Breaking

Harga Minyak Ambles, Pasar Sambut Harapan Damai AS-Iran

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Sabtu, 25 Juli 2026
Harga Minyak Ambles, Pasar Sambut Harapan Damai AS-Iran
Ilustrasi Harga minyak dunia turun tajam setelah muncul harapan perdamaian antara AS dan Iran. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Harga minyak dunia ditutup anjlok pada Jumat (24/7/2026) setelah muncul harapan baru tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, harga minyak masih mencatat kenaikan signifikan sepanjang pekan di tengah ketegangan Timur Tengah.

Data Reuters menunjukkan minyak mentah Brent ambles 3,91 US dolar atau 3,88 persen ke 96,78 US dolar per barel, setelah sehari sebelumnya menembus 100 US dolar per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Secara mingguan, Brent masih naik hampir 10 persen. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,88 US dolar atau 3,12 persen ke 89,31 US dolar per barel, namun tetap menguat 8,3 persen sepanjang pekan.

Pelemahan harga dipicu laporan bahwa China menginisiasi upaya menghidupkan kembali perundingan damai AS-Iran. “Tak ada yang lebih disukai pasar selain harapan. Setiap sinyal bahwa konflik dapat diselesaikan langsung disambut positif oleh pelaku pasar,” kata Mitra Again Capital John Kilduff.

Meski harga terkoreksi, pasar energi masih dibayangi risiko gangguan pasokan. Sepanjang pekan, harga sempat melonjak tajam setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal. Arus pelayaran di Selat Hormuz menurun drastis, sementara kelompok Houthi kembali menyerang kapal di Laut Merah.

Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menegaskan: “Kondisi pasar minyak masih sangat rapuh karena pasokan global tetap ketat.” Ia menambahkan situasi dapat berubah cepat bergantung perkembangan konflik Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan memberikan “hukuman militer besar” terhadap Iran dan Houthi setelah serangan terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Iran disebut mendorong Houthi menutup jalur Bab el-Mandeb jika AS terus menyerang infrastruktur strategis.

Data Kpler menunjukkan aktivitas pelayaran mulai membaik, dengan lalu lintas kapal komoditas di Bab el-Mandeb meningkat menjadi 32 kapal pada 23 Juli dari 26 kapal sehari sebelumnya. Analis UBS Giovanni Staunovo menilai kapal masih beroperasi sehingga blokade belum terjadi penuh.

JPMorgan memperkirakan setiap tambahan satu bulan gangguan pasokan dapat mendorong harga Brent naik 7–8 US dolar per barel. Jika gangguan berlangsung tiga bulan, rata-rata harga Brent bisa mencapai 114 US dolar per barel.

Risiko pasokan juga datang dari Eropa. Rusia melaporkan menyerang tiga pelabuhan Ukraina, sementara Kazakhstan memangkas produksi minyak setelah terminal ekspor di Laut Hitam ditutup akibat dugaan serangan drone.

Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informasi umum mengenai pergerakan harga minyak, bukan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua