektor komoditas,” kata Ekky.

Untuk strategi investasi, Ekky merekomendasikan Trading Buy atau Buy on Weakness pada BBCA dengan target Rp6.800–Rp7.000 per saham, BMRI Rp4.800–Rp5.000 per saham, dan BBRI Rp3.200–Rp3.300 per saham. Menurutnya, BBCA tetap defensif dengan struktur dana murah (CASA) yang kuat, sementara BBRI menarik dari sisi valuasi meski lebih sensitif terhadap kualitas kredit mikro dan kenaikan cost of credit.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua