Breaking

SAP Lonjak 10 Persen, Bursa Eropa Menguat Didukung Teknologi

IB
Ibtihal

Editor: (sumber foto: NET)

Sabtu, 25 Juli 2026
SAP Lonjak 10 Persen, Bursa Eropa Menguat Didukung Teknologi
Ilustrasi Indeks saham Eropa menguat 0,6 persen, mencatat kenaikan pekan kedua berturut-turut pada Jumat (24/7/2026). (sumber foto: NET)

JAKARTA - Bursa saham Eropa menguat pada Jumat (24/7/2026) setelah mencatat penurunan harian terbesar dalam dua pekan pada sesi sebelumnya. Penguatan didorong oleh laporan keuangan sejumlah perusahaan yang memberikan sentimen positif, sementara investor tetap mencermati dampak kenaikan harga minyak terhadap arah kebijakan moneter.

Indeks saham Eropa naik 0,6 persen ke level 644,67 dan mencatat kenaikan untuk pekan kedua berturut-turut. Penguatan pasar dipimpin oleh bursa Jerman setelah saham SAP melonjak 10 persen usai perusahaan perangkat lunak tersebut melaporkan pertumbuhan backlog layanan cloud kuartal II yang melampaui ekspektasi analis. Sektor teknologi secara keseluruhan menguat 1,7 persen setelah sempat tertekan sehari sebelumnya akibat laporan keuangan STMicroelectronics dan BE Semiconductor yang mengecewakan investor.

Investor berupaya menyeimbangkan prospek pertumbuhan yang didorong kecerdasan buatan (AI) dengan tingginya valuasi saham serta besarnya investasi yang harus dikeluarkan perusahaan teknologi. Analis Deutsche Bank yang dipimpin Jim Reid menilai dua tantangan utama perusahaan teknologi besar saat ini adalah belanja modal yang tidak lagi dapat sepenuhnya dibiayai dari arus kas bebas, serta semakin kuatnya ancaman model AI open source berbiaya rendah terhadap model bisnis mereka. Sepanjang tahun ini, sektor teknologi Eropa telah menguat hampir 17 persen, berada di bawah sektor energi yang melonjak sekitar 32 persen.

Di sisi lain, saham sektor minyak dan gas gagal memanfaatkan bertahannya harga minyak Brent di atas 100 US dolar per barel. Sentimen sektor tersebut terbebani oleh anjloknya saham Neste sebesar 6,4 persen setelah produsen biofuel dan kilang minyak asal Finlandia itu membukukan laba inti kuartal II yang sedikit di bawah ekspektasi pasar.

Analis Pasar IG, Chris Beauchamp, mengatakan pasar kini bergerak dari ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lemah disertai inflasi tinggi menuju potensi resesi. “Kondisi tersebut memang belum terjadi, namun risiko menuju ke arah tersebut dapat meningkat dengan cepat,” ujarnya.

Sementara itu, tiga pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) menyatakan bank sentral masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga karena risiko inflasi tetap tinggi. Pernyataan itu disampaikan sehari setelah ECB mempertahankan suku bunga, namun tetap membuka peluang kenaikan pada September. Data pasar menunjukkan pelaku pasar masih memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, dengan peluang sekitar 70 persen akan terjadi satu kali kenaikan lagi sebelum akhir 2026.

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan tarif baru sebesar 10 persen dan 12,5 persen terhadap barang dari 60 mitra dagang atas dugaan lemahnya penegakan larangan penggunaan tenaga kerja paksa. Kebijakan tersebut diterapkan setelah berakhirnya tarif global sementara sebesar 10 persen.

Pada perdagangan saham individual, Volkswagen turun sekitar 1 persen setelah memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan menyusul anjloknya laba kuartal II sebesar 9,5 persen. Sebaliknya, saham Valmet melonjak 22 persen dan mencatat kenaikan harian terbesar sepanjang sejarah perusahaan setelah membukukan kinerja kuartal II yang melampaui ekspektasi sekaligus mengumumkan rencana pemisahan bisnis. Sementara itu, saham perusahaan jasa keamanan asal Swedia, Securitas, merosot 11 persen setelah melaporkan laba inti kuartal II yang lebih rendah dari perkiraan pasar, penurunan terbesar dalam satu hari sejak Agustus 2006.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua