Harga Ayam Hidup Turun Usai Lebaran Peternak Tertekan Akibat Oversupply Pasar
- Selasa, 07 April 2026
JAKARTA - Penurunan harga ayam hidup setelah Lebaran membawa dampak serius bagi para peternak.
Kondisi ini bukan hanya dipicu oleh melemahnya permintaan, tetapi juga akibat melimpahnya pasokan di pasar. Situasi tersebut membuat pelaku usaha di sektor perunggasan harus mengambil langkah antisipatif agar kerugian tidak semakin membesar.
Fenomena ini terjadi di berbagai wilayah, khususnya di Pulau Jawa, yang menjadi sentra produksi ayam nasional. Ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan membuat harga jual di tingkat peternak turun di bawah biaya produksi.
Baca JugaINDEF Sebut Bunga KUR 5 Persen Prabowo Sangat Efektif Bantu UMKM
Harga Turun di Bawah Biaya Produksi
Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam, Sugeng Wahyudi, mengungkapkan bahwa harga ayam hidup di sejumlah daerah mengalami penurunan signifikan.
"Harga ayam hidup di kandang (sebagai perbandingan) pernah mencapai kisaran Rp 25.000 per kg," ungkapnya kepada Kontan, Senin malam.
Saat ini, harga di wilayah Jawa Barat berada di kisaran Rp 19.000 per kilogram, sementara di Jawa Tengah bahkan sedikit lebih rendah. Angka tersebut berada di bawah biaya pokok produksi yang mencapai sekitar Rp 21.000 per kilogram.
Akibatnya, peternak harus menanggung kerugian sekitar Rp 2.000 per kilogram dalam sepekan terakhir. Kondisi ini tentu memberatkan, terutama bagi peternak skala kecil yang memiliki keterbatasan modal.
Oversupply Jadi Penyebab Utama
Menurut Sugeng, penurunan harga ini tidak lepas dari kondisi oversupply yang terjadi pasca-Lebaran. Pasokan ayam hidup yang melimpah tidak diimbangi dengan penyerapan pasar yang optimal.
"Hal ini disebabkan oleh kesiapan kandang yang belum maksimal, efek dari perlambatan serapan ayam hidup di kandang," jelas Sugeng.
Perlambatan ini dipicu oleh libur panjang yang membuat aktivitas pedagang dan rumah potong ayam (RPA) menurun. Akibatnya, distribusi ayam dari kandang ke pasar menjadi terhambat.
Situasi tersebut menyebabkan penumpukan stok di tingkat peternak. Ketika pasokan terus bertambah sementara permintaan belum pulih, harga pun tertekan.
Peternak Tunda Pemeliharaan Ayam
Menghadapi kondisi ini, banyak peternak memilih untuk menunda pemeliharaan ayam baru. Langkah ini diambil sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi pasar yang belum stabil.
Alih-alih terus menambah produksi, peternak lebih berhati-hati dalam mengelola siklus usaha. Penundaan ini diharapkan dapat mengurangi tekanan pasokan dalam beberapa waktu ke depan.
Namun, keputusan tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap keberlanjutan usaha. Jika berlangsung terlalu lama, hal ini dapat memengaruhi produktivitas dan pendapatan peternak secara keseluruhan.
Perlu Koordinasi Antar Pelaku Usaha
Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian berencana mempertemukan para pelaku usaha di sektor perunggasan.
Pertemuan tersebut akan difasilitasi oleh Direktur Jenderal Peternakan melalui Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak. Tujuannya adalah membahas dinamika supply dan demand yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
"Rekomendasi dari Gopan adalah agar secepatnya koordinasi antarpelaku, agar tidak terjadi penurunan harga ke level lebih rendah lagi," pungkas dia.
Langkah koordinasi ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan pasar. Tanpa intervensi yang tepat, harga dikhawatirkan akan terus menurun dan memperparah kondisi peternak.
Harapan Pemulihan Pasar Pasca Lebaran
Meskipun kondisi saat ini cukup menantang, pelaku usaha berharap situasi pasar dapat segera membaik. Normalisasi aktivitas perdagangan setelah libur Lebaran diharapkan mampu meningkatkan permintaan.
Selain itu, distribusi yang kembali lancar juga akan membantu mengurangi penumpukan stok di kandang. Dengan demikian, keseimbangan antara pasokan dan permintaan dapat kembali terjaga.
Ke depan, stabilitas harga menjadi kunci utama bagi keberlanjutan usaha peternakan. Diperlukan sinergi antara peternak, pelaku industri, dan pemerintah untuk memastikan sektor ini tetap bertahan di tengah dinamika pasar.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Berita Lainnya
Strategi McDonald's Indonesia Penuhi Kebutuhan Pelanggan Lewat Paket HeBat Baru
- Rabu, 29 April 2026












