JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menjadi sorotan pasar global setelah menunjukkan lonjakan tajam dalam perdagangan terbaru.
Dinamika geopolitik yang melibatkan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang memengaruhi fluktuasi tersebut. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga memicu kekhawatiran pelaku ekonomi secara luas.
Lonjakan harga sempat terjadi secara signifikan sebelum akhirnya mengalami koreksi dari level tertinggi. Situasi ini mencerminkan betapa sensitifnya harga minyak terhadap perkembangan politik dan keamanan internasional. Para investor terus memantau setiap pernyataan dan kebijakan yang muncul dari negara-negara terkait.
Baca JugaPLN Pastikan Listrik Jakarta Kembali Normal Seratus Persen Setelah Pemadaman
Kenaikan Harga Minyak di Pasar Amerika dan Global
Harga minyak di AS mengalami kenaikan pada hari Kamis (Jumat waktu Jakarta), namun kemudian mengalami penurunan dari level tertingginya setelah Israel menyatakan kesediaan untuk melakukan negosiasi dengan Lebanon. Menurut laporan CNBC pada Jumat, harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei meningkat lebih dari 3% dan ditutup pada USD 97,87 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global juga naik lebih dari 1% dan ditutup pada USD 95,92 untuk pengiriman Juni.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik. Meskipun sempat terkoreksi, harga minyak tetap berada pada level yang relatif tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Lonjakan Dipicu Ketegangan di Selat Hormuz
Pada awal sesi, harga minyak mentah AS sempat melonjak di atas USD 100 per barel, disebabkan oleh kekhawatiran pasar terkait pembatasan lalu lintas oleh Iran melalui Selat Hormuz, meskipun ada perjanjian gencatan senjata dengan AS. CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) mengungkapkan bahwa Selat Hormuz belum dibuka untuk kapal, dan menegaskan bahwa Iran mengharuskan kapal untuk mendapatkan izin sebelum dapat melewatinya.
"Itu bukan kebebasan navigasi. Itu adalah pemaksaan."
Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya distribusi minyak global. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman energi dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak langsung pada harga minyak internasional.
Harga Mereda Setelah Sinyal Negosiasi
Kenaikan harga minyak kemudian mereda setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa Israel akan segera bernegosiasi dengan Lebanon.
Kabar ini memberikan sentimen positif bagi pasar yang sebelumnya diliputi ketidakpastian. Harapan akan meredanya konflik membuat tekanan terhadap harga minyak sedikit berkurang, meskipun belum sepenuhnya stabil.
Langkah diplomasi seperti ini menjadi faktor penting dalam meredakan gejolak harga energi. Pasar cenderung merespons cepat setiap perkembangan yang mengarah pada perdamaian atau stabilitas kawasan.
Ketegangan Iran dan Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata
Kampanye militer Israel di Lebanon yang ditujukan terhadap sekutu Iran, Hizbullah, berpotensi merusak gencatan senjata antara Washington dan Teheran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada hari Rabu menuduh AS melanggar perjanjian gencatan senjata.
Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di media sosial, Ghalibaf mengatakan, "Ketidakpercayaan mendalam yang kita miliki terhadap Amerika Serikat berakar dari pelanggaran berulang-ulang terhadap segala bentuk komitmen --- sebuah pola yang sayangnya telah terulang kembali."
Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya ketegangan yang masih tinggi antara kedua negara. Situasi ini menambah kompleksitas konflik yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan pasar global.
Respons dan Perkembangan Usulan Gencatan Senjata
Ghalibaf menyatakan bahwa tiga elemen dari sepuluh poin usulan gencatan senjata Iran telah dilanggar. Ia merujuk pada serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon, sebuah pesawat tak berawak yang memasuki wilayah udara Iran, dan penolakan terhadap hak Teheran untuk memperkaya uranium.
Wakil Presiden JD Vance memberikan tanggapan terhadap tuduhan tersebut saat melakukan kunjungan ke Hongaria pada hari Rabu.
"Gencatan senjata selalu rumit," ungkap Vance, menanggapi insiden drone yang dilaporkan terjadi di wilayah udara Iran.
Ia menambahkan bahwa Washington tetap berpandangan bahwa Iran tidak seharusnya diizinkan untuk memperkaya uranium, serta menegaskan bahwa gencatan senjata yang mencakup Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa upaya mencapai kesepakatan damai masih menghadapi banyak tantangan. Selama ketegangan belum sepenuhnya mereda, harga minyak dunia diperkirakan akan tetap bergerak fluktuatif mengikuti dinamika geopolitik yang terus berkembang.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Daftar 5 Rumah Subsidi Balikpapan Murah 2026 Dekat Kawasan Penyangga IKN Baru
- Sabtu, 11 April 2026
Harga TBS Sawit Kalteng Maret 2026 Naik Usia Produktif Capai Rp3773 per Kg
- Sabtu, 11 April 2026
KUR BRI 2026 Hadir Dengan Struktur Bunga Simulasi Angsuran Syarat Pengajuan
- Sabtu, 11 April 2026
Berita Lainnya
Rekomendasi 5 Rumah Murah di Pati Mulai Rp162 Juta, ini Daftar Lengkap nya
- Jumat, 10 April 2026




.jpg)








