Saham IPO Sentuh ARA Jadi Penopang IHSG Menuju Angka 6.000
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan akan meneruskan tren penguatannya pada sesi perdagangan Selasa (7/7/2026), ditopang oleh perpaduan sentimen dari dalam negeri maupun global yang berangsur membaik.
Saat pasar mulai dibuka, IHSG terpantau mengalami kenaikan sebesar 17,50 poin atau 0,30% menuju posisi 5.933,57. Pada saat yang sama, indeks saham-saham likuid LQ45 juga ikut bergerak naik 1,60 poin atau 0,27% ke level 586,08.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengungkapkan bahwa lewat analisis teknikal, IHSG dinilai masih mempunyai ruang untuk meneruskan pola penguatan dalam jangka pendek. Lebih jauh lagi, pergerakan indeks berpeluang besar menguji titik psikologis di angka 6.000.
“Secara teknikal, IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan dan menguji level 6.000,” ujar Ratna dalam risetnya, Selasa, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Bila melihat dari dalam negeri, angin segar berhembus dari aksi korporasi berupa penawaran umum perdana alias Initial Public Offering (IPO) dari dua perusahaan baru, di mana perdagangan sahamnya sukses menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA).
Fenomena tersebut dianggap mampu menjadi pilar penyokong bagi laju IHSG ketika katalis positif lainnya tergolong minim.
Kendati demikian, ritme perdagangan pada awal pekan kemarin masih tampak agak sepi. Di perdagangan Senin (6/7), volume transaksi yang berputar hanya berkisar di angka 19,6 miliar saham dengan nilai total perdagangan mencapai Rp9,4 triliun.
Realisasi ini berada jauh di bawah rata-rata transaksi harian yang umumnya menembus lebih dari 41 billion saham dengan nilai perdagangan di kisaran Rp24 triliun.
Menurut pandangan Ratna, lesunya volume perdagangan ini disebabkan oleh dominasi dari para pemodal domestik yang lebih memilih untuk mengambil sikap wait and see.
Faktor pendukung lain seperti terbatasnya sentimen positif, maraknya perusahaan yang menggelar IPO, hingga sentimen musiman berupa masa liburan sekolah dan bergulirnya turnamen Piala Dunia 2026 turut memberikan dampak bagi dinamika pasar.
“Perdagangan relatif sepi karena investor masih menunggu arah pasar di tengah terbatasnya katalis,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dari sektor kebijakan fiskal, pelaku pasar turut mengamati isu seputar potensi pemangkasan dana untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tahun 2027 mendatang, yang diperkirakan bergeser menjadi Rp174 triliun dari estimasi awal sebesar Rp268 triliun.
Langkah penyesuaian anggaran ini berpijak pada kalkulasi kebutuhan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diprediksi menciut dari 27.000 menjadi hanya kisaran 21.000 titik, yang menyasar sekitar 84 ribu orang penerima manfaat.
Apabila pengurangan alokasi anggaran ini benar-benar diterapkan, langkah fiskal tersebut dinilai dapat memperkecil tekanan beban defisit pada APBN, sehingga berpeluang ditanggapi secara positif oleh para pelaku pasar saham.
Sementara itu dari faktor eksternal, kondisi pasar global turut memberikan sokongan moral. Lantai bursa di kawasan Asia berhasil mencetak rekor tertinggi baru yang dipicu oleh rebound dari saham-saham di sektor semikonduktor (chip) sesudah mengalami tekanan koreksi dalam dua pekan ke belakang.
Bukan hanya itu, meredanya eskalasi konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah serta terkoreksinya harga minyak mentah dunia memicu para pelaku pasar untuk kembali mengalihkan perhatian mereka pada emiten teknologi, terutama yang berkaitan dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Beralih ke Amerika Serikat, data makroekonomi memperlihatkan bahwa kinerja sektor jasa di sana masih berada dalam area ekspansif.
Laporan indeks PMI jasa ISM menetap di angka 54,0 untuk periode Juni 2026, mencatatkan sedikit penurunan ketimbang perolehan Mei yang berada di angka 54,5, akan tetapi angka tersebut tetap menunjukkan sinyal pertumbuhan yang kuat walaupun polanya melambat.
Di sisi lain, harga komoditas minyak mentah dunia terpantau bergerak melemah yang dipicu oleh langkah Arab Saudi memotong harga jual resmi mereka, adanya kenaikan target kapasitas produksi dari kubu OPEC+ yang dimulai pada Agustus nanti, hingga kembali normalnya arus distribusi minyak yang melintasi Selat Hormuz.
Pada pasar surat utang, tingkat imbal hasil (yield) untuk obligasi US Treasury dengan tenor 10 tahun merosot tipis ke posisi 4,469%, di tengah sikap para pemodal yang tengah menantikan publikasi notulensi rapat FOMC terbaru serta perkembangan dari jalannya KTT NATO.
Melihat pada sesi penutupan perdagangan sebelumnya, bursa global tampak melaju secara variatif.
Mayoritas indeks saham utama di kawasan Eropa berakhir di zona merah, sedangkan bursa Wall Street condong bergerak menguat yang ditandai dengan kenaikan Dow Jones sebesar 0,29% dan S&P 500 yang terangkat 0,72%, walaupun indeks Nasdaq harus mengalami koreksi sedalam 1,26%.
Untuk pergerakan pada pagi hari ini, pasar saham Asia memperlihatkan dinamika yang beragam. Indeks Nikkei melemah sebesar 1,17%, Shanghai terkikis 0,78%, sementara itu indeks Hang Seng berhasil melesat 0,50% dan Strait Times terkerek naik sebesar 0,89%.
Melihat akumulasi dari kombinasi berbagai sentimen di atas, IHSG dinilai masih berpotensi besar untuk meneruskan tren penguatannya, walaupun para pelaku pasar tetap diimbau untuk selalu waspada dan mencermati setiap dinamika makro global maupun regional yang sewaktu-waktu bisa memengaruhi arah pergerakan pasar dalam rentang jangka pendek.